Showing posts with label Helikopter Serang. Show all posts
Showing posts with label Helikopter Serang. Show all posts

Monday, March 26, 2012

Super Cobra Akan Jaga Perbatasan RI-Malaysia

27 Maret 2012

Helikopter serang Bell AH-1W Cobra (photo : Airliners)

Balikpapan (ANTARA News) - Selain akan dijaga dengan tank-tank Leopard 2A6, perbatasan Indonesia-Malaysia juga bakal dilengkapi satu skuadron heli tempur Bell AH-1W Super Cobra, kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) VI Mulawarman, Mayor Jenderal TNI Subekti.

"Kami akan tempatkan di Berau dan Nunukan," ujarnya di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa.

Saat ini Kodam VI Mulawarman sedang menyiapkan basis bagi skuadron heli tersebut. "Kami gunakan anggaran antara Rp17 miliar hingga Rp19 miliar untuk persiapan pangkalan skuadron heli tempur tersebut," katanya.

Super Cobra adalah helikopter buatan Bell, Amerika Serikat (AS), dan pengembangan dari Huey Cobra yang berjaya di perang Vietnam. Persenjataannya senapan mesin Gatling 20 mm, roket Hydra, rudal Sidewinder untuk pertempuran udara, dan rudal penghancur tank Hellfire.

"Super Cobra ini adalah pilihan utama. Namun demikian, kami punya pilihan lain yang lebih bersahabat dengan keuangan, yaitu heli serbaguna Agusta Westland," ujar mantan Asisten Perencanaan (Asrena) Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) tersebut.

Heli tempur buatan Bell itu senilai sekira 11,3 juta dolar AS (setara Rp96 miliar) per unit. Untuk komplet satu skuadron dengan 16 pesawat, maka pemerintah RI menyediakan tidak kurang dari Rp1,53 triliun. Harga tersebut belum termasuk persenjataannya.

Super Cobra berkemampuan jelajah hingga 510 km pada kecepatan maksimum 277 km per jam, kecepatan menanjak 8,2 meter per detik, dan bisa mengambang di udara pada ketinggian 3.720 meter.

Dengan berpangkalan di Nunukan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, maka SuperCobra hanya perlu beberapa menit untuk sampai di perbatasan dan menyelesaikan misinya.

Adapun helikopter Agusta Westland nilainya lebih murah. Heli tempur Agusta Westland AW 109LUH harganya 9 juta dolar AS (setara Rp76,5 miliar) per unit, atau total Rp1,22 triliun untuk satu skuadron.

Selanjutnya, Kodam Mulawarman akan dilengkapi tiga batalyon gabungan infanteri dan artileri yang memiliki persenjataan anti tank yang dapat membidik tank dari jarak 6 km, serta sistem peluncur roket serentak (multiple launch rocket system/MLRS) Astros II buatan Brazil.

"Dengan amunisi roket aslinya, jarak tembaknya bisa mencapai 300 km, atau 70 km dengan amunisi roket lain," jelas Subekti.

Bersama satuan tank Leopard, maka seluruh persenjataan dan personel baru ini akan tersedia secara bertahap mulai 2012. Menurut dia, akan sangat berdampak pada perimbangan kekuatan dengan negara-negara tetangga Indonesia, terutama yang berbatasan langsung di Kalimantan.

"Saat ini kita memang tidak memiliki musuh yang eksplisit, yang nyata. Tapi, setiap hari kita dilecehkan di perbatasan dengan adanya patok yang digeser-geser," demikian Pangdam VI Mulawarman, Mayjen TNI Subekti. (T.KR-NVA)

Thursday, February 9, 2012

Indonesia Berencana Beli 8 Helikopter Tempur Amerika

09 Februari 2012

Helikopter tempur Apache buatan Amerika (photo : Defense Industry Daily)

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana untuk membeli sejumlah helikopter tempur jenis Apache dari Amerika Serikat. Hal itu dilakukan untuk menambah kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista). "Kalau tidak salah sebanyak delapan unit," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantornya, Kamis, 9 Februari 2012.

Menurut dia, pengadaan delapan unit helikopter tempur jenis Apache itu bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika kepada pemerintah Indonesia. Rencana pembelian pesawat sejumlah itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. "Mereka tidak menawarkan, kita yang mencari," ujar Sjafrie.

Namun, ia menambahkan, hingga kini belum ada deal antara pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat ihwal pembelian helikopter tempur tersebut. Sejauh ini, yang sudah disepakati adalah pembelian pesawat tempur jenis F16 dari Amerika Serikat. "Kita semua tahu yang F16 sudah deal," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan saat ini banyak proyek pengadaan alutsista. Jenis alutsista yang dibeli Indonesia pun beragam, ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Yang jelas, pemerintah mengusahakan agar pembelian senjata tersebut sesuai dengan kebutuhan. "Prosesnya dari user (TNI AD, TNI AL atau TNI AU), ke Mabes TNI, baru ke Menhan. Dari situ (baru) ada pembelian," kata Purnomo.

Thursday, December 1, 2011

Final Tiger Chopper Handed to Defence

01 Desember 2011

Tiger Armed Reconnaisance Helicopter (photo : Jetphotos)

Defence company Australian Aerospace has handed over the last of 22 Tiger armed reconnaissance helicopters (ARH) to the Australian Defence Force (ADF).

In a formal ceremony at the company's facility in Brisbane, chief executive Dr Jens Goennemann said it was a great day for Australian Army Aviation, the ADF and Australian Aerospace.

He said it also marked another important milestone in the ARH program.

"The Tiger ARH has been a complex and demanding program and one not without its fair share of challenges," he said in a statement on Thursday.

"But extensive collaboration and a cooperative approach by Australian Aerospace, our industry partners and the various ADF branches involved has been a significant contributor to where we proudly stand today."

The Tiger helicopters were ordered in 2001 in a $2 billion deal to replace Vietnam War-era Iroquois and Kiowa helicopters. The first four were manufactured in France and the rest assembled in Brisbane by Australian Aerospace, a subsidiary of Eurocopter.

The project encountered a series of technical problems and delays and was at one stage on the government's projects of concern list.

Australian Tigers are set to be declared fully ready for operational service next year, however, French Tigers have been flying operationally in Afghanistan for the last two years.

Thursday's handover ceremony was attended by representatives of the Commonwealth, aviation and aerospace companies, the Australian Defence Force plus senior management of Australian Aerospace and its parent Eurocopter.

Dr Goennemann said delivery of final Tiger ARH022 did not signify an end to Australian Aerospace's Tiger relationship with the ADF.

"Australian Aerospace will continue to work with Army to support, maintain and bring this important new platform to maturity within the ADF," he said.

Tiger represents a very significant increase in capability for the ADF.

Australian Aerospace says it's the world's most advanced armed reconnaissance helicopter, featuring advanced technology which makes it faster and more agile than competitors, such as the US Apache.

Tiger carries a crew of two - pilot and gunner - and is equipped with an advanced day and night surveillance system, a 30-mm cannon, 70mm freeflight rockets and, unlike French Tigers, the US Hellfire air-to-ground missile.

Thursday, November 10, 2011

Indonesia Jajaki Beli Heli Apache & Tank Leopard Bekas dari Eropa

10 November 2011

Belanda akan menjual 60 tank Leopard 2A6 karena pemotongan anggaran pertahanannya (photo : Militaryphotos)

Jakarta - Krisis ekonomi di Eropa membuat sejumlah negara mengurangi anggaran militernya. Mereka pun berencana melepas sebagian peralatan tempur yang masih terbilang canggih dengan harga murah. Indonesia menjajaki beberapa alat persenjataan bekas dari Eropa.

"Saya kira second karena mereka mengurangi kekuatan militernya dan tentu saja alutsista-nya. Nah dari situ mereka banyak ingin melepaskan aset-aset mereka. Contohnya seperti heli Apache, itu kan heli powerfull, tank Leopard, main battle tank. Kita diminta untuk membuat inventarisasi, berapa, apa jumlahnya berapa," ujar Menhan Purnomo Yusgiantoro usai rapat soal alutsista di Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2011).

Namun menurut Purnomo, Presiden SBY berpesan agar tidak tergiur harga murah. Belanja alutsista pun tidak boleh melebihi pagu anggaran US$ 6,5 miliar yang ditetapkan pada Januari 2011. Kemenhan akan meminta daftar inventaris kebutuhan dari TNI AD, TNI AL dan TNI AU. Namun porsi terbesar akan diberikan pada TNI AL dan TNI AU untuk memodernisasi alutsista.

Belanda merupakan satu diantara 3 negara Eropa (yang lainnya adalah Yunani dan UK) yang saat ini mengoperasikan heli serang Apache (photo : Aviation Week)

"TNI AL sama TNI AU, karena kan itu alutsista-nya teknologi terbaru makanya perlu dijajaki juga nantinya," kata Purnomo.

Purnomo menambahkan syarat alutsista yang akan dibeli ini minimal harus memiliki masa pakai 20 tahun setelah diupgrade. Untuk negara-negara yang akan dijajaki dalam pembelian alutsista ini adalah Perancis, Belanda, Jerman, Italia dan Spanyol.

"Bapak presiden memberikan waktu selama dua minggu untuk kita menyikapi apa ada yang perlu tidak, kalau ada yang perlu lalu bagaimana, tapi dengan pesan tidak boleh melebihi dari pagu yang sudah ditetapkan," jelas Purnomo.

Wednesday, October 26, 2011

Wamenhan : Indonesia akan Membeli Heli Apache

26 Oktober 2011

Indonesia menjajaki untuk membeli helikopter AH-64 langsung dari Boeing (photo : Christhopher Ebdon)

Sjafrie:Kalau PT DI Bisa Lebih Murah, Kemenhan akan Beli Lebih Banyak

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG – Pemerintah mengklaim telah menyusun roadmap revitalisasi industri pertahanan. Termasuk penggunaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

“Sebagai gambaran kebutuhan TNI dengan menggunakan produk PT DI, saya sebutkan dalam satuan skuadron,’’ kata Wakil Menteri Pertahanan sekaligus Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan, Sjafrie Sjamsudin, di Bandung, Rabu (26/10). Satu skuadron adalah pesawat berkekuatan 12-16 pesawat.

Sjafrie mengatakan target kebutuhan TNI yang akan dipesan ke PT DI menggunakan acuan tenggat waktu per semester pertama 2014. Rinciannya, sebut dia, adalah satu skuadron helikopter serbu Bell 412. Kemudian, CN-295 juga akan ditambah satu skuadron untuk patroli maritim. TNI AU, tambah dia, butuh helikopter Cougar 725.

Dijajagi juga helikopter serang kolaborasi dengan Eurocopter (photo : Mike Vallentin)

Juga, helikopter serang untuk TNI AD. Khusus untuk TNI AD, helikopter Apache akan dibeli langsung dari Boeing, tapi juga ada pemesanan helikopter produk kolaborasi PT DI dengan Eurocopter.

Yang pasti, tambah Sjafrie, satu skuadron CN-295 akan diminta mulai awal 2012 sudah ada pengiriman bertahap sampai semester pertama 2014. Dia mengatakan kalau PT DI bisa memberikan harga lebih murah, Kementerian Pertahanan akan membeli lebih banyak produk perusahaan tersebut. “Karena anggarannya Rp 325 triliun,’’ kata dia.

Sjafrie berharap PT DI sudah bisa menentukan harga, karena komitmen dari Kementerian Pertahanan sudah ditandatangani. Harapannya, kerja sama ini bisa terealisasi segera. “Kami juga berharap manajemen produksi juga harus bagus, karena manajerial diperlukan terkait peluang Kementerian Pertahanan yang diberikan kepada PT DI untuk berproduksi,’’ tegas dia.

Saturday, October 1, 2011

Tiger Helicopters at Last Ready to Prowl at Night

01 Oktober 2011


The Australian Defence Force will stage a night-time helicopter training exercise in the Top End.

Four Tiger helicopters will be flown on week nights between 6pm and midnight over the next two months.

The operation will be managed from Darwin but defence says the majority of the training will take place in regional and low-population areas to limit disruptions to the public.

The ADF says the training marks a significant step forward in the use of reconnaissance and attack helicopters.

The helicopters taking part in the night exercises are among 22 Tigers ordered by the ADF under a $2 billion contract.

They had been limited to daylight operations because of delivery delays for night-vision helmets.

It is expected that some of the Tigers will see service in Afghanistan.

Diggers fighting in Afghanistan currently rely on US Black Hawk and Apache helicopters for air fire support and medical evacuations.