Showing posts with label Pesawat Pengintai. Show all posts
Showing posts with label Pesawat Pengintai. Show all posts

Saturday, October 15, 2011

SR-71 BLACKBIRD

SR-71BLACKBIRD

Lockheed SR-71 adalah sebuah pesawat pengintai strategis jarak jauh berkecepatan Mach 3 yang berawal dari pesawat model A-12 dan YF-12 yang dibuat oleh Lockheed Skunk Works. SR-71 secara tidak resmi dijuluki ‘Blackbird’ dan dipanggil Habu (nama ular) oleh para awak penerbangnya. Clarence “Kelly” Johnson bertanggung jawab atas berbagai inovasi di konsep desain pesawat canggih ini. Keungulan dalam pertahanan pesawat ini adalah kecepatan terbang dan tingginya daya jelajah, dimana jika sebuah peluru kendali darat ke udara terdeteksi, tindak pengelakan yang standar adalah menambah kecepatan. Tipe SR-71 digunakan antara 1964 sampai 1998, dimana 12 dari 32 pesawat rusak akibat berbagai kecelakaan, tetapi tidak satupun hilang ketangan musuh.

Specifications (SR-71A)

Data from SR-71.org[67]
General characteristics
• Crew: 2
• Payload: 3,500 lb (1,600 kg) of sensors
• Length: 107 ft 5 in (32.74 m)
• Wingspan: 55 ft 7 in (16.94 m)
• Height: 18 ft 6 in (5.64 m)
• Wing area: 1,800 ft2 (170 m2)
• Empty weight: 67,500 lb (30,600 kg)
• Loaded weight: 170,000 lb (77,000 kg)
• Max takeoff weight: 172,000 lb (78,000 kg)
• Powerplant: 2× Pratt & Whitney J58-1 continuous-bleed afterburning turbojets, 32,500 lbf (145 kN) each
• Wheel track: 16 ft 8 in (5.08 m)
• Wheel base: 37 ft 10 in (11.53 m)
• Aspect ratio: 1.7
Performance
• Maximum speed: Mach 3.2+ (2,200+ mph, 3,530+ km/h, 1,900+ knots) at 80,000 ft (24,000 m)
• Range: 2,900 nmi (5,400 km)
• Ferry range: 3,200 nmi (5,925 km)
• Service ceiling: 85,000 ft (25,900 m)
• Rate of climb: 11,810 ft/min (60 m/s)
• Wing loading: 94 lb/ft² (460 kg/m²)
• Thrust/weight: 0.382

Sunday, September 4, 2011

Gannet TNI-AL

Gannet TNI-AL

Dengan luas wilayah laut yang begitu luas, ironis bagi kekuatan angkatan laut Indonesia yang saat ini tak memiliki satuan pesawat AKS (anti kapal selam). Walau ada Boeing 737 surveillance, N22 Nomad dan CN-235 MPA (maritim patrol aircraft), kedua pesawat tadi hanya sebatas mampu melakukan fungsi pengintaian, tanpa bisa melakukan aksi tindakan bila ada ancaman kapal selam. Maklum Boeing 737, Nomad dan CN-235 MPA tidak dibekali senjata ke permukaan.

Tambah miris lagi perasaan kita, justru negeri tetangga – Thailand, Filipina dan Singapura kini punya armada pesawat AKS (anti kapal selam), yakni Fokker F-27 Enforcer yang dirancang bisa menggotong rudal Harpoon, AM39 Exocet dan Sea Skua. Hakikatnya pesawat AKS adalah pesawat pengintai maritim juga yang dilengkapi radar dan sensor untuk mendeteksi obyek di permukaan dan bawah laut. Tapi ada peran yang ditambahkan dari pesawat intai maritim biasa, yakni kemampuan aksi untuk menghancurkan keberadaan kapal selam.

Sedikit mengintip ke sejarah masa lampau, TNI-AL lewat korps Penerbal (Penerbangan Angkatan Laut) pernah memiliki armada pesawat AKS buatan Inggris. Pesawat yang dimaksud adalah Fairey Gannet. Pesawat ini sangat khas, pertama karena sosoknya yang terlihat tambun dan kedua, Gannet punya dua bilah baling-baling yang sejajar di bagian hidung. Dua bilah baling-baling ini berputar saling berlawanan arah. Masuknya pesawat AKS jenis Ganet ke jajaran TNI-AL diawali dengan kontrak pembelian pesawat Gannet tipe AS-4 dan T-5 oleh KSAL dengan pihak Fairey Aviation Ltd (Inggris) pada tanggal 27 Januari 1959 di Jakarta.

Sebagai pesawat AKS, Gannet dirancang untuk bisa beroperasi dari landasan kapal induk, untuk itu sayap Gannet dapat dilipat dan untuk pendaratan dilengkapi pengait. Gannet yang dirancang pasca perang dunia kedua (1955) dioperasikan oleh empat negara, yakni Inggris, Indonesia, Australia dan Jerman. TNI-AL sendiri menempatkan satuan Gannet dalam skadron 100 AKS sebagai bagian dari kampanye operasi Trikora. Untuk ’mengganyang’ kapal selam musuh, Gannet dibekali kemampuan membawa dua unit torpedo yang ditempatkan dalam bomb bay. Serta tak ketinggalan peluncur roket dibawah kedua sayap.

Namun disebabkan insiden jatuhnya beberapa Gannet, pesawat ini tak dioperasikan dalam waktu lama karena sistem avionik yang kurang baik. Alhasil nasib Gannet keburu di grounded di semua negara. Jejak rekam sejarah pesawat tambun dengan tiga awak ini bisa dijumpai sebagai monumen di museum Satria Mandala, Jakarta dan Lanunal Juanda, Surabaya. Kedepan mudah-mudahan TNI-AL bisa memiliki pesawat AKS modern, dengan begitu pastinya lawan pun akan segan pada negeri ini

Spesifikasi
Pembuat : Fairey Aviation, UK
Awak : 3
Mesin : 1× Armstrong Siddeley Double Mamba ASMD.4 turboprop, 3,875 hp (2,890 kW)
Kecepatan : 402 Km/jam
Jarak Operasi : 1127 Km
Endurance terbang : 5 – 6 jam

Wednesday, February 2, 2011

CN -212-200 PATMAR

CN -212-200 PATMAR

CN - 212 -200 PATMAR adalah pesawat terbang buatan PT.DI ( Dirgantara Indonesia ). Rencananya TNI AL hendak mengganti pesawat nomad dengan pesawat SKYTRUCK dari Polandia, namun karena untuk mendukung kebijakan pemerintah Indonesia untuk kemandirian Alutsista TNI maka proyek pembelian pesawat SKYTRUCK di alihkan ke CN 212-200.

Pesawat CN 212-200 Patmar ini di lengkapi dengan berbagai peralatan SURVEILLANCE yang lebih canggih salah satunya adalah FORWARD LOOKING INFRARED ( FLIR ).

Pesawat CN - 212-200 Patmar juga di lengkapi radar Thomson CFS buatan perancis yang mampu mendeteksi keberadaan kapal lain dari jarak 120 Mil dari udara. Peralatan yang bisa ber putar 360 derajat ini di pasang di bawah moncong pesawat . Salah satu ciri khas pesawat CN 212-200 Patmar adalah moncong berwarna hitam yang juga merupakan tempat di pasangnya perangkat radar OCEAN MASTER 100.

Tuesday, October 26, 2010

U-2 Dragon Lady

Lockheed
U-2 Dragon Lady
Tactical Reconnaissance

DESKRIPSI

Pesawat Pengintai U-2 awalnya dikembangkan oleh divisi “Skunkworks” Lockheed secara rahasia. Pesawat baru revolusioner ini diharapkan sebagai pesawat pengintai high-altitude untuk Central Intelligence Agency (CIA) dan AU AS. Lambang “U”, biasanya digunakan untuk pesawat dengan kegunaan yang tidak membahayakan (innocuous utility aircraft), digunakan sebagai bagian dari sebuah kampanye untuk menjaga pesawat sebagai misteri dari “prying eyes”.
Dengan tujuan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari U-2, skuadron operasional pertama secara resmi disebut dengan sebuah unit “Weather Reconnaissance" yang dioperasikan oleh NASA. Dua skuadron pertama berbasis di Jepang, Jerman atau Inggris, dari sini pesawat terbang untuk berbagai misi di Uni Soviet, Cina, Vietnam, dan Timur Tengah. U-2 juga membuktikan keberadaan misil nuklir pada 1962 di Kuba yang menyebabkan “Cuban Missile Crisis”.
Dunia tidak mengetahui tentang U-2 hingga 1 Mei 1960 ketika sebuah U-2 yang diterbangkan oleh Francis Gary Powers tertembak di Uni Soviet. Walaupun sang pilot akhirnya dapat kembali melalui pertukaran dengan mata-mata Soviet yang tertangkap, U-2 tidak pernah memasuki wilayah udara Uni Soviet lagi.
Keausan pesawat ternyata terlalu tinggi sehingga sangat sulit terbang dan contoh lain tertembak di China dan Cuba. Untuk memecahkan masalah ini, sebuah model baru, U-2R diproduksi pada tahun 1968. Versi terbaru pesawat ini adalah U-2S. Pada awalnya didesain sebagai TR-1, U-2S adalah sebuah U-2R yang diupdate dengan membawa “Synthetic-Aperture Radar” canggih yang mampu untuk menscan sejauh 35 mil ke dalam wilayah musuh, sementara pesawat masih berada di wilayah udara internasional. TR-1, U-2R, dan U-2S dapat dibedakan dari varian u-2 yang lebih tua dari pod avionic yang dipasang di bawah kedua sayapnya. U-2S masih beroperasi hingga sekarang dan sangat berguna pada konflik Irak dan Afganistan….

HISTORY:
First Flight: (U-2A) 1 August 1955; (TR-1A/U-2S) August 1981
Service Entry: (U-2A) June 1957; (U-2S) October 1994

CREW: 1 pilot

ESTIMATED COST: unknown

AIRFOIL SECTIONS:
Wing Root: NACA 64A409
Wing Tip: NACA 64A406

DIMENSIONS:
Length: (U-2C) 49.95 ft (15.24 m); (U-2S) 63.00 ft (19.2 m)
Wingspan: (U-2C) 80.00 ft (24.38 m); (U-2S) 103.00 ft (31.39 m)
Height: 14.98 ft (4.57 m)
Wing Area: (U-2C) 565 ft2 (52.49 m2); (U-2S) 1,000 ft2 (92.9 m2)
Canard Area: not applicable

WEIGHTS:
Empty: (U-2C) 11,700 lb (5,305 kg); (U-2R) 19,000 lb (8,620 kg); (U-2S) 17,800 lb (8,075 kg)
Normal Takeoff: unknown
Max Takeoff: (U-2C) 17,270 lb (7,833 kg); (U-2S) 40,000 lb (18,144 kg)
Fuel Capacity: internal: unknown; external: unknown
Max Payload: unknown

PROPULSION:
Powerplant: (U-2C) one Pratt & Whitney J75-13 turbojet; (U-2R/TR-1A) one Pratt & Whitney J75-13B turbojet; (U-2S) one General Electric F-118-101 turbofan
Thrust:(U-2R) 17,000 lb (75.6 kN); (U-2S) 19,000 lb (84.5 kN)

PERFORMANCE:
Max Level Speed: at altitude: 530 mph (850 km/h) [U-2C], 495 mph (795 km/h) [U-2S]; at sea level: unknown
cruise speed: 375 mph (690 km/h) [U-2R]
Initial Climb Rate: unknown
Service Ceiling: (U-2C) 85,000 ft (25,930 m); (U-2S) 90,000 ft (27,430 m)
Range: (U-2C/R) 2,610 nm (4,830 km); (U-2S) 3,800 nm (7,050 km)
Endurance: (U-2R) 12 hr; (U-2S) 15 hr
g-Limits: +2.5

ARMAMENT:
Gun: none
Stations: (U-2C) one internal bay; (U-2S) one internal bay and two underwing pods
Air-to-Air Missile: none
Air-to-Surface Missile: none
Bomb: none
Other: cameras, IR sensors, other recon sensors

KNOWN VARIANTS:
U-2A: First production one-seat reconnaissance model; 48 built
U-2B: Two-seat trainer; 5 built
U-2C: Improved one-seat reconnaissance model with a new engine and modified engine inlets
U-2D: Two-seat trainer
U-2CT: Two-seat trainer rebuilt from U-2D airframes but with the training pilot seated at a higher level; at least 6 converted
U-2G: U-2A models modified with stronger landing gear, an arresting hook, and wing spoilers in order to operate from US Navy aircraft carriers; 3 converted but rarely used
U-2R: Enlarged and improved U-2C with underwing pods and increased fuel capacity; 12 built
U-2RT: Two-seat trainer based on U-2R; 1 built
U-2EPX: Proposed maritime surveillance model for the US Navy based on the U-2R; 2 built but not put into service
WU-2: Research aircraft used by the US Air Force for atmospheric research
TR-1A: Improved U-2R with side-scanning radar, new avionics, and improved ECM equipment; 33 built
TR-1B: Two-seat trainer for the TR-1A; 2 built
ER-2: One-seat "earth resource" research aircraft built for NASA
U-2S: New designation for the TR-1A; also updated with a more efficient engine, improved sensors, and the addition of a GPS system; 31 converted
U-2ST: Redesignated U-2R/TR-1B two-seat trainer with updated engine; 4 converted

KNOWN COMBAT RECORD:
verflights of Soviet Union, China, Cuba, and others
Vietnam War (USAF, 1965-1972)
Iraq - Operation Desert Storm (USAF, 1991)
Iraq - Operation Northern Watch (USAF, 1991-2003)
Iraq - Operation Southern Watch (USAF, 1991-2003)
Bosnia - Operation Deliberate Force (USAF, 1995)
Afghanistan - Operation Enduring Freedom (USAF, 2001-present)
Iraq - Operation Iraqi Freedom (USAF, 2003-present)

KNOWN OPERATORS:
United States (Central Intelligence Agency)
United States (US Air Force)
United States (NASA)

Monday, October 25, 2010

SR-71 Blackbird

SR-71 Blackbird


Tipe Strategic Reconnaissance
Produsen Lockheed Skunk Works
Perancang Clarence "Kelly" Johnson
Terbang perdana 22 Desember 1964
Diperkenalkan 1966
Dipensiunkan 1998
Pengguna United States Air Force
NASA
Jumlah produksi 32
Acuan dasar Lockheed A-12

Lockheed SR-71 adalah sebuah pesawat pengintai strategis jarak jauh berkecepatan Mach 3 yang berawal dari pesawat model A-12 dan YF-12 yang dibuat oleh Lockheed Skunk Works. SR-71 secara tidak resmi dijuluki 'Blackbird' dan dipanggil Habu (nama ular) oleh para awak penerbangnya. Clarence "Kelly" Johnson bertanggung jawab atas berbagai inovasi di konsep desain pesawat canggih ini. Keungulan dalam pertahanan pesawat ini adalah kecepatan terbang dan tingginya daya jelajah, dimana jika sebuah peluru kendali darat ke udara terdeteksi, tindak pengelakan yang standar adalah menambah kecepatan. Tipe SR-71 digunakan antara 1964 sampai 1998, dimana 12 dari 32 pesawat rusak akibat berbagai kecelakaan, tetapi tidak satupun hilang ketangan musuh.

Karakteristik umum
Kru: 2
Payload: 3,500 lb (1,600 kg) of sensors
Panjang: 107 ft 5 in (32.74 m)
Lebar sayap: 55 ft 7 in (16.94 m)
Tinggi: 18 ft 6 in (5.64 m)
Area sayap: 1,800 ft2 (170 m2)
Berat kosong: 67,500 lb (30,600 kg)
Berat terisi: 170,000 lb (77,000 kg)
Berat maksimum lepas landas: 172,000 lb (78,000 kg)
Mesin: 2× Pratt & Whitney J58-1 continuous-bleed afterburning turbojets, 32,500 lbf (145 kN) masing-masingWheel track: 16 ft 8 in (5.08 m)
Wheel base: 37 ft 10 in (11.53 m)
Aspect ratio: 1.7
Performa
Kecepatan maksimum: Mach 3.2+ (2,200+ mph, 3,530+ km/h, 1,900+ knots) at 80,000 ft (24,000 m)
Jarak jangkau: 2,900 nmi (5,400 km)
Jarak jangkau ferri: 3,200 nmi (5,925 km)
Batas tertinggi servis: 85,000 ft (25,900 m)
Laju panjat: 11,810 ft/min (60 m/s)
Beban sayap: 94 lb/ft² (460 kg/m²)
Dorongan/berat: 0.382