Showing posts with label Arteleri. Show all posts
Showing posts with label Arteleri. Show all posts

Friday, June 17, 2011

Howitzer 105 mm KH-178 TNI

howitzer 105 mm KH-178

Batalyon Artileri Medan 9/ Kostrad (Yonarmed 9) 19 April lalu melakukan uji penembakan meriam Howitzer 105 mm terbaru dari Korea jenis KH-178 di lapangan tembak ASR (Air Shooting Range) TNI AU Pandan Wangi Lumajang Jawa Timur. Pembelian meriam ini merupakan lanjutan dari Kontrak Eksport (KE) pembelian alutsista TNI AD dari Korea.

Pengujian melibatkan beberapa personel dari Pusdikarmed Pussenarmed Kodiklat TNI AD maupun personel dari Yonarmed 9/ Kostrad. Kegiatan penembakan ini telah melalui beberapa rangkaian meliputi : pelatihan operator meriam yang telah dilaksanakan di Yonarmed 9/ Kostrad pada tanggal 16-23 Maret 2011 dan Uji Fungsi meriam KH 178 yang telah selesai dilaksanakan di lapangan tembak Batujajar, Bandung pada 5 April 2011

Menurut Brigjen Agung Gde Suardhana meriam 76 MM yang telah lama digunakan Armed digantikan meriam 105 MM KH 178 buatan Korsel yang lebih mutakhir. Pasukan Armed juga akan mendapat tambahan senjata baru yakni roket WR 40 langusta buatan Polandia.

Meriam 105 mm KH 178 tersebut akan ditempatkan di beberapa Satuan Armed antara lain : Yonarmed 9/ Kostrad, Yonarmed 8/ Kostrad dan Yonarmed 15 Dam II/ Sriwijaya.

Wednesday, May 4, 2011

Langusta WR-40

Langusta WR-40

Langusta WR-40 bisa diproduksi dalam bentuk baru bisa juga upgrade langsung dari BM-21, yang umumnya sudah uzur warisan pembelian eks-Uni Soviet/pakta warsawa.

Upgrade BM-21 ongkosnya sekitar separo dari beli baru WR-40 Langusta. Berpenggerak 6×6 Langusta tangguh dalam cross country, lagian bobot tempurnya berkisar 18-20 ton. Masih feasible untuk topografi alam dan konstruksi jalan di Indonesia. WR-40 bobotnya lebih ringan dari RM-70 karena lebih pendek dan lebih sederhana. RM-70 berpenggerak 8×8 dan memiliki autoloader yang berisi roket suplai yang terletak antara peluncur dan kabin. Jadi jika roket yang ada di dalam tabung launcher telah kosong, bisa secara otomatis diisi kembali dengan roket yang di dalam autoloader secara mekanis. Sedangkan WR-40 untuk pengisian ulang roket ke dalam tabung launcher sepenuhnya manual dari unit kendaraan pendukung yang membawa roket.

Durasi pengisian ulang roket ke dalam 40 tabung peluncur memakan waktu sekitar 7 menit. Langusta bisa diawaki 4 hingga 6 prajurit, bermesin diesel 350 daya kuda Iveco Aifo Cursor 8. Chasisnya menggunakan platfom truk Jelcz P662D.35G-27 6×6. Tekanan angin dalam ban kendaraan dikendalikan secara terpusat dari ruang kabin sehingga mudah disesuaikan dengan kondisi jalan dan medan. Hulu ledak artileri roket umumnya adalah jenis HE-fragmentation dan AP (armour piercing) tetapi bisa juga dimuati ranjau anti personel untuk ditanam ke medan tempur menghambat gerak maju pasukan infanteri lawan.

Hummel 150mm Self-Propelled Howitzer

Hummel 150mm Self-Propelled Howitzer

Pengalaman pasukan Jerman dalam Operation Barbarossa menunjukkan bahwa pasukan Jerman membutuhkan lebih banyak dukungan artileri bagi pasukan tank mereka. Mengingat pasukan tank selalu bergerak dengan dinamis, maka tentu saja dukungan artileri bagi pasukan tersebut tentu saja akan lebih efektif jika dilakukan oleh unit-unit self-propelled gun; sementara pada saat itu pasukan Jerman kekurangan self-propelled gun yang memadai.

Pada tahun 1942 Jerman pun merancang kendaraan tempur artileri yang baru. Semula direncanakan akan menggabungkan howiter IeFH17 kaliber 105mm dengan rangka tank Panzer III. Namun kemudian diputuskan untuk menggunakan senjata yang lebih besar, yaitu howitzer sFH 18 L/30 kaliber 150mm (yang memiliki jarak tembak maksimum lebih dari 13 km). Tetapi senjata yang lebih berat membutuhkan rangka yang lebih kuat pula, dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan rangka Geschutzwagen III/IV (kendaraan yang khusus dicpitakan sebagai rangka self-propelled gun atau tank destroyer. Menggunakan banyak komponen dari Panzer III dan Panzer IV. Rangka kendaraan ini ini juga digunakan oleh tank destroyer Nashorn).

Hummel diawaki oleh enam orang. Selain howitzer kaliber 150mm dengan 18 butir amunisi, self-propelled howitzer ini juga dipersenjatai dengan senapan mesin MG34 kaliber 7,92mm sebagai sarana perlindungan diri. Karena hanya mampu membawa amunisi 150mm dalam jumlah terbatas, unit-unit Hummel bisa diikuti oleh kendaraan pengangkut amunisi. Kendaraan pengangkut amunisi itu sendiri adalah Hummel yang tidak dipersenjatai dan dengan lapisan baja lebih tebal. Tercatat sekitar 714 unit Hummel dan 150 unit kendaraan pengangkut amunisi yang diproduksi pada tahun 1942-1944.

Self-propelled howitzer ini pertama kali digunakan dalam Battle of Kursk dan kemudian digunakan hampir di semua front pertempuran yang melibatkan Jerman. Pasukan Jerman menyukai Hummel karena memiliki ruang yang cukup bagi semua awaknya dan kemampuan mobilitas yang cukup tinggi untuk mengikuti gerak maju pasukan tank.

Setelah Perang Dunia II, Rusia merebut sejumlah Hummel dan menggunakannya hingga akhir tahun 1940-an. Beberapa unit Hummel tersebut kemudian diberikan kepada Rumania dan memperkuat militer Rumania sampai tahun 1954.

Tuesday, April 26, 2011

FLAK-88 Cannon

FLAK-88 Cannon

Flak 88 adalah Meriam Pertahanan Udara Berat yang biasanya digunakan untuk menembak pesawat pada ketinggian. Sejarahnya berhubungan saat perang dunia pertama, dimana meriam2 dengan Muzzle Velocity yang tinggi mencoba menembak jatuh pesawat yang terbang di ketinggian yang tinggi.

Lalu pada awal 1920-an Jerman mengembangkan meriam bersama Bofors-Swedia, lalu jerman mengadopsinya dengan nama Flak18. Flak36 adalah model yang lebih sederhana dari Flak18 dengan Tiga buah laras.

Flak 88 adalah yang pertama kali melihat pertempuran di Spanyol selama Perang Saudara di tahun 1936, di mana ia membuktikan diri tidak hanya baik senjata anti-pesawat tetapi juga pembunuh tank yang ideal karena muzzle velocity yang tinggi dan karma proyektil yang berat. Terbukti Flak 88 merupakan senjata anti-tank yang sangat baik di Perancis pada tahun 1940, terutama terhadap tank berat Prancis B1-Bis Char dan Mk.II Matilda Inggris. Pada waktu ketika sampai di Afrika Utara itu pembunuh tank yang paling ditakuti, yang dapat mengetuk setiap tangki Sekutu pada jarak lebih dari 1000 meter. Ini lagi membuktikan reputasinya di Rusia, di mana itu adalah senjata hanya mampu menghadapi tank Soviet T-34/76 menengah dan KW-1 tank berat, sebelum kedatangan tank Jerman lebih berat. 88mm Flak senjata juga digunakan sebagai artileri medan - misalnya selama Pertempuran Bulge. Satu-satunya masalah dengan 88mm Flak seri itu tinggi dan berat badan, yang memaksa dalam tindakan untuk mengandalkan kekuatan dan jangkauan daripada penyembunyian. Selama perang senjata 88mm Flak seri digunakan selain Angkatan Darat Jerman oleh Italia dan diambil contoh yang sering digunakan oleh Sekutu termasuk US Army pada akhir 1944 di Eropa Barat. Setelah banyak perang 88mm Flak seri senjata yang digunakan oleh banyak negara termasuk bekas Yugoslavia dan Denmark.

Prototipe Flak 18 dikembangkan sejak 1928 oleh Krupp dari Essen bekerjasama dengan Swedia Bofors, tapi masuk produksi setelah Hitler naik berkuasa pada 1933-1934. Itu adalah terpasang pada kereta salib berputar, yang dilakukan oleh dua trailer poros tunggal, yang memungkinkan untuk menjadi cepat turun. Flak 18 telah barel secuil. Berikutnya model Flak 36 pada dasarnya Flak 18 dengan laras multi-bagian dan jenis transportasi baru trailer. Flak 36 diikuti oleh Flak 37, yang merupakan perbaikan Flak 36 dengan sistem pengendalian kebakaran revisi transmisi data, yang membuat senjata lebih cocok untuk statis daripada menggunakan mobile. Flak Flak 36 dan 37 berbeda satu sama lain oleh kereta. Flak 18 adalah diangkut menggunakan trailer ringan (Sonderanhaenger 201) dan lebih ringan dalam transportasi dari model kemudian, yang digunakan oleh 1200kg Sonderanhaenger 202. Ketiga model yang dipertukarkan dan sering Flak 18 barel yang terpasang pada Flak 37 kereta. Juga selama produksi berbagai perubahan diperkenalkan termasuk trailer baru, berbagai kereta api gerbong datar mount (misalnya dan pertahanan pesisir). Pada bulan Agustus tahun 1944, ada beberapa 10.704 Flak 18, 36 dan 37 senjata dalam pelayanan.

Pada tahun 1942, Flak 41 (Geraet 37) diperkenalkan senjata namun jumlah kecil diproduksi oleh Rheinmetall karena probelms teknis awal. Ini adalah senjata rumit dan pengembangan berlanjut sampai 1943. Itu rentan terhadap masalah dengan amunisi, sejak kasus sering macet pada ekstraksi setelah tembak. Dua jenis senapan barel digunakan - tiga dan empat bagian. contoh pertama digunakan di Tunisia, tetapi karena masalah teknis sebagai berikut debut mereka Flak 41 senjata yang digunakan secara eksklusif dalam Jerman, di mana mereka dapat dipelihara dan diservis dengan baik jika diperlukan. Hanya 157 Flak 41 senjata yang digunakan pada Agustus 1944 dan 318 pada Januari 1945. Saat itu berhasil tanpa masalah itu adalah sepotong artileri yang sangat baik dan dari segi teknis ini dipandang sebagai senjata anti-pesawat terbaik Jerman perang.

Model Terakhir Flak 37/41 merupakan kombinasi dari Flak 41 laras senapan dengan Flak 37 kereta, tetapi karena masalah teknis hanya 13 yang diproduksi.

Wednesday, January 19, 2011

Archer Tank Destroyer

Archer Tank Destroyer

Archer adalah tank destroyer buatan pabrik Vickers, Inggris. Menggunakan rangka tank Valentine dan meriam 17 pdr (seperti yang dipasang pada varian Sherman Firefly). Tank destroyer ini digunakan oleh pasukan Inggris mulai akhir tahun 1944 hingga tahun 1948-1949, digunakan dalam Perang Dunia II di front Italia dan Eropa Barat.

Usai Perang Dunia II, Mesir memperoleh sejumlah Archer dari Inggris. Ironisnya, Mesir justru menggunakan Archer untuk menghadapi pasukan gabungan Inggris, Perancis, dan Italia dalam Krisis Suez tahun 1956.
Crew : 4
Armament : 1 x 17 pdr gun (39 rounds)
Length : 6.7m
Width : 2.76m
Height : 2.2.5m
Weight : 15,000 kg
Maximum speed : 32km/h
Range : 140 km

Saturday, January 1, 2011

BM-30 Smerch, Si Penebar Maut

BM-30 Smerch

BM-30 Smerch alias tornado, merupakan peluncur roket dari jenis MLRS atau peluncur roket multi laras, yang awalnya diproduksi untuk digunakan oleh angkatan bersenjata Uni Soviet. Sejak keruntuhan negara Uni Soviet, diperkirakan sekitar 106 unit BM-30 Smerch diwarisi oleh artileri angkatan bersenjata Russia. Di tahun 1996, BM-30 Smerch mulai di ekspor ke negara Kuwait sebanyak 27 unit, kemudian di susul oleh Aljazair yang turut mengimpor sebanyak 18 unit. 

Kabar paling baru adalah pembelian peluncur roket ini oleh India yang berencana akan membeli sebanyak 38 unit pada tahun 2008 dan dilanjutkan lagi pada tahun 2010 sebanyak 24 unit, total dari pembelian tersebut bernilai US$ 750 juta.

Sebenarnya BM-30 Smerch yang mempunyai kode 9K58 ini mempunyai dua komponen utama, yaitu kontainer peluncur roket dan truk peluncur 9A52-2 hasil modifikasi chasis truk MAZ-543M, yang mempunyai panjang 12 m lebar 3.05 m dan tinggi 3.05 m. Sedang untuk kontainer peluncur roket, mempuyai daya tampung 12 tabung roket kaliber 300mm dengan berbagai macam hulu ledak, roket-roket ini mampu meluncur sejauh 70 km hingga 90 km, jika ditembakan secara salvo membutuhkan waktu 38 detik untuk meluncurkan ke 12 roket tersebut. Untuk keperluan operasional peluncuran/penembakan roket BM-30 Smerch hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk persiapan peluncuran dan 2 menit untuk displacement, semua tugas ini hanya dilakukan oleh 3 orang personel.

Saturday, December 4, 2010

MSTA-S

MSTA-S TANK ARTILLERY RUSIA

Rusia adalah salah satu Negara yang mewarisi sebagian besar kekuatan Uni Soviet wajar saja negara ini kerapkali disebut-sebut menyaingi kekuatan negara adidaya Amerika serikat khususnya dalam bidang inovasi militer.

Salah satu contoh inovasi Rusia dalam bidang militer yaitu Tank MSTA-S yang dirancang khusus untuk menggempur kubu pertahanan musuh ataupun pasukan infanteri dengan mengusung canon howitzer caliber 152 mm, niscaya tank ini menjadi momok menakutkan karena mempunyai daya gempur yang sangat dahsyat. Tank MSTA-S ini mulai dioperasikan pada tahun 1989 yang bermarkas di angkatan darat Rusia.

Selain mengusung meriam caliber 152mm, MSTA-S ini dibuat menyerupai dari body dan chassis Tank T-72 dan T-80 sebagai element tempur utamanya. Disamping itu Tank ini di lengkapi dengan Kubah Anti Serangan Udara dan Senapan Mesin anti serangan udara caliber 12,7 mm serta di operasikan secara otomatis dengan menggunakan remote control, bukan itu saja Tank ini dilengkapi dengan granat asap yang memungkinkan tank ini untuk berkamuflase dalam melakukan aksi menghindar musuh dari tembakan. Tak tanggung-tanggung jumlah amunisi yang bisa diangkut dari tank ini sebanyak 50 butir amunisi caliber 152 dan 300 butir amunisi senapan mesin anti serangan udara caliber 12,5.

Tank MSTA-S dapat menembakan berbagai jenis amunisi caliber 152mm seperti - HE-FRAG (high explosive fragmentation), HE-FRAG dengan base gas bleed, selain itu tank ini juga mampu menembakkan amunisi 3RB30 jammer yang mampu menimbulkan radio intereference atau mengganggu komunikasi pihak lawan. Jarak tembak yang dapat dicapai sejauh 22 km dan dapat men-jam frekuensi antara 1,5 sampai 120 KHz pada radius 700 meter.

Meriam yang digunakan pada MSTA-S adalah meriam caliber 152mm 2A64 yang diproduksi oleh Barrikady State Production Association, Volgograd, Rusia, yang juga memproduksi berbagai jenis meriam artileri kaliber besar untuk angkatan darat dan angkatan laut Rusia. Meriam ini memiliki sudut elevasi dari +68 sampai -3 derajat dengan putaran (traverse) 360 derajat.

Selain itu Tank MSTA-S dilengkapi dengan Proyektil Krasnopol dikembangkan oleh KBP Instrument Making Design Bureau, dari Tula, dan dirancang untuk menghancurkan kendaraan tempur dan posisi/basis persenjataan lawan. Dilengkapi dengan inertial mid-course guidance dan semi-active laser homing. Laser seeker diproduksi oleh LOMO dari St Petersburg. Proyektile dapat mencapai jarak efektif antara 3 sampai 20 km, dan menghantam target pada tembakan pertama tanpa registrasi terlebih dahulu. Krasnopol dipandu dengan pemandu laser 1D15 (1D22) dan memiliki 1A35 shot synchronisation system.

Dalam melakukan suatu penembakan Tank MSTA-S di dahului dengan Pemuatan amunisi ke meriam, kemudian dilakukan pergerakan laras untuk melakukan pentargetan ulang yang keseluruhnya dilakukan sepenuhnya secara otomatis, sehinga Tank ini dapat memiliki kemampuan menembak dengan rata-rata 8 butir amunisi per menit. Satu kali penembakan yang terdiri dari 8 unit MSTA-S dapat memuntahkan proyektil seberat 3 ton kedaerah target dalam waktu satu menit. Sistem kendali lintasan peluru dikoordinasikan dengan sistem kendali penembakan yang terdapat pada kendaraan. Semua amunisi didalam kendaraan dimuat didalam kubah penyimpanan dan dilakukan secara Auto Loader yang bergerak secara otomatis sehingga memungkinkan pemuatan kembali amunisi kedalam meriam tanpa harus menunggu meriam kembali pada posisi pemuatan seperti pada normalnya meriam artileri. Selain menggunakan system auto loader Mekanisme pemuatan secara normal juga tersedia.

Sehingga yang perlu dilakukan oleh setiap personil penembak adalah untuk menjaga posisi pembidikan (panoramic sight) pada titik lintasannya. Komandan meriam juga dapat melakukan pengendalian atas penembakan dan pengendalian peralatan lainnya dan sisanya mendistribusikan peluru yang akan siap di tembakkan.

Rancangan rak amunisi juga memungkinkan untuk meletakan jenis amunisi yang berbeda jenis pada rak yang sama. Mekanisme pemuatan amunisi secara otomatis dapat di lakukan oleh komandan selaku pengendali tembakan akan memilih jenis amunisi yang akan dimuat ke kamar peluru. Selongsong peluru yang sudah terpakai akan dilotarkan secara otomatis untuk mengurangi jumlah gas buang yang ditimbulkan didalam kubah.

Terdapat konveyor yang terpisah dibelakang kubah untuk pemuatan bekal ulang amunisi dari luar kendaraan. Sebelum howitzer mulai berhenti menembak, konveyor proyektil akan berada pada posisi terlipat pada tempatnya dibagian luar kubah, dan konveyor untuk charge (isian amunisi) terlipat didalam turret.

Untuk menunjang daya gerak Tank MSTA-s ini di gerakan dengan mesin 2S19 liquid-cooled, direct injleh mection dan mixed supercharge. Berkecepatan tinggi, 4-putaran, dapat menggunakan berbagai jenis bahan bakar (multi-fuel) dan menghasilkan tenaga maksimum 574 sampai 617 kW (780 sampai 840 tenaga kuda). Kecepatan melintas dijalan raya 60km/jam dengan jarak tempuh 500 km.

Nah, inilah gambaran mengenai Tank MSTA-S yang sangat di banggakan AD Russia dalam menunjang daya gempur Angkatan darat rusia dalam melahap setiap lawannya. Selain itu Tank semacam ini juga memiliki varian baru yang sama persis tetapi beda caliber seperti pada ; 2S19M dengan sistem kendali penembakan dengan komputer dan 2S19M1 dengan caliber 155mm stadar NATO.

ARCHER MOBILE ARTILERY SYSTEM

"ARCHER MOBILE ARTILERY SYSTEM" SI PEMANAH HASIL KERJA SAMA SWEDIA DAN NORWEGIA

Archer adalah sebuah teknologi Mobile artillery baru , yang merupakan proyek bersama antara Swedia dan Norwegia FMV mitra FLO yang di harapkan kedepan pembangunan prototype ini akan selesai pada bulan September 2009 dengan memakan biaya hampir melebihi $70 juta untuk menyelesaikannya.

Dalam Pembuatan “Archer” prinsip penggunaan sistemnya sepenuhnya digerakkan secara otomatis termasuk meriam howitzer 155 mm/L52 yang dikendalikan Remote control yang terpasang di ruang Kendali . body Archer di buat dengan menggunakan Volvo 6x6 Dumper chassis yang di modifikasi sedemikian rupa mulai dari autoloader maupun control sensor tembakan yang memungkinkan keakurasian tembakan.

Berbicara masalah daya gempur “Archer” di lengkapi dengan proyektile GPS Excalibur yang akan memberikan tingkat kapabilitas daya gempur dan membantu memantapkan Nordic pertempuran, tak tanggung-tanggung sebuah “Archer” mampu menembakkan 20 proyektile hanya dalam 2,5 menit dengan jarak jangkau tembakan maksimal 60 km.

Untuk system pengerak artillery ini di sokong oleh Volvo D12A340 12.6 liter 6 cylinder turbo diesel 340 HP yang mampu melesat dengan kecepatan 70 meter /jam dan artillery Archer ini mampu di kendalikan atau di operasikan hanya dengan dua orang saja ( 1 sopir & 1 operator).

Berikut karakteristik lengkap dari si Pemanah hasil kerjasama Norwegia dan Swedia :

Specifications
Weight 30 tonnes
Length 14.1 meters
Width 3.0 meters
Height 3.3-3.9 meters
Crew 4 (1 driver, 3 operators)
Primary
armament Haubits L52 155mm FH77
Secondary
armament BAE Systems AB Remote Weapons Station
Engine
340 hp
Operational
range ~500 km
Speed 70 km/h

* Length: 14.1 metres
* Width: 3.0 metres
* Height: 3.3 - 3.9 metres
* Weight: 30 tonnes
* Speed: 70 km/h
* Range: ~500 km
* Crew: 4 (1 driver, 3 operators) or 2 (1 driver and 1 operator) in case of emergencies
* Armament: 155 mm/L52 gun howitzer
* Rate of fire: 8-9 rounds/min with MRSI (Multiple Round Simultaneous Impact) capability, which means that several shells are released in succession but hit the target simultaneously.
* Range (of artillery fire): 30 km with standard shells, 40 km with base-bleed, 60 km with Excalibur
* Protection level: 7.62 AP, Mines 6 kg (Level 2 STANAG 4569)
* Emergency driving: all wheels - emergency driving equipment (Hutchinson AMVFI) makes it possible to drive with all wheels punctured; it also provides greater protection if the vehicle hits a blast-pressure mine - the same system is used on the all-terrain vehicle Sisu.

THOR

THOR MOBILE WAR MACHINE INGGRIS

Inggris adalah Salah satu negara yang merespon ancaman dan tantangan itu salah satunya adalah Pembuatan mobile tempur THOR dimana mampu di gunakan dengan cepat serta dapat di operasikan dengan mudah baik dari segi taktis ataupun teknis dan dapat di fungsikan dalam peperangan terbuka ataupun melawan ancaman teroris.

THOR terdiri dari empat system rudal yang terpasang di menara, tujuan dari penempatan tersebut adalah mempermudah perhitungan integral selain itu mampu memberikan sistem pengamatan yang stabil, THOR juga di lengkapi dengan kemampuan kamera TV yang di rancang khusus, termasuk kamera termal dan Sensor generasi terbaru yang telah dirancang untuk mendeteksi target dan memudahkan Tracker target ini berfungsi untuk memastikan target yang yang di tuju pada proses pelacakan target. Fitur peluncur di desain sedemikian rupa dengan berat kurang 500kg, dengan demikian THOR dapat mentraking berbagai kendaraan beroda atau melakukan pelacakan target secara konvensional.

Berbicara masalah daya gempur THOR tidak di ragukan lagi, dengan mengusung arsitektur system terbuka penuh dan terletak diatas memungkinkan mampu mensuport berbagai rudal seperti rudal anti baja dan rudal utama seperti Starstreak yang bisa di bilang unik, rudal ini di lengkapi dengan laser serta multi peluru kendali, rudal startrek ini dapat melesat dengan kecepatan Mach 3 dengan jarak jangkau sejauh 6 km, rudal strartek ini lebih di utamakan dalam memberikan perlawanan atau defence anti aircraft missile, pada ujicoba yang sudah di lakukan system ini telah berhasil menunjukan kemajuan yang signifikan dalam penargetan ataupun akurasi tembakan.

Dalam Pengoperasiannya Thor tergolong mudah dalam setiap operasinya thor dapat di kendalikan oleh dua orang saja satu komandan dan satu operator. Thor ini juga dapat di sesuaikan dengan medan pertempuran, selain itu THOR juga dapat di hubungkan dengan system radar yang baik pasif ataupun otomatis sensor.

PZA (Przeciw Lotniczy Zestaw Artyleryjski)

PZA LOARA ANTI AIRCRAFT ARTILLERY SYSTEM

Sudah menjadi fakta umum bahwa banyak negara kedua kini memiliki industri sistem senjata, yang jika disimak ternyata hasilnya jiplakan produk serupa dari negara lain. Polandia, misalnya, sebagai mantan anggota Pakta Warsawa, memiliki industri kemiliteran dengan mayoritas produk bisa dikatakan tiruan atau hasil pengembangan dari sista buatan Rusia.

Salah satu diantara yang cukup dikenal adalah adalah PZA (Przeciwlotniczy Zetsaw Artyleryjski, sista artileri pertahanan udara) Laora. Artileri pertahanan udara hasil pengembangan dasawarsa 1990-an ini mirip Gepard, produk kerja bareng Krauss Maffei-Porsche (untuk sasis), Siemens-Hollandsche Signallapparaten (radar) dan Oerlikon-Contraves AG (modul senjata).

Begitu pun, Laora tidaklah murni buatan Polandia. Oerlikon-Contraves AG (Swiss) menyuplai kanon multilaras, sementara Siemens AG (Jerman) menyiapkan sistem radar penjejaknya. Dikolaborasikan dengan industri lokal Bumar Labedy sebagai penyedia sasis, Radwar untuk urusan radar penjejak dan Huta Stalowa Wola yang secara khusus menangani modul senjata produk lisensi Oerlikon-Contraves AG. Singkat kata, jadilah PZA Laora.

Perusahaan-perusahaan itu digandeng karena Polandia menyakini sista arhanud semacam ini memiliki potensi pasar menggiurkan. Apalagi karena di dalam negeri sista semacam Laora pun amat dibutuhkan. Petinggi militer Polandia rupanya menyadari bahwa primadona perang modern saat ini adalah kekuatan udara, yang mana untuk itu diperlukan sista arhanud yang andal dan bermobilitas tinggi.

Sasis
Sebagai pengusung modul senjata seberat total 675 kg dipilih tank PT (Polska Tank)-91 Twardy yang telah dimodifikasi. Induk PT-91 tak lain tank T-72M1 buatan Uni Soviet. PT-91 adalah buah karya biro perancang OBRUM (Osrodek Badawczo-Rozwojowy Urzadzen Mechanicznych, pusat litbang sistem mekanik) pada 1991. Bumar Labedy menangani urusan produksi massalnya.

Laju PT-91 digerakan mesin diesel tipe S12-U berdaya 850 PK (setara 630 kilo Watt). Tenaga sebesar ini diklaim lebih kuat ketimbang mesin asli yang dipakai pada T-72 M1. Namun karena para petinggi AD Polandia masih kurang sreg dengan kinerja lintas medan PT-91, empat tahun kemudian diluncurkan PT-91A dengan mesin penggerak tipe S-1000 bertenaga 1.000 PK (setara 740 kilo Watt).

Berkat mesin terbarunya itu, tank PT-91 mampu menjelajah jalan raya dengan kecepatan maksimum 60 km per jam hingga sejauh 650 km.

Dikendalikan tiga awak (komandan, pengemudi, juru senjata), tampilan PT-91 cukup sangar. Betapa tidak. Aura bengis akan tersorot dari bobotnya 43,5 ton dan dimensinya dengan panjang 6,67 m, lebar 3,42 m dan tinggi 2,19 m.

Modul senjata
Sebagai senjata pamungkas dipilih kanon berlaras ganda jenis KDA kaliber 35 mm lansiran Huta Stalowa Wola. Aslinya, kanon berkecepatan tembak 550 butir peluru/menit ini buatan Oerlikon-Contraves AG. Kabarnya ia mampu menggasak segala jenis obyek dirgantara yang terbang pada ketingggian 4.000 m dengan kecepatan 1.800 km/jam. Jika perlu kanon KDA dapat pula dipakai menghajar sasaran di darat atau di laut hingga sejauh 3.000 m.

Daya jangkau senjata ini akan bertambah tatkala ia memakai amunisi jenis FAPDS sehingga mampu menggasak sasaran di udara setinggi 6.000 m dan sasaran di darat sejauh 4.000 m.

Panjang tiap laras terpasang kanon KDA 3,15 m. Ia memang dipersiapkan untuk dapat menembakkan beragam jenis amunisi dengan kecepatan hambur awal (muzzle velocity) 4.986 km/jam. Jenis amunisinya mulai dari APDS, FAPDS hingga AHEAD. Tiap laras dibekali 200 butir peluru berbagai tipe untuk arhanud dan 20 peluru untuk menghantam sasaran di darat. Tiap peluru berbobot 1,46-1,56 kg dengan panjang 370-387 mm tergantung jenisnya.

Guna mengantisipasi datangnya serangan dari pasukan infanteri, pada kubah modul senjata utama dipasang senapan mesin ringan jenis PKT kaliber 7,62 mm dan tiga pasang tabung pelontar granat asap. Tak ketinggalan perangkat khusus guna menghadapi perang nuklir-biologi-kimia (nubika).

Kendali penembakan
Perangkat sensor kendali penembakan PZA Loara meliputi radar penjejak sasaran buatan Siemens AG (dipasang di depan kubah senjata), kamera jarak jauh berpanduan sinar infra merah, kamera TV dan alat penentu jarak sasaran berpanduan sinar laser. Berkat seabrek perlengkapan ini, Loara dapat beroperasi dengan efektif di segala kondisi cuaca baik siang maupun malam.

Selain sensor, sista arhanud juga dibekali radar pemerangkap sasaran multisinar tiga dimensi buatan Radwar yang dipasang di belakang kubah senjata. Radar ini mampu mendeteksi keberadaan calon sasaran pada ketinggian 26.000 m (di udara) atau sejauh 6.000 m (di darat) dengan sudut dongak piringan radar hingga 55 derajat.

Dalam perjalanan, piringan radar dapat dilipat merapat pada kubah senjata. Data teknis (terkait sasaran) yang dimiliki radar ini selalu diperbaharui setiap saat hingga ia dapat mengendus sekaligus 64 obyek calon sasaran tembak.

Tuesday, November 23, 2010

Meriam FH 2000 TNI

Meriam FH 2000

FH-2000 (Field Howitzer 2000) adalah meriam Howitzer berkaliber 155mm/52 yang dapat ditarik/gandeng menggunakan kendaraan angkut berat, meriam ini dikembangkan oleh Singapore Technologies (ST) untuk kebutuhan AD Singapura.

Jarak tembak maksimum meriam ini mencapai 42 kilometer menggunakan amunisi khusus, uji coba lapangan pertama dilakukan di New Zealand. Pengoperasian meriam diawaki oleh 8 personel dan menggunakan mesin Diesel berdaya 75 hp untuk menggerakkan meriam secara mandiri (self propelled) dengan kecepatan 10 Km/jam tanpa perlu ditarik kendaraan pengangkut.

Meriam ini pernah ditawarkan untuk di ekspor kebeberapa negara, dan TNI mengakuisisinya sebanyak 6 meriam Howitzer FH-2000. Saat ini meriam-artileri tersebut ditempatkan di Resimen II Artileri Medan (Armed)/ 

Desain

Saat Howitzer digunakan platform pendukung penembakan me
nggunakan struktur tripod mekanis. Beban tembakan di transmit ke permukaan tanah melalui tripod ini, isolasi silinder hidrolik dari platform ini cukup handal untuk digunakan.
FH2000 juga dapat mengaplikasi serangkaian sistem pengamatan optik ke elektro-optik. Sistem pengamatan ini bisa dihubungkan kedalam kontrol penembakan di komputeri.

Di bagian belakang
meriam menggunakan mekanisme semi-otomatis, bagian ini terbuka secara otomatis selama counter recoil digunakan. Kontrol elektronik dan hidrolik power mendorong ceklikan ram proyektil masuk ke ruang barel dengan konsistensi tinggi.
 

ZSU-23/4

ZSU-23/4 ALTILERI ANTI SERANGAN UDARA TAKTIS, SI PEMANGSA PESAWAT MUSUH

Secara umum, artileri merupakan sebutan untuk kesenjataan, pengetahuan kesenjataan, pasukan serta persenjataannya sendiri yang berupa senjata-senjata berat jarak jauh.

Pada awalnya, istilah artileri (bahasa Perancis: artillerie) digunakan untuk menyebut alat berat apapun yang menembakkan proyektil di medan perang. Istilah ini juga dipakai untuk mendeskripsikan tentara yang tugasnya menjalankan alat-alat tersebut. Dengan ditemukannya kendaraan terbang pada awal abad ke-20, artileri mulai digunakan juga untuk menyebut senjata darat anti-udara.

Dalam pengertian TNI-AD, senjata artileri meliputi Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) dan Artileri Medan (Armed). Termasuk dalam Arhanud adalah meriam dan peluru kendali anti pesawat udara. Sedangkan Armed terdiri dari meriam, howitzer, mortir berat dan roket.

Sejarah artileri Modern
Pada awal abad ke-20, senjata infanteri sudah semakin kuat dan akurat, membuat artileri harus dijauhkan dari garis depan medan perang. Perubahan kepada tembakan tidak langsung ini ternyata tetap efektif pada Perang Dunia I, menyebabkan 75% dari jumlah semua kematian. Karena adanya peperangan parit pada awal Perang Dunia I, howitzer semakin banyak dipakai, karena howitzer menembak dengan sudut yang tinggi, cocok untuk mengenai target di dalam parit

Selain itu, pelurunya juga dapat berisi bahan peledak dengan jumlah lebih banyak. Jerman menyadari hal ini dan memulai perang dengan howitzer yang lebih banyak dari Perancis. Perang Dunia I juga ditandai dengan adanya Meriam Paris, meriam terjauh yang pernah ditembakkan. Meriam berkaliber 200 mm ini digunakan Jerman untuk menembak ke Paris, dan mampu menembak ke target yang jauhnya 122 km.

Perang Dunia II mencetuskan perkembangan baru dalam teknologi meriam, antara lain peluru sabot, proyektil bahan peledak hampa, dan sumbu berjarak, semuanya cukup penting. Sumbu berjarak mulai dipakai di medan perang Eropa pada akhir Desember 1944. Teknologi ini kemudian dikenal sebagai "hadiah Natal" untuk tentara Jerman, dan banyak dipakai di Pertempuran Bulge. Sumbu berjarak efektif dipakai melawan infanteri Jerman di ruang terbuka, dan digunakan untuk menghentikan serangan.

Teknologi ini juga dipakai pada proyektil anti pesawat, dan digunakan di medan perang Eropa dan Pasifik untuk menghadapi peluru kendali V-1 dan pesawat kamikaze. Meriam anti tank dan meriam tank juga sangat berkembang pada perang ini. Misalnya, Panzer III yang awalnya dirancang untuk menggunakan meriam 37 mm, diproduksi dengan meriam 50 mm. Pada tahun 1944, KwK 43 8,8 cm—dan berbagai variasinya—mulai dipakai oleh Wehrmacht, dan digunakan sebagai meriam tank dan meriam anti tank PaK 43. Meriam ini menjadi salah satu meriam paling kuat pada Perang Dunia II, yang mampu menghancurkan tank Sekutu apapun dari jarak jauh.

Salah satu yang paling populer dalam alteleri dan pertahanan anti serangan udara adalah penggunaan ZSU-23/4 (SPAAG) yang dimana dalam inovasinya terus di kembangkan sistem baik dari sistem dinamik maupun radar system.

ZSU-23/4 adalah Salah satu contoh proyek yang dihasilkan oleh Ulyanovsk Mechanical Plant di Rusia. upgrade mencakup RPK-2 radar berbasis yang mengintegrasikan kontrol yang memudahkan dalam melakukan serangan kepada target pesawat musuh. Sistem ZSU -23 ini dilengkapi dengan peralatan canggih lainnya mulai dari sistem digital yang terhubung ke komputer remote surveilans sumber data dan penargetan. Yang lainnya termasuk sensor ptik, yang memungkinkan sistem untuk melakukan searching target diluar radaar. Varian terbaru dari ZSU-23 ini adalah Igla (SA-18) missiles, di ZSU-23-4M5 dan penggantian yang quad dengan senapan kembar barel Tulamashzavod 2A38M 30mm cannons (juga digunakan dalam 2S6M Tungushka). ZM Tranow dari Polandia, yang menghasilkan dua barel ZSU-23-2 di bawah lisensi yang terpasang pada sistem 2S1 howitzer chassis, terintegrasi dengan empat moncong tembakan remote kontrol Grom ringan anti missiles pesawat terbang .

ZSU-23 / 4 Shilka juga mendapat tambahan sistem kontrol untuk menunjang daya tembakan yang terintegrasi dan terpadu dengan di lengkapi multi-Sensor yang di dikembangkan secara bersama antara perusahaan India Barat Dynamics dan Israel Aerospace Industrie's MBT.

Kendaraan tempur yang telah dimodernisasi ditampilkan di pada acara Aero India, pada varian terbaru dipasang dengan 359 BHP Caterpillar utama mesin diesel serta alas-mount radar, thermal imager, pengindaraan malam hari dan laser rangefinder yang memungkinkan kendaraan yang beroperasi secara pasif atau 'emitting 'Mode pencarian.

Radar ZSU-23 / 4 mampu mendeteksi target pada kisaran 15km dan mampu mengunci target pada jarak 9 km. Sensor pasif optronic dapat beroperasi secara independen dari radar yang mendeteksi dan melacak target udara sepanjang 8 km. Empat 23mm senjata yang efektif dalam kisaran 2.500 meter dengan ketinggian 1.500 meter. Kendaraan tempur ZSU-23 ini dipasang dengan dua operator konsol, di samping itu terdapat satu unit sistem pelacakan target secara spesifik serta nantinya akan di lengkapi dengan persenjataan berupa roket. Sistem ini diharapkan kedepan mampu menjawab sisi defence dalam upaya pencegahan dan momok yang menakutkan bagi pesawat tempur musuh .

Meriam L 70 / 40mm TNI

Meriam L 70 / 40mm

Adalah meriam buatan Swedia tahun 1960. Meriam ini dapat di operasikan dalam mode otomatis penuh, semi otomatis dan mode manual. Sampai saat ini meriam ini menjadi senjata andalan batalion - batalion ARHANUD Ringan di TNI AD.

KARATERISTIK

Kendaraan

Panjang : 8240 mm
Lebar : 2600 mm
Tinggi : 3580 mm

Jarak deteksi : < 8 km
jarak deteksi otomatis : 7 Km
Daerah operasi laser : 500 - 800 m

Meriam 23 mm / Giant Bow TNI

Meriam 23 mm / Giant Bow

Adalah senjata buatan China tahun 2000, terdiri atas meriam 23 mm / GB dan kendaraan BCV ( Battery Command Vehicle ). Meriam 23 mm / GB merupakan kategori Twin Gun karena memiliki laras ganda kaliber kecil. Senjata ini merupakan senjata efektif untuk melawan sasaran udara yang terbang rendah serta memberikan aplikasi pengoprasian pertahanan udara dengan mobilitas tinggi.

Meriam ini dapat di operasikan dalam tiga mode yakni Mode otomatis penuh ( dikendalikan secara penuh dan otomatis melalui BCV )

yang kedua adalah mode semi otomatis ( Di kendalikan dengan dukungan tenaga listrik dari baterai yang di miliki meriam itu sendiri.
yang ketiga adalah mode manual yaitu di kendalikan oleh awak meriam.
Kendaraan BCV bukan hanya sebagai sistem komando namun merupakan FCS ( Firing Control System ) dari senjata meriam 23 mm / GB.

KARAKTERISTIK
Kaliber : 23 mm
Jumlah laras : 2 Buah
Kecepatan awal : 970 m/detik
Jarak Maksimal Vertical : 1500 m
Jarak Masksimal Horizontal : 2000 m
Rata- rata tembakan ( 2 Laras ) : 600 - 2000 butir / menit
Berat Total : 1250 Kg ( termasuk Kotak Amunisi, isinya dan terpal meriam )

Meriam Rheinmetal 20mm TNI

Meriam Rheinmetal 20mm

Rheinmetal MK 20 Rh 202 adalah meriam otomatis dengan kaliber 20 mm yang dirancang dan diproduksi oleh Rheinmetall. Di kesatuan - kesatuan TNI meriam ini banyak di gunakan oleh kesatuan ARHANUD TNI AD untuk menangkal serangan udara. Namun meriam ini juga banyak di gunakan di Kapal - kapal Perang atau KRI milik TNI AL.

SPESIFIKASI

* Tipe: Double-barrel automatic cannon
* Kaliber: 20 mm x 139 mm
* Operasi: operasi gas
* Panjang: 2,61 m)
* Berat (komplit): 75 kg single feed; 83 kg dual feed
* Rate of fire: 1000 rpm
* Muzzle velocity: 1050 to 1150 m/s
* Berat Proyektil: 134 g

HOWITSER MK 61 TNI

HOWITSER MK 61

Howitser MK 61 adalah alutsista jenis howitser gerak sendiri. Howitser MK 61 menggunakan wahana pengusung sasis tank ringan AMX 13.
Howitser MK 61 di datangkan TNI pada medio 1970 - an .Pada saat ini ada 2 satuan Armed TNI AD yang masih menjagokanya yaitu :

1. Batalyon Armed 5/ 105 GS Parahayangan yang berada di bawah panji Kodam III siliwangi dan berbasis di Cimahi.
2. Batalyon Armed 7/105 Gs Biring Galih yang berada di bawah panji Kodam jaya yang bermarkas di cikiwul bekasi.

seluruh bagian karoseri badan dan kubah senjata MK 61 tersusun dari rangkaian lempengan baja dengan ketebalan beragam.Untuk bagian depan ( hull front ) ketebalanya 15-40 mm, kedua dinding badan sebelah kiri dan kanan ( hull sides ) 20 mm, atap badan 10 mm, dan bagian belakang 15 mm, untuk mengurangi efek hancur dari ledakan ranjau darat maka bagian perut MK 61 di susun dengan baja ketebalan 10-20 mm. Kubah senjata MK 61 juga di susun dari lempengan baja bervariasi , ketebalan bagian depan dan samping sekitar 20 mm, sedangkan bagian atap dan belakang masing - masing 15 dan 10 mm.

SENJATA:

Senjata utama Mk 61 berupa sepucuk howitser M1950 kaliber 105 mm, Laras M1950 dapat menunduk hingga 4 derajat, mendongak hingga sudut 66 derajat , " menoleh " ke kiri maupun ke kanan hingga 20 derajat.MK 61 memiliki 2 jenis amunisi yakni :

1. HE ( high Explosive ) bobot 16 Kg , kecepatan lesat awal 670 m/ s, jangkauan maksimum 15 Km
2. HEAT ( High Explosive Anti Tank ) bobot 16 Kg, Kecepatan lesat awal 700 m/s , jangkauan maksimum 15 Km.

kaliber meriam : 105 mm
berat total : 13,7 Ton
sistem suspensi : sistem jajaran torsi ( torsion bar )
panjang kendaraan : 5,7 meter
Lebar kendaraan : 2, 65 Meter
Tinggi kendaraan : 2,7 Meter
mesin : Mesin 8 silinder tipe 8 Gxb berpendingin air buatan SOFAM
kecepatan : 60 Km/jam