Showing posts with label TNI AU. Show all posts
Showing posts with label TNI AU. Show all posts

Monday, May 28, 2012

Hawk-209 TT-0231 Terbang Ferry

28 Mei 2012, Malang: Pesawat Hawk 209 dari Skadron Udara I Pangkalan Udara Supadio telah selesai melaksanakan pemeliharaan major servicing di Depohar 30 Malang, pesawat Hawk MK- 0209 No reg TT-0231 dari Skadron 1 Lanud Supadio tersebut melakukan ferry flight kembali ke Home Base Jumat (25/5).

Hawk MK-0209 No reg TT-0231 yang menjalani major servicing di Depohar 30, Malang sejak 23 November 2011 hingga 24 Mei 2012 itu selanjutnya diawaki Mayor Pnb Bagus, dengan didampingi pesawat TL-0113 dengan awak pesawat Mayor Pnb Supriyanto melakukan ferry flight.

Sumber: TNI AU

Friday, May 25, 2012

Skuadron Udara 800 Laksanakan Patroli Maritim

Seorang operator radar (tacco) anggota TNI AL mengoperasikan unit radar mission, dalam pesawat Casa N212 milik Skuadron Udara 800, Wing Udara-1 Puspenerbal, saat latihan patroli maritim di wilayah perairan Surabaya, Rabu (23/5). Patroli maritim merupakan salah satu tugas Skuadron Udara 800 Wing Udara-1 Puspenerbal, yang bertujuan untuk menjaga kedaulatan NKRI di wilayah laut yang berbatasan dengan negara lain. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/Koz/mes/12)

Tuesday, May 8, 2012

Pangkosekhanudnas III Pimpin Rakor Rencana Pemindahan Bandara Polonia

Bandara Polonia. (Foto: medanmagazine.com)

8 Mei 2012, Medan: Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Pangkosekhanudnas) III, Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna menggelar rapat tentang Rencana Pemindahan Bandara Polonia, Sumatera Utara, Selasa (8/5).

Rapat yang digelar di ruang Rapat Makosekhanudnas III Medang dimulai pukul 10.00 WIB dan diikuti oleh para Asisten Kosekhanudnas III, para Perwira yang ditunjuk dan perwakilan dari pihak PT. Angkasa Pura II Polonia, PT. Info Global, PT. Thales dan PT. Telkom.

Dalam siaran pers Dispenau yang diterima Jurnal Nasional, Pangkosekhanudnas III, Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, menyatakan perlu rapat koordinasi tentang rencana perpindahan Bandara Polonia ke Kualanamu antara Kosekhanudnas III dengan pihak PT. Angkasa Pura II Polonia, PT. Info Global, PT. Thales dan PT. Telkom karena terkait dengan pergeseran alat peralatan alutsista Kosekhanudnas III.

Dalam pertemuan tersebut dibahas hal-hal teknis khususnya transfer data radar dan Flight Plan dari Bandara Kualanamu ke SOC Kosekhanudnas III. Pangkosekhanudnas III menginginkan pada proses perpindahan Bandara ke Kualanamu tidak terjadi adanya kevacuman (Lag Operation) yang dapat mengganggu operasional Kosekhanudnas III.

Untuk itu, semua pihak mengantisipasi dini dalam proses kepindahan Bandara Polonia ke Kualanamu.

Rapat tersebut juga dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap kerjasama yang telah terjalin baik selama ini antara Kosekhanudnas dengan instansi terkait.

Sumber: Jurnas

Tuesday, May 1, 2012

Paskhas Lumpuhkan Teroris Pembajak Pesawat

Anggota Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI AU bersiapm melakukan penembakan dalam simulasi penanggulangan teror di Bandara Ngurah Rai, Bali, Senin (30/4). Simulasi tersebut untuk peningkatan kemampuan anggota pasukan anti teror sekaligus pengamanan Bandara Ngurah Rai menjelang digelarnya berbagai kegiatan internasional di Bali terutama penyelenggaraan KTT APEC pada tahun 2013 . (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/Koz/Spt/12)

30 April 2012, Denpasar: Setelah teroris berhasil menguasai satu pesawat penumpang di B 1 dengan sejumlah penumpang dijadikan sebagai sandera, bersamaan dengan itu teroris dengan kelompok yang sama juga telah menguasai gedung VIP 2 Bandara Ngurah Rai dengan sejumlah orang yang berada di dalam dijadikan sandera.

Dalam kondisi yang cukup genting tersebut pasukan anti teror Detasemen Bravo 90 Paskhasau mendapatkan perintah tugas untuk menghadapi teroris dimaksud dan menyelamatkan para sandera. Simulasi latihan dengan sandi “Albara” (Anti Lawan Bajak Udara) diawali dengan penerjunan pasukan Combat Free Fall sebanyak 15 personel di pantai ujung landasan dengan jarak lebih kurang satu kilometer dari tempat teroris melakukan penyanderaan.

Setelah mendarat, pasukan dengan mengendap-endap mendekati lokasi, terlebih dahulu mengeksekusi dengan aksi bunuh senyap teroris yang bertugas berjaga-jaga di luar area lokasi. Setelah itu negosiator melaksanakan negosiasi dengan pimpinan teroris dimana para teroris menuntut supaya rekan-rekannya yang dipenjara oleh pemerintah dapat dibebaskan. Untuk menunjukkan keseriusannya teroris menembak salah satu sandera yang selanjutnya dievakuasi oleh tim medis.

Beberapa anggota Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI AU menangkap teroris yang menyandera pesawat komersial dalam simulasi penanggulangan teror di Bandara Ngurah Rai, Bali, Senin (30/4). (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana/Koz/Spt/12)

Melanjutkan aksinya, teroris meminta pesawat yang dikuasainya untuk direfuel, dan pada saat itu juga negosiasi terus berlangsung, dan disaat bersamaan unit Aksus (Aksi Khusus) Den Bravo 90 Paskhasau yang dikomandani oleh Letkol Psk M. Juanda, mendekati dua sasaran sekaligus dan melaksanakan aksi di pesawat maupun di VIP room 2 yang terlebih dahulu diawali dengan tembakan Sniper dan bunyi ledakan. Beberapa saat kemudian, unit Aksus berhasil melumpuhkan teroris baik di pesawat maupun di VIP 2, selanjutnya para pelaku teroris diserahkan kepada Pomau.

Setelah menguasai situasi, unit aksus melaksanakan evakuasi terhadap para sandera baik di pesawat maupun di VIP room 2. Karena diduga para teroris telah memasang bahan peledak di pesawat, maka unit EOD merapat ke pesawat dan melaksanakan IED di tempat yang aman.

Demikian secara umum skenario simulasi latihan Albara yang dilaksanakan di bandara Ngurah Rai. Hadir menyaksikan latihan secara langsung yaitu, Pangkoopsau II, Marsda TNI Ismono Wijayanto, Muspida provinsi Bali dan para pimpinan komunitas bandara Ngurah Rai.

Di sela-sela acara, Komandan Lanud Ngurah Rai, Letkol Pnb Jumarto saat diwawancara mengatakan bahwa Latihan Albara dilaksanakan di Bali dengan maksud untuk meyakinkan masyarakat Nasional dan Internasional bahwa bandara Ngurah Rai sebagai pintu utama wisata di Bali dalam kondisi aman sekaligus menunjukkan tentang kemampuan Detasemen Bravo 90 Paskhasau dalam menghadapi kemunkinan aksi teror yang terjadi di bandara.

Akhir dari kegiatan dilaksanakan upacara penutupan latihan di B 1 Bandara Ngurah Rai dengan Inspektur Upacara oleh Komandan Lanud Ngurah Rai.

Sumber: TNI AU

Wednesday, February 22, 2012

Tiga Pesawat Sukhoi Uji Coba Bom Buatan TNI AU dan Pindad

(Foto: Sari Bahari)

22 Februari 2012, Jakarta: Tiga Pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, melaksanakan uji dinamis Bom Tajam buatan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) bekerja sama dengan PT Pindad. Uji coba dilakukan di Lanud Iswahjudi dengan sasaran Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2012).

Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.

"Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.

Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang.

Sumber: KOMPAS

Thursday, February 16, 2012

Biak Disiapkan Sebagai Skadron Pesawat Tempur


6 Februari 2012, Biak: Pangkalan Udara Manuhua STAB di Kabupaten Biak Numfor, Papua dipersiapkan untuk skadron pesawat tempur dalam rangka menunjang tugas operasional Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV di kawasan Timur Indonesia.

Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV Biak Marsekal Pertama TNI Dedy Nita Komara di Biak Kamis mengatakan, untuk pengembangan pengamanan wilayah udara NKRI di kawasan Papua, keberadaan pangkalan udara Manuhua Biak masuk dalam rencana pengembangan sebagai pangkalan skadron pesawat tempur TNI AU.

"Keberadaan bandara Lanud Manuhua Biak sangat strategis dan memenuhi syarat bisa dikembangkan menjadi pangkalan skadron pesawat tempur, ya pada tahun 2014 diharapkan program ini dapat terwujud," ungkap Pangkosek Hanudnas IV Marsma TNI Dedy.

Ia mengakui, untuk idealnya pengembangan pangkalan skadron pesawat tempur di Lanud Manuhua empat flight dengan 12 pesawat tempur.

Dengan kondisi pangkalan udara Manuhua Biak saat ini, lanjut Marsma Dedy, yang sangat luas dan memenuhi syarat paling tidak dapat menampung delapan pesawat tempur TNI AU.

"Jika rencana skadron pesawat tempur TNI AU dibuka di Biak maka akan menunjang operasi Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional IV Biak menjaga pengamanan wilayah udara NKRI khususnya di wilayah Papua sekitarnya," ungkap Pangkosek Hanudnas IV Marsma TNI Dedy Nita Komara.

Hingga Kamis siang, tiga pesawat tempur F16 skadron Iswahyudi Madiun, dua Hercules, serta satu helikopter Puma berada di bandara Lanud Manuhua Biak untuk mendukung latihan cakra dan operasi "Tangkis Petir" yang diselenggarakan Kosek Hanudnas IV Biak mulai 16-21 Februari 2012.

Sumber: ANTARA News

Tuesday, February 14, 2012

Batalyon 465 Paskhas Latihan Jungar di Lanud Supadio

Komandan TNI AU Yon 465 Paskhas, Mayor Psk Rana Nugraha (kanan), menjalani pemeriksaan peralatan yang dilakukan oleh seorang Jumping Master, sesaat sebelum melakukan terjun tempur (junpur) static dari pesawat Hercules, di Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Selasa (14/2). Sebanyak 236 prajurit TNI AU Yon 465 Paskhas berlatih terjun tempur static dan free fall, guna meningkatkan kemampuan keparaan dalam mengamankan NKRI. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/ama/12)

14 Februari 2012, Kubu Raya: Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio, Selasa (14/2) melaksanakan latihan terjun payung penyegaran (Jungar) tempur di run way Lanud Supadio, Pontianak yang diikuti sebanyak 226 prajurit Batalyon 465 Paskhas.

Danlanud Supadio Kolonel Pnb Kustono, S.Sos dalam arahannya mengatakan setiap prajurit paskhas yang mengikuti latihan terjun payung penyegaran ini agar selalu memperhatikan keselamatan diri maupun perlengkapan perorangan. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Disisi lain, latihan terjun ini juga untuk meningkatkan kesiapan prajurit paskhas dalam menghadapi tugas-tugas operasional dalam bidang matra udara.

Sedangkan Komandan Batalyon (Danyon) 465 Paskhas, Letkol Psk Rana Nugraha, S.E. yang memimpin langsung latihan terjun penyegaran tersebut menyampaikan bahwa, dalam pelaksanaannya latihan terjun payung penyegaran (Jungar) tersebut menggunakan pesawat C-130 Hercules dengan tiga kali sortie, sortie pertama terdiri dari 2 run, sortie kedua berjumlah 2 run, dan sortie ketiga 2 run sedangkan ketinggian penerjunan mencapai 1.200 feet untuk terjun statistik dan 5000 feet untuk terjun free fall.

”Latihan Ini merupakan kelanjutan dari latihan yang telah dilaksanakan oleh Batalyon 465 Paskhas. Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan seluruh prajurit Paskhas dalam hal terjun tempur sehingga akan tercapai kesiapan operasional yang tinggi,” jelas Danyon 465 Paskhas.

Lanjut Danyon Paskhas, mengharapkan dengan adanya latihan ini diharapkan agar kesiapan operasional seluruh prajurit Batalyon 465 Paskhas dapat meningkat. ”Seluruh prajurit mampu mencapai titik pendaratan yang telah ditentukan dengan aman dan selamat. Mereka juga terampil melaksanakan prosedur penerjunan tempur yang benar serta mampu meningkatkan rasa percaya diri dalam melaksanakan penerjunan, ”jelasnya.

Oleh sebab itu, lanjut Danyon, setiap prajurit paskhas harus mampu memelihara profesionalisme sehingga dapat siap siaga apabila ada ancaman yang datang. Untuk itu diperlukan kesiapan operasi satuan yang tinggi, dan kondisi ini dapat tercapai apabila dilakukan latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut pada seluruh prajurit.

Sumber: Dispenau

F-16 Jajal Radar Saumlaki Timika

F-16 Skadron Udara 3. (Foto: Lanud Iswahjudi)

14 Februari 2012, Madiun: Satu flight pesawat tempur F-16 Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi melaksanakan terbang jelajah ke Wilayah Timur Indonesia. Penerbangan ini dilakukan dengan misi pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sekaligus menjajal kemampuan Radio Detecting And Ranging (Radar) Satrad (Satuan Radar) 245 Saumlaki dan Timika.

“Selain itu F-16 ini juga melakukan latihan Tangkis Petir, Hanud Cakra, dan Hanud Kilat,” kata Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI M.Syaugi dalam siaran persnya pada Selasa (14/2).

Syaugi dalam kesempatan itu melepas keberangkatan pesawat tempur yang masih menjadi andalan TNI AU tersebut.

Terbang jelajah yang akan dilakukan selama 14 hari ini meliputi Lanud Balikpapan Kaltim, Lanud Samratulangi Manado, Lanud Biak Papua, Lanud Patimura Ambon dan Lanud Rembiga NTB, dengan melibatkan 8 penerbang tempur F-16/Fighting Falcon, 46 teknisi (Ground Crew), serta Tim Brigan dari Satpon Lanud Iswahjudi dengan di dukung pesawat C-130 Hercules.

Satrad 245 Saumlaki, baru diresmikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) marsekal TNI Imam Sufaat, beberapa waktu lalu.

Sumber: Jurnas

Daerah Latihan Korpaskhas Tidak Memenuhi Syarat

Sejumlah anggota pasukan Paskhas TNI-AU melompat dari dalam pesawat Hercules milik TNI-AU saat melakukan terjun payung di wilayah Pandan Kab Tapanuli Tengah, di Lanud Polonia Medan, Sumut, Senin (16/1). Sebanyak 36 penerjun dari Paskhas TNI AU menampilkan keahlian terjun payung "Free Fall" yang disaksikan oleh Pangkohanudnas Marsda TNI J.F.P Sitompul dalam rangka memeriahkan HUT Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) ke-50. (Foto: ANTARA/Septianda Perdana/Koz/pd/12)

14 Februari 2012, Bandung: Daerah latihan Korpaskhas yang berlokasi di Ranca Upas, Ciwidei, Bandung saat ini tidak memenuhi syarat lagi sebagai daerah latihan maupun pelaksanaan pendidikan bagi prajurit paskhas, mengingat daerah tersebut merupakan daerah pariwisata yang semakin hari semakin dipadati pengunjung, karena memiliki sumber air panas.

Beberapa tahun terakhir ini daerah tersebut sudah menjadi tempat wisata favorit yang paling diminati masyarakat baik masyarakat Bandung sendiri maupun masyarakat dari luar wilayah Bandung.

Hal tersebut disampaikan Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah, saat mengawali dan membuka kegiatan Paparan Komandan Wing III Paskhas Kolonel Psk Yudi Bustami terkait dengan adanya rencana penggunaan lahan (hutan) sebagai daerah latihan Korpaskhas, yang berlangsung di ruang Rapat Mako Korpaskhas, Lanud Sulaiman, Bandung. Senin (13/02).

Dalam menyikapi serta menjawab permasalahan yang dihadapi Wing III Paskhas, Komandan Korpaskhas beberapa waktu lalu saat mendengar rapat evaluasi pendidikan Komando, memerintahkan Komandan Wing III Paskhas agar melaksanakan survei tempat dan daerah latihan yang memenuhi kriteria untuk pelaksanaan beberapa pendidikan.

Berkaitan dengan daerah latihan tersebut Komandan Wing III Paskhas menyampaikan paparannya, daerah yang dilpilih menjadi daerah latihan merupakan daerah yang cukup jauh dari pemukiman penduduk, serta memenuhi kriteria untuk melaksanakan beberapa materi latihan seperti Pendidikan Komando, SAR Tempur, Penembakkan PSU (Penagkis Serangan Udara) dan Penembakkan Senjata Bantuan (Lintas Datar dan Lintas Lengkung).

Dan Wing III Paskhas menjelaskan, dengan luas lahan hampir mencapai sekitar 600 hektar tersebut, khususnya latihan penembakkan yang menggunakan senjata-senjata berat, tidak akan mengganggu serta menjangkau pemukiman warga masyarakat, karena jarak dengan pemukiman penduduk dengan daerah tersebut cukup jauh.

Suvey daerah latihan tidak hanya dilaksanakan para perwira Wing IIII Paskhas saja, akan tetapi juga mengikut sertakan pihak-pihak terkait seperti staf Perutani Kab. Bandung, daerah yang dipilih tersebut tidak terlalu jauh dari daerah latihan yang digunakan sebelumnya, berada tepat daerah perbatasan antara Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur yaitu hutan Balegede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,

Dalam menutup acara paparan tersebut Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI menekankan, agar para pejabat terkait mulai dari sekarang mempersiapkan segala macam surat-surat maupun aturan yang dibutuhkan guna menindaklanjuti rencana penggunaan lahan tersebut, dengan harapan apa yang menjadi keinginan kita bersama memiliki daerah latihan yang baru mendapat restu dari pimpinan serta pihak-pihak terkait.

Sumber: Pos Kota

Thursday, February 9, 2012

Skuadron 16 Lanud Pekanbaru akan Mengoperasikan F-16

F-16B Fighting Falcon TNI AU. (Foto: Dispenau)

10 Februari 2012, Pekanbaru: Kepala Dinas Pengembangan Operasi TNI AU (Kadisbangopsau), Marsekal Pertama TNI R. Hari Muljono beserta tim survei Mabesau diterima Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Bowo Budiarto, S.E beserta para Pejabat dan Komandan Satuan di jajaran Lanud Pekanbaru dalam rangka meninjau lokasi rencana pembangunan Skadron Udara 16 di Lanud Pekanbaru, Rabu (9/2).

Pangkalan TNI AU Pekanbaru yang saat ini hanya terdiri satu Skadron yaitu Skadron Udara 12 yang mengawaki jenis pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Tehnik, kedepan akan di tambah menjadi dua Skadron, yaitu Skadron Udara 16 yang direncanakan akan mengawaki jenis pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari America Serikat, sehingga dengan adanya dua Skadron tersebut, Lanud Pekanbaru akan ada peningkatan, yang semula tipe B akan menjadi tipe A.

Kedatangan tim survei yang berlangsung selama tiga hari, selain mengunjungi lokasi rencana pembangunan Skadron Udara 16 di Lanud Pekanbaru, juga mengunjungi lapangan tembak, Komplek Rajawali baru, Mes Garuda yang rencana akan ditempati untuk mes remaja, Gedung ACMR dan BMP Lanud Pekanbaru.

Sumber: TNI AU

RI Punya Pesawat Kepresidenan


10 Februari 2012, Jakarta: Presiden Indonesia kini resmi memiliki pesawat kepresidenan.Pesawat seri 737- 800 Boing Busness Jet 2 (BBJ 2) yang dibeli langsung dari pabrik Boeing telah diserahterimakan pada tanggal 21 Januari 2012 di Amerika Serikat.

Jika tidak aral melintang, pesawat tersebut akan mulai melayani tugas kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Agustus 2013 nanti. Sekretaris Kementerian Sekretaris Negara (Kemensesneg) Lambock V Nahattands mengungkapkan, pemerintah telah melunasi pembayaran senilai USD58,6 juta atau Rp525,91 miliar kepada Boeing Company yang seluruhnya diambilkan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Namun dana sebesar itu baru untuk pembelian “green aircraft” atau pesawat kosong yang belum dilengkapi dengan interior dan sistem keamanan. Untuk pengerjaan interior kabin pemerintah menganggarkan dana sebesar USD27 juta sedangkan sistem keamanan sebesar USD4,5 juta. Dengan demikian, total biaya yang dikeluarkan untuk membeli pesawat kepresidenan sebesar USD91 juta.

Namun, biaya interior kabin dan sistem keamanan itu masih bisa berubah tergantung pada pemenang lelang. “Saat ini dalam proses pelelangan yang pemenangnya diperkirakan akan ditentukan pada akhir Februari 2012. Pekerjaan interior cabin dan security system akan dimulai Mei 2012 dan diperkirakan selesai Agustus 2013,” jelas Lambock, dalam keterangan persnya di gedung Sekretariat Negara,Jakarta.

Saat ini pesawat kepresidenan masih berada di AS untuk proses pemasangan enam tangki bahan bakar. Proses selanjutnya adalah penyelesaian interior kabin dan pemasangan sistem keamanan. “Semua itu dilakukan oleh completion center yang berpengalaman mengerjakan cabin interior dan security system pesawat VVIP. Saat ini sedang dalam proses pelelangan yang dilakukan secara internasional dan pemenangnya diperkirakan akan ditentukan pada akhir Februari 2012,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) TB Hasanuddin mendukung keputusan pemerintah membeli pesawat kepresidenan. Menurut dia, untuk keperluan Presiden memang sangat dibutuhkan pesawat yang bukan sewaan. “ Dari sisi anggaran, beli jauh lebih effisien dari menyewa terus menerus. Saya pernah alami saat di Sekmil.Kalau sewa dan terus menerus setidaknya sebulan empat kali,maka sewa jauh lebih mahal, ”katanya.

Biaya itu, lanjut dia, belum termasuk untuk modifikasi yang harus disiapkan sebelum hari H pemakaian. Sebab, untuk kepergian Presiden juga harus disiapkan untuk seting tempat duduk serta keperluan lain termasuk tempat istirahat. Dari sisi keamanan,memiliki pesawat kepresidenan jauh lebih aman dibandingkan sewa. Selain perawatannya bisa dilakukan setiap saat,dengan status pesawat kepresidenan maka pesawat tersebut akan dilengkapi dengan alat komunikasi khusus untuk standar presiden.

Lebih lanjut, politikus PDIP itu menyebut, sebagai bangsa besar Indonesia perlu menjaga dan menunjukkan marwahnya di hadapan bangsa lain. Ini terkait dengan harga diri yang semuanya harus bisa ditunjukkan oleh simbol negara. ”Masak kita kalah sama Papua Nugini sih,” ujarnya. Untuk diketahui, Presiden RI selama ini lebih banyak menggunakan pesawat sewaan dari Garuda Indonesia.

Selama menjabat presiden, SBY seringkali menggunakan jenis Airbus A330 milik Garuda Indonesia. Presiden sebelumnya pun melakukan hal yang sama. Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sering memakai Boeing Bussiness Jet (BBJ) 737-800 atau Boeing 707, sedangkan Megawati Soekarno Putri sering memakai MD- 11 atau RJ-85 PAS.

Berdasar data yang ada, Indonesia sebenarnya pernah mempunyai pesawat kepresiden sendiri. Soekarno tercatat pernah memiliki tiga pesawat jetstar C-140. Presiden RI pertama itu sebelumnya juga pernah memiliki pesawat Ilyushin II-14 yang merupakan hadiah dari Rusia. Namun pada era Soeharto, presiden terlama Indonesia itu lebih banyak menggunakan pesawat Garuda atau TNI.

Tercatat Soeharto pernah memanfaatkan pesawat DC-8 Garuda Indonesia, DC-10 Garuda Indonesia, C-130 Hercules TNI Angkatan Udara, Helikopter SA- 330 Puma, atau SA 332 Super Puma TNI AU. Selain itu Soeharto pernah membeli Fokker 28 yang dioperasionalkan Pelita Air Service dan membeli Avro RJ-185 PAS.

Lebih Hemat dan Optimal

Keputusan membeli pesawat kepresidenan dilalui setelah melalui proses panjang sejak rapat kerja Sekretariat Negara dengan Komisi II DPR pada 31 Mei 2010. Walaupun sempat menimbulkan pro-kontra, DPR telah menyetujui pengadaan pesawat kepresidenan karena lebih efektif dan efisien dibanding menyewa dari PT Garuda Indonesia seperti yang dilakukan selama ini.

Lambock menyebutkan, biaya sewa pesawat untuk presiden pada periode 2005 hingga 2009 adalah Rp813,794 miliar atau USD81,379 juta dengan kenaikan biaya sewa setiap tahun sebesar 10% atau USD8,137 juta. Sedangkan jika membeli pesawat dengan harga USD91 juta, biaya perawatan dan operasional selama 5 tahun USD36,5juta.

Jika diperhitungkan depresiasi pesawat selama 5 tahun senilai USD10,423 juta dan nilai buku aset pesawat sebesar USD80,785 juta, maka penghematan yang dihasilkan senilai USD32,136 juta.

Sumber: SINDO

Monday, February 6, 2012

Kohanudnas Akan Diperkuat 70 Pesawat Tempur


6 Februari 2012, Jakarta: Salah satu unsur penting didalam menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Negara Indonesia (NKRI) salah satunya terletak pada kiprah dan peran dari Kohanudnas. Hal tersebut lebih dikhususkan dalam memberikan perlindungan dan patroli udara serta pertahanan strategis mengawal yuridiksi wilayah udara nasional Indonesia.

Demikian diungkapkan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro saat berbicara pada lokakarya dalam rangka HUT ke 50 Komando Pertahanan Udara Nasional (KOHANUDNAS), Senin (6/1) di Halim, Jakarta.

Sehubungan dengan hal tersebut, Menhan mengharapkan bahwa kamampuan Kohanudnas perlu terus ditingkatkan agar memiliki kemampuan pertahanan udara dengan efek tangkalnya.

Lebih lanjut Menhan menjelaskan, sejalan dengan itu pemerintah telah menetapkan kebijakan pertahanan udara yang disusun dalam cetak biru (Blue Print) untuk mewujudkan kekuatan pokok pertahanan.

Pada cetak biru tersebut secara bertahap kemampuan Kohanudnas akan ditingkatkan, dengan melengkapi alutsista dan peralatan yang diperlukan. Hingga tahun 2014 nanti Kohanudnas akan dilengkapi oleh 70 pesawat. Diantaranya sekitar 3 Skuadron penuh Ligth Fighter, Super Tucano, Shukoi dan Pesawat tempur F 16 setara Block 52.

Ditambahkan Menhan untuk lima tahun 2010-2014 sebagai renstra pertama pembangunan Kekuatan Pokok Minimum pertahanan, pemerintah akan mengucurkan dana sebesar 150 Triliun Rupiah. Salah satunya anggaran ini digunakan untuk mendukung belanja barang dan belanja modal alutsista TNI Angkatan Udara.

Selain modernisasi alutsista, menurut Menhan peningkatan kemampuan dan profesionalime unsur SDM dan Organisasi yang efektif juga harus terus ditingkatkan agar tidak tertinggal didalam perkembangan di bidang Revolution In Military Affairs. Karena sesuai dengan karakteristikanya kekuatan matra udara sangat dipengaruhi oleh perkembanganteknologi.

Sementara itu Panglima Kohanudnas, Marsda TNI J.F.P Sitompul mengatakan Kohanudnas memiliki tugas menyelenggarakan pertahanan terpadu atas wilayah udara nasional dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan menjaga keutuhan serta kepentingan dari NKRI.

Memasuki usia 50 tahun dengan sesuai kemampuan yang ada sekarang ini Kohanudnas terus berupaya secara maksimal dan terus menerus untuk tetap mewujudkan kedaulatan Negara diudara. Pangkohanudnas menekankan hal ini terbukti dengan adanya beberapa kejadian intersepsi, pengusiran, hingga pemaksaan mendarat kepada pesawat asing yang memasuki wilayah Negara tanpa ijin.

Diungkapkan Pangkohanudnas belajar dari sejarah di era 60 an dimana Kohanudnas pernah menjadi yang terkuat diwilayah bumi di bagian selatan. Kohanudnas juga mampu membawa wibawa Indonesia di tingkat regional maupun internasional.

Belajar dari pengalaman tersebut diharapkan menjadi starting point bagi Kohanudnas untuk menata organisasi, Alutsista, Doktrin dan Siskodal sehingga dimasa depan Kohanudnas mampu melaksanakan tugas dengan lebih optimal.

Lokakarya berlangsung selama dua hari dengan tema “ Strategi Pengembangan Kohanudnas Kedepan” mengundang beberapa pembicara seperti Wakil Ketua Komisi I DPR, T.B Hasanudin, Sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Harryanto, Direktur SDM Universitas Pertahanan Marsma TNI, Suparman Djapri, dan Panglima Komando Sektor Hanudnas III, Marsma TNI Bonar Hutagaol.

Sumber: DMC

Skadron Udara 12 Latihan Terbang Malam


7 Februari 2012, Pekanbaru: Sebagai satu-satunya Pangkalan Induk TNI Angkatan Udara yang mengawaki alutsista pesawat tempur di pulau Sumatera, Lanud Pekanbaru harus selalu siap operasional dalam melaksanakan tugas-tugas pertahanan udara, selain kesiapan alutsista dan para penerbang yang mengawakinya, tentunya kesiapan seluruh komponen pendukung harus tetap terjaga termasuk para crew pesawat yang memiliki andil sangat besar dalam keberhasilan setiap operasi udara yang dilaksanakan, demikian disampaikan Danlanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Bowo Budiarto, S.E disela-sela latihan terbang malam yang digelar “Black Panther” Skadron Udara 12 yang berlangsung selama empat hari kedepan, Senin (6/2).

Lebih lanjut Danlanud menyampaikan bahwa, Lanud Pekanbaru terus berupaya meningkatkan kesiapan operasional seluruh satuan-satuan yang ada di bawah jajarannya. Khusus pelaksanaan latihan operasi terbang malam yang digelar ini, bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme baik skill (keahlian) maupun kemampuan terbang (profesiensi) para penerbang dan seluruh crew pesawat dalam mengantisipasi kemungkinan akan terjadinya gangguan, ancaman serta pelanggaran wilayah udara Indonesia oleh pihak lain, baik yang datang pada siang hari maupun pada malam hari. Sedangkan bagi para penerbang tempur “Black Panther” sendiri, terbang malam bukan merupakan sesuatu yang baru, namun harus tetap dilatihkan secara berkala mengingat pelaksanaan terbang malam lebih mengandalkan instrument yang ada disamping visual dengan alat bantu lampu penerangan yang ada di dua sisi landasan. Untuk itu para penerbang dituntut lebih teliti dan hati-hati dalam menerbangkan pesawat serta melakukan manuver-manuver tertentu.

Pelaksanaan latihan terbang malam yang akan berlangsung selama empat hari kedepan, mulai hari Senin (6/2) hingga Kamis (9/2) tersebut diawali dengan kegiatan doa bersama untuk memohon keselamatan yang dihadiri oleh Danlanud beserta para Pejabat Lanud Pekanbaru dan seluruh anggota Skadron Udara 12. Dengan adanya perubahan jadwal latihan tersebut, pada malam harinya langit di kota Pekanbarupun bergemuruh oleh suara pesawat tempur Hawk 100/200 saat melaksanakan Take off/Landing, sehingga hal tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Riau dengan adanya pelaksanaan latihan terbang malam ini.

Sumber: Dispenau

Friday, February 3, 2012

TNI AU akan Tempatkan 6 unit PUNA di Lanud Supadio

PUNA Wulung. (Foto: Ristek)

3 Februari 2012, Jakarta: TNI AU memastikan akan melakukan pengadaan enam unit Pesawat Terbang Nirawak (PUNA). Keenam pesawat ini nantinya akan ditempatkan di Landasan Udara (Lanud) Supadio di Pontianak.

“Dalam rencana pengadaan untuk memenuhi Minimum Essential Forces (MEF) kami akan mengadakan enam unit PUNA,”kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Azman Yunus di Jakarta, Jumat (3/2).

Menurut Azman, TNI AU berencana menempatkan pesawat tersebut di Pontianak. Ke depan, TNI AU berharap memiliki satu skadron PUNA. “Kalau butuh skadron pesawat tanpa awak, bisa saja. Kami akan menuju kesana,” jelasnya.

TNI AU disebut-sebut akan melakukan pengadaan PUNA asal Israel. DPR RI menolak rencana pembelian ini. DPR beralasan, Israel telah terlalu banyak melakukan pelanggaran HAM.

Bagi TNI AU, dari manapun pesawat itu tidak menjadi pertimbangan asalkan memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan. Namun begitu, kepastian apa yang menjadi kebutuhan TNI AU dariPUNA tersebut belum disusun karena tim penyusunnya belum terbentuk.

Sebelumnnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan belum mengetahui rencana pengadaan PUNA tersebut.

Sumber: Jurnas

Sunday, January 29, 2012

Panglima TNI : Latihan Menitik Beratkan Penanggulangan Teror


30 Januari 2012, Bandung: Latihan lebih menitik beratkan pada penanggulangan teror, aplikasi taktik dan teknik untuk mengimplementasikan strategi dalam mengatasi aksi terorisme, sekaligus sebagai bentuk kesiapsiagaan operasional satuan Gultor TNI dalam rangka menghadapi kemungkinan serangan teroris yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Operasi Panglima TNI Maijen TNI Hambali Hanafiah pada saat upacara Pembukaan Latihan Penanggulan Teror TNI Tri Matra VI Tahun 2011 yang berlangsung di Lapangan Merah, Markas Komando Korpaskhas, Lanud Sulaiman. Senin (30/01).

Panglima TNI menjelaskan, Sebagai mana kita cermati bersama, situasi nasional bangsa Indonesia di awal tahun 2012 menghadapi sejumlah gangguan keamanan, diberbagai daerah aksi-aksi kelompok bersenjata dan separatis yang masih bergerilya di papua dan aceh, berbagai benturan fisik antar masyarakat serta aksi-aksi kelompok tertentu yang menimbulkan ancaman dalam masyarakat.

Hasil Rapin TNI tahun 2012, dimana pokok-pokok kebijakan Panglima TNI, meskipun masalah keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi tugas dan tanggung jawab Kepolisian negara, TNI harus turut serta dalam mencegah timbulnya aksi ganguan keamanan maupun aksi terorisme yang membahayakan keutuhan negara. Tambah Panglima TNI.

Panglima TNI harapan, kita perlu menentukan langkah-langkah strategis dan upaya yang di wujudkan dengan melaksanakan berbagai bentuk latihan penanggulangan teror yang berorientasi pada kontijensi yang dipilih dalam rangka menggatasi anti teror.

Untuk itu, tema yang diambil pada latihan penanggulangan teror Tri Matra ke VI TA 2011 kali ini,”Satuan tugas Gabungan Pasukan TNI (Satuan-81 Kopassus, Denjaka dan Denbravo 90’ Paskhas) melaksanakan operasi gultor terpadu dalam rangka mendukung tugas pokok TNI”.

Panglima TNI Menegaskan, latihan yang digelar selain untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasi TNI, latihan dimaksudkan untuk meningkatkan integrasi dan keterpaduan antara satuan gultor Tri Matra TNI dalam melaksanakan fungsi peran serta tugasnya segera terpadu dalam satu kesatuan komando.

Panglima TNI menyampaikan beberapa penekanan sebagai pedoman dalam pelaksanaan latihan diantaranya pertaman perhatikan selalu faktor keamanan dan keselamatan, baik personel, materiil serta dokumen latihan selama kegiatan. Kedua laksanakan latihan ini dengan penuh semangat dan manfaatkan untuk merevisi serta menyempurnakan doktrin operasi khusus di sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Serta ketiga pelihara realisme latihan dengan tetap menyesuaikan perkembangan lingkungan strategis sehingga terwujud konsep strategis penangkalan dan penindakan terhadap kontijensi yang mungkin terjadi.

Penyelengaraan latihan Penanggulangan Teror TNI Tri Matra VI TA 2011 ini, merupakan latihan tertunda yang seharusnya dilaksanakan bulan juli 2011 karena latihan penanggulangan teror ini baru dapat dilaksanakan pada bulan desember minggu ke-3 tahun 2011. Lanjutnya.

Hadir pada kesempatan tersebut Pangdam III Siliwangi, Danjen Kopasus, Dankorpaskhas serta pejabat Tinggi TNI dan Polri dan pejabat pemerintah kabupaten Bandung, kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari ini akan dilaksanakan Lanud Halim perdanakusuma dilaksanakan sebagai latihan pendahuluan dan pelaksanaan latihan sesungguhnya Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung.

Sumber: Dispenau

Anggaran Alutsista TNI Angkatan Udara Bertambah

Super Tucano AU Kolombia. Indonesia membeli 16 unit Super Tucano dari Embraer. Batch pertama dijadwalkan tiba di Indonesia pada Maret 2012. (Foto: Embraer)

28 Januari 2012, Jakarta: Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan TNI AU mendapat tambahan anggaran pada tahun anggaran 2012. Penambahan anggaran tersebut akan difokuskan pada pengadaan dan peningkatan kemampuan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI AU sesuai rancangan Minimum Essential Force (MEF) yang telah ditetapkan. Demikian disampaikan KSAU pada penutupan Rapim TNI AU dan Apel Komandan Satuan Tahun 2012 di Kampus AAU, Yogyakarta, Jumat (27/1).

KSAU berharap setiap instansi terkait dengan program pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI AU agar betul-betul merencanakan dan melaksanakan sesuai prosedur dan tataran kewenangan yang dimilki. Hal ini penting agar program yang dilaksanakan akan berjalan dengan lancar dan tidak menjadi permasalahan.

Menurutnya, anggaran yang diberikan oleh negara kepada TNI AU berasal dari rakyat dan diawasi oleh rakyat sehingga harus mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan dengan anggaran tersebut. Untuk mewujudkan kekuatan pokok minimum, menurut Imam, komandan harus menjadi figur sangat dominan dalam meraih keberhasilan dan mampu menciptakan satuan yang kondusif untuk melaksanakan program peningkatan kesiapan alutsista.

Selain itu, komandan juga harus mampu membawa anggotanya untuk bekerja sama dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab satuan. Imam berharap tunjangan kinerja/renumerasi yang telah diberikan agar semakin memupuk motivasi, dedikasi dan etos kerja yang tinggi.

Juga menumbuhkembangkan sifat kepedulian dan inisiatif terhadap situasi kegiatan disekelilingnya khususnya kepedulian terhadap alutsista yang dioperasikan. "Komandan juga berperan memelihara disiplin anggota dan kerja sama kelompok untuk menjaga soliditas dan harmonisasi di antara sesama serta meningkatkan nilai-nilai kejujuran dan loyalitas terhadap organisasi TNI Angkatan Udara," kata Imam melalui siaran pers Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Azman Yunus.

Sumber: Jurnas

Thursday, January 26, 2012

Sasaran Kebijakan TNI AU 2012

Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., memberikan keterangan pers kepada wartawan usai pembukaan Rapim TNI AU dan Apel Komandan Satuan Tahun 2012 di AAU, Yogyakarta, Kamis. (26/1).

27 Januari 2012, Yogyakarta: Kesiapan operasional TNI Angkatan Udara difokuskan pada tercapainya kemampuan operasional secara terpadu dari satuan-satuan TNI Angkatan Udara, dengan demikian kesiapan operasional dan tuntutan kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM) TNI Angkatan Udara dapat tercapai dan diandalkan.

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., pada pembukaan Rapim TNI AU dan Apel Komandan Satuan Tahun 2012 di AAU, Yogyakarta, Kamis. (26/1).

Rapim TNI AU merupakan tindak lanjut dari Rapim TNI yang baru saja dilaksanakan dan sebagai upaya untuk memantapkan konsolidasi dalam jajaran Angkatan Udara, sehingga lebih memantapkan peran pengabdian sesuai bidangnya serta kepadulian Angkatan Udara terhadap agenda nasional beserta dinamikanya.

Adapun sasaran kebijakan TNI AU tahun 2012 adalah:
- Tercapainya right sizing organisasi;
- Terbentuknya Satrad 246 Timika;
- Skadron UAV di Lanud Supadio;
- Peningkatan dari Lanud tipe B ke tipe A (Supadio dan Pekanbaru);
- Peningkatan Lanud tipe C ke tipe B (El Tari Kupang, Patimura Ambon, Manuhua Biak, Ngurah Rai Bali);
- Peningkatan Lanud tipe D ke tipe C (Lanud Morotai);
- Pembentukan Sathar 14, Depohar 10;
- Perubahan nama lanud;
- Terwujudnya implementasi kerjasama dengan Negara sahabat di bidang pendidikan dan latihan operasi;
- Sinkronisasi kerjasama industri dalam negeri;
- Percepatan pengadaan alutsista dan peningkatan kesiapan pesawat;
- Inovasi teknologi litbang;
- Tertib perencanaan dan pengelolaan anggaran serta mewujudkan clean and good governance.

Sedangkan untuk melanjutkan program peningkatan kemampuan alutsista TNI Angkatan Udara, sudah dicanangkan dalam renstra pembangunan TNI AU tahun 2010-2014. Dari rencana tersebut tahun anggaran 2012 kebutuhan jam terbang sebanyak 60.061 jam digunakan untuk mendukung kesiagaan penanggulangan bencana, latihan awak pesawat, operasi, pendidikan dan kegiatan lainnya. Sedangkan radar membutuhkan jam operasional sebanyak 18 jam perhari.

Sumber: TNI AU

KSAU : Delapan Pesawat Tempur akan Lengkapi Alutsista

Amerika Serikat mengakuisisi Super Tucano dan diberinama A29. Indonesia membeli 16 unit Super Tucano dari Embraer. (Foto: A29)

26 Januari 2012, Yogyakarta: Delapan pesawat tempur akan didatangkan dari Rusia dan Brasil dalam waktu dekat untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

"Delapan pesawat tempur itu masing-masing terdiri atas empat pesawat Sukhoi dari Rusia, dan Super Tucano dari Brasil. Kedelapan pesawat tempur baru tersebut akan tiba di Indonesia pada 2012-2014," katanya di sela Rapat Pimpinan (Rapim) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tahap berikutnya, TNI AU hingga 2024 juga akan mendatangkan pesawat tempur Sukhoi enam unit, Super Tucano 16 unit, T-50 dari Korea Selatan 16 unit, dan F-16 sebanyak 30 unit.

"Dengan pengadaan alutsista tersebut TNI AU pada 2024 akan memiliki 180 pesawat tempur. Hal itu sebagai upaya TNI AU membangun kekuatan serta memodernisasi dan meregenerasi alutsista yang dimiliki saat ini," kata KSAU.

Ia mengatakan banyak pesawat yang dimiliki TNI AU saat ini sudah uzur, usianya rata-rata mencapai 30 tahun, sehingga perlu dilakukan peremajaan. Jika tidak diganti biaya perawatannya sangat tinggi, apalagi ada beberapa suku cadang pesawat yang sudah tidak dibuat lagi karena pabrik yang membuat pesawat sudah tidak beroperasi.

"Meskipun beberapa pesawat sudah tidak dapat berfungsi secara maksimal, kami telah memaksimalkan pesawat tempur untuk mengamankan wilayah Ngara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman luar. Hal itu juga didukung oleh penambahan alutsista yang didasarkan penghitungan dari kebutuhan pesawat tempur dan jumlah landasan yang bisa mengoperasikan pesawat tempur," katanya.

Menurut dia, TNI AU sudah mempunyai anggaran rutin dan alutsista melalui pemerintah yang cukup besar dan pengadaan di Kementerian Pertahanan (Kemhan) sehingga bisa membeli persenjataan dan pesawat untuk meningkatkan kemampuan alutsista dan memperkuat pertahanan negara di udara.

"Rencana kesiapan alutsista yang ada untuk melanjutkan program peningkatan kemampuan alutsista sudah dicanangkan dalam Rencana dan Strategi (Renstra) Pembangunan TNI AU 2010-2014," kata KSAU.

TNI AU Berkomitmen Wujudkan Pertahanan Udara Tangguh

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berkomitmen mewujudkan pertahanan negara di udara yang tangguh dengan memantapkan visi, persepsi, dan interpretasi dalam menghadapi perkembangan lingkungan yang dinamis, kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat.

"Komitmen dan konsistensi merupakan modal penting dalam mewujudkan pertahanan negara di udara yang tangguh dengan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang modern, personel yang profesional, motivasi dan dedikasi yang tinggi, dan organisasi yang efektif," katanya pada Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AU di Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta, Kamis.

Sumber: ANTARA News

Wednesday, January 18, 2012

Avionik F-5 Tiger akan Ditingkatkan oleh Perusahaan Asal Surabaya

Aktivitas programmer di Infoglobal. (Foto: infoglobal)

18 Januari 2012, Jakarta: Untuk mencapai Minimum Essential Forces (MEF), TNI berupaya meningkatkan kemampuan daya tangkal Alutsistanya dengan membeli Alutsista baru guna menggantikan yang lama, dan meningkatkan kemampuan Alutsista yang ada dengan mencangkokan teknologi terkini di Alutsista yang masih laik. Salah satu Alutsista lama TNI yang masih beroperasi namun perlu peningkatan teknologi, adalah pesawat tempur TNI AU, jenis F-5 E/F Tiger II.

Walau sempat diisukan F-5 E/F TNI AU akan digantikan dengan F-16, namun dengan telah dibukanya embargo militer Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia, pesawat tempur yang dibeli tahun 1980 dapat lebih maksimal menjalankan tugasnya.

Kepada itoday, PT. Infoglobal Teknologi Semesta mengatakan, rencananya perusahaan asal Surabaya inilah yang akan meningkatkan kemampuan avionik sang Macan TNI AU. Sehingga pesawat tempur yang dibeli untuk menggantikan Mig-21 TNI AU ini bisa tetap beroperasi di masa depan.

Pesawat tempur F-5 E/F TNI AU sendiri sebenarnya pernah ditingkatkan kemampuannya di 1995 oleh SABCA, perusahaan asal Belgia dalam proyek Modernization of Avionics and Navigation (MACAN).

Kesempatan yang didapatkan perusahaan lokal untuk meningkatkan kemampuan pesawat tempur TNI AU ini, disebabkan karena SABCA, Belgia yang menjalankan proyek MACAN dahulu sudah tidak ada lagi.

Hal tersebut dianggap sebagai sebuah peluang bagi PT. Infoglobal Teknologi Semesta untuk membuktikan diri, bahwa perusahaan lokalpun mampu meningkatkan kemampuan avionik pesawat tempur TNI AU. Apalagi, Infoglobal sudah berpengalaman mengganti avionik pesawat tempur jenis Hawk TNI AU.

Salah satu avionik F-5 E/F TNI AU yang akan ditingkatkan kemampuannya, adalah perangkat Inertial Navigation Unit (INU). Infoglobal sendiri sudah mampu membuat perangkat INU untuk F-5 yang juga bisa dipasangkan di F-16 milik AU.

Dan perangkat INU buatan Infoglobal sendiri bukanlah produk sembarangan. Alat navigasi lokal ini menyabet penghargaan Indigo Fellow 2010 untuk bidang pengembangan industri kreatif digital nasional.

Avionik Lokal di Lirik Negara Asing

Anak Indonesia kembali mencetak prestasi di luar negeri. Kali ini sebuah perusahaan avionik pesawat tempur, PT. Infoglobal Teknologi Semesta (Infoglobal) asal Surabaya, berhasil mengekspor produknya ke negara tetangga, Malaysia.

Ditemui itoday di acara Rapat Pimpinan TNI 2012 di Mabes TNI, Cilangkap, perwakilan Infoglobal mengatakan bahwa perusahaan asal Kota Pahlawan ini mendapatkan kepercayaan dari Malaysia, untuk mengganti avionik Digital Video Recorder (DVR) dan Radar Monitoring Unit (RMU) 18 pesawat tempur Hawk milik Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM).

DVR adalah alat perekam video, radar dan audio di kokpit pesawat dalam format digital. DVR merekam video dari kamera pesawat, simbologi data-data penerbangan, view yang disaksikan pilot serta suara percakapan di kokpit pesawat.

Sedangkan RMU adalah perangkatavionik yang berfungsi menampilkan informasi hasil tangkapan radar yang ada di pesawat tempur tipe Hawk 200.

Berita diliriknya produk lokal oleh asing ini menjadi kebanggaan tersendiri, dimana situasi sekarang, masyarakat dan juga pemerintah masih menganggap produk pertahanan dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk luar, hanya karena dianggap belum terbukti kualitasnya, alias belum battle proven.

Sumber: Indonesia Today

Saturday, January 14, 2012

Indonesia Pastikan Beli Enam Sukhoi Lagi


14 Januari 2012, Balikpapan: Pemerintah Indonesia dipastikan menambah enam lagi pesawat tempur bikinan Rusia jenis Sukhoi. Dengan pembelian enam Sukhoi itu maka praktis Indonesia lengkap memiliki satu skuadron atau 16 buah pesawat tempur canggih.

“Selain itu, kita juga akan tambah tiga kapal selam dan pesawat-pesawat F-16 sehingga di akhir masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang YUdhoyono, pertahanan kita akan kuat sekali,” kata Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (14/1/2012).

Menhan Purnomo Yusgiantoro berada di Balikpapan dalam rangka penutupan pelayaran Saka Bahari Nusantara yang dimulai sejak akhir Desember 2011.

“Itu karena sekarang ekonomi kita kuat sekali. Kita punya anggaran Rp150 triliun untuk pertahanan,” tambah Purnomo.

Saat ini TNI AU sudah memiliki 10 pesawat Sukhoi yang pengadaannya dimulai sejak masa Presiden Megawati Soekarnoputri. Saat itu pemerintah hanya menargetkan memiliki satu skuadron mini atau berkekuatan 12 pesawat Sukhoi SU-27 dan Sukhoi SU-30.

Seluruh kekuatan itu, termasuk kapal selam, bertugas di wilayah timur Indonesia, terutama menjaga alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) II, yaitu dari utara perbatasan dengan Malaysia dan Filipina, Selat Makassar, hingga kepulauan Nusa Tenggara di selatan.

“Dari Makassar hanya perlu sekitar satu jam bagi Sukhoi dengan terbang normal untuk mencapai perbatasan dengan Malaysia di Sabah. Sementara Sukhoi mampu terbang hingga mach-2 atau dua kali kecepatan suara,” kata Komandan Skadron Udara XI Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Letkol Penerbang Tonny Haryono dalam kesempatan terpisah.

Penambahan Sukhoi itu melengkapi penambahan armada tempur udara Indonesia, yang juga diperkuat pesawat-pesawat F-16. Pada 2014 mendatang TNI AU akan mendapat 24 pesawat F-16 Block 32 yang diretrofit jadi Block 52 sehingga meski bekas USAF (angkatan udara Amerika Serikat), pesawat tersebut kemampuan tempur sama seperti pesawat baru.

Gaji Prajurit TNI Naik Hingga 40 Persen

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa pemerintah telah merenumerasi atau menambah gaji prajurit TNI hingga 40 persen, pengadaan gaji ke-13, kenaikan berkala, uang lauk pauk, santunan bagi mereka yang cacat karena menjalankan tugas selain dari yang diberikan ASABRI (asuransi khusus TNI), dan juga beasiswa khusus untuk anak-anak anggota TNI.

Program peningkatan kesejahteraan prajurit TNI itu terkait dengan penambahan alokasi anggaran yang diberikan kepada TNI sebesar Rp 150 triliun. Selain program kesejahteraan anggaran sebesar itu juga digunakan untuk pembelian banyak suku cadang baru persenjataan TNI, baik Angkatan Darat, Angkatan Laut, maupun Angkatan Udara.

“Misi kita adalah mengembalikan kekuatan kita sebagai salah satu negara besar di dunia,” tegas Purnomo saat penutupan pelayaran Saka Bahari Nusantara, berlokasi di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (14/1/2012).

Adapun peralatan dan persenjataan yang akan diadakan terkait pertahanan keamanan, antara lain, rencana pembelian enam pesawat tempur Sukhoi, tiga kapal selam dan pesawat-pesawat F-16.

Sumber: Surya