(Foto: media indonesia)
27 Mei 2012, Denpasar: Komando Daerah Militer IX/Udayana meningkatkan kapasitas Korem yang berada di daerah perbatasan dengan menempatkan posisi jenderal ditampuk pimpinan satuan tersebut.
"Untuk wilayah di bawah kami ada satu Korem yang ditingkatkan dengan dipimpin oleh jenderal bintang satu atau brigadir jenderal," kata Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel Wing Handoko, di sela-sela lomba sepeda santai rangkai peringatan HUT satuan tersebut ke-55, di Denpasar, Minggu.
Ia menjelaskan satuan yang ditingkatkan itu adalah Korem 161/Wirasakti, Kupang, yang dipimpin Brigjen TNI F Setiawan yang menggantikan Kolonel Inf Edison Napitupulu. Surat penetapannya, tambah Handoko, sudah disampaikan melalui Skep Pati No.Kep 294 sejak awal bulan ini dan saat ini tinggal menunggu serah terima jabatan saja.
"Tujuan dari peningkatan satuan itu guna lebih mengoptimalkan kemampuan korem tersebut dalam menghadapi berbagai persoalan terkait perbatasan yang banyak dinamikanya," ujarnya. Handoko mengatakan, beban satuan yang berada di wilayah perbatasan negara sangatlah berat sehingga membutuhkan pimpinan cakap dalam menghadapi persoalan dan mengkoordinasikan situasi keamanan di daerah tersebut.
"Selain di Korem Kupang, sejumlah korem lainnya di luar wilayah Kodam IX/Udayana yang letaknya di daerah perbatasan juga dipimpin oleh jenderal, di antaranya Kepulauan Riau dan Kalimatan Timur serta Barat," ucapnya.
Sumber: ANTARA News
Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Showing posts with label TNI AD. Show all posts
Sunday, May 27, 2012
Saturday, May 26, 2012
TNI AD dan Pemprov Kaltim Bangun Tiga Bandara di Perbatasan
25 Mei 2012, Balikpapan: Dengan dibangunnya tiga bandara dan sarana pendukungnya diantaranya Bandara Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai di wilayah perbatasan diharapkan akan mempercepat pembangunan di wilayah tersebut karena sangat strategis untuk membangun infrastruktur baik fisik maupun non fisik yang outputnya agar tetap terjaganya wawasan kebangsaan yang meliputi diantaranya keutuhan dan kehormatan negara Republik Indonesia, hal tersebut disampaikan oleh Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Ir. Drs. Subekti, M.Sc., M.PA. saat membuka acara penandatanganan program MOU pembangunan tiga bandara dan sarana pendukungnya antara Dirziad Brigjen TNI Zainal Arifin, S.IP dan Kadishub Kaltim Ir. Zairin Zain, M.Si. yang berlangsung di ruang Yudha Kodam VI/Mulawarman Balikpapan Jum’at (25/05).
Kegiatan penandatanganan perjanjian kerjasama antara TNI-AD dengan Pemprov Kaltim meliputi pembangunan tiga bandara dan sarana pendukungnya di wilayah perbatasan yang nantinya merupakan salah satu langkah berpikir bagi pemerintah pusat ini adalah salah satu langkah yang implementatif atau riil yang bisa dilaksanakan, bukan hanya konsep-konsep yg dikatakan sebagai konsep strategis tetapi hanya teoritis namun konsep yang strategis itulah yang harus kita jabarkan bersama hal ini disampaikan Pangdam VI/Mulawarman.
Pangdam VI/Mulawarman berharap kepada para pihak, dengan ditanda tanganinya Memorandum of Understanding (MoU) agar mempunyai tanggung jawab serta keterikatan sesuai bidang masing-masing dan mempertanggungjawabkan bersama-sama khususnya diantara kita semua dan masyarakat Kaltim pada umumnya yang memberikan anggaran dalam rangka melaksanakan program tersebut.
Sehingga kegiatan ini dapat dijadikan referensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah Kaltim yang telah mampu berbuat sesuatu untuk membuka daerah yang selama ini terisolir, baik secara cepat maupun lambat dan secara bertahap sehingga ketergantungan kita terhadap negara lain bisa kita kurangi.
Diakhir sambutannya Pangdam mengajak semua pihak antara satu dengan yang lain dapat bekerjasama secara optimal untuk memajukan kesejahteraan masyakat sehingga kedepan negara kita bisa dihormati oleh negara lain dan sejajar dengan negara lain.
Hal senanda juga disampaikan Gubernur Kaltim Dr. H. Awang Faroek Ishak dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Gubenur Bidang Polhukam Kolonel Armed Yudha Pratama bahwa penandatanganan naskah perjanjian kerjasama ini merupakan tindak lanjut penandatangan MoU antara TNI-AD yang ditanda tangani Kasad dengan Gubernur Kaltim Dr. H. Awang Faroek Ishak pada tanggal 8 Maret 2012.
Gubernur berharap dengan dilaksanakannya percepatan pembangunan di wilayah pedalaman dan perbatasan agar sejajar dengan negara tetangga Malaysia. Karena pembangunan di kawasan perbatasan baik darat maupun laut sangat penting untuk pertahanan dan kedaulatan negara. Semoga dengan dukungan TNI khususnya melalui kegiatan Operasi Bhakti Kartika Jaya, ketiga bandara dan sarana pendukungnya yaitu Bandara Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai tersebut dapat segera terbangun seperti yang diharapkan oleh warga setempat.
Utamanya untuk mempermudah akses transportasi udara, pengangkutan orang dan barang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan persatuan dan kesatuan serta kokohnya NKRI, demikian penyampaian Gubernur.
Kegiatan ini diakhiri dengan penandatanganan kerjasama MOU pembangunan tiga bandara dan sarana pendukungnya diantaranya Bandara Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai antara Dirziad dengan Kadishub Kaltim dengan disaksikan oleh Pangdam VI/Mulawarman dan Staf Ahli Pangdam. Turut hadir dalam acara tersebut Kadishub Kaltim, Dirziad, Danrem 091/Aji Surya Natakesuma, SKPD Pemprov Kaltim, staf Ahli Pangdam, para Asisten dan para Kabalak jajaran Kodam VI/Mulawarman.
Sumber: Penerangan Kodam VI/Mlw
Kegiatan penandatanganan perjanjian kerjasama antara TNI-AD dengan Pemprov Kaltim meliputi pembangunan tiga bandara dan sarana pendukungnya di wilayah perbatasan yang nantinya merupakan salah satu langkah berpikir bagi pemerintah pusat ini adalah salah satu langkah yang implementatif atau riil yang bisa dilaksanakan, bukan hanya konsep-konsep yg dikatakan sebagai konsep strategis tetapi hanya teoritis namun konsep yang strategis itulah yang harus kita jabarkan bersama hal ini disampaikan Pangdam VI/Mulawarman.
Pangdam VI/Mulawarman berharap kepada para pihak, dengan ditanda tanganinya Memorandum of Understanding (MoU) agar mempunyai tanggung jawab serta keterikatan sesuai bidang masing-masing dan mempertanggungjawabkan bersama-sama khususnya diantara kita semua dan masyarakat Kaltim pada umumnya yang memberikan anggaran dalam rangka melaksanakan program tersebut.
Sehingga kegiatan ini dapat dijadikan referensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah Kaltim yang telah mampu berbuat sesuatu untuk membuka daerah yang selama ini terisolir, baik secara cepat maupun lambat dan secara bertahap sehingga ketergantungan kita terhadap negara lain bisa kita kurangi.
Diakhir sambutannya Pangdam mengajak semua pihak antara satu dengan yang lain dapat bekerjasama secara optimal untuk memajukan kesejahteraan masyakat sehingga kedepan negara kita bisa dihormati oleh negara lain dan sejajar dengan negara lain.
Hal senanda juga disampaikan Gubernur Kaltim Dr. H. Awang Faroek Ishak dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Gubenur Bidang Polhukam Kolonel Armed Yudha Pratama bahwa penandatanganan naskah perjanjian kerjasama ini merupakan tindak lanjut penandatangan MoU antara TNI-AD yang ditanda tangani Kasad dengan Gubernur Kaltim Dr. H. Awang Faroek Ishak pada tanggal 8 Maret 2012.
Gubernur berharap dengan dilaksanakannya percepatan pembangunan di wilayah pedalaman dan perbatasan agar sejajar dengan negara tetangga Malaysia. Karena pembangunan di kawasan perbatasan baik darat maupun laut sangat penting untuk pertahanan dan kedaulatan negara. Semoga dengan dukungan TNI khususnya melalui kegiatan Operasi Bhakti Kartika Jaya, ketiga bandara dan sarana pendukungnya yaitu Bandara Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai tersebut dapat segera terbangun seperti yang diharapkan oleh warga setempat.
Utamanya untuk mempermudah akses transportasi udara, pengangkutan orang dan barang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan persatuan dan kesatuan serta kokohnya NKRI, demikian penyampaian Gubernur.
Kegiatan ini diakhiri dengan penandatanganan kerjasama MOU pembangunan tiga bandara dan sarana pendukungnya diantaranya Bandara Long Bawan, Long Apung dan Data Dawai antara Dirziad dengan Kadishub Kaltim dengan disaksikan oleh Pangdam VI/Mulawarman dan Staf Ahli Pangdam. Turut hadir dalam acara tersebut Kadishub Kaltim, Dirziad, Danrem 091/Aji Surya Natakesuma, SKPD Pemprov Kaltim, staf Ahli Pangdam, para Asisten dan para Kabalak jajaran Kodam VI/Mulawarman.
Sumber: Penerangan Kodam VI/Mlw
Friday, May 25, 2012
Penempatan Pasukan di Kabupaten Natuna Mendesak
25 Mei 2012, Natuna: Panglima Daerah Militer I/Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Lodewijk Freidrich Paulus menegaskan bahwa keberadaan pasukan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau sudah mendesak.
"Ini dilakukan demi menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman negara asing. Karena itu saya akan menambah jumlah pasukan di Natuna," katanya pada kunjungan kerja ke Natuna, 24-25 Mei, Jumat di Ranai.
Selain tujuan tersebut, salah satu faktor jarak antara Natuna dan Batam terlalu jauh. "Jika ada di Natuna, fungsi kontrol dapat dilaksanakan secara baik dan pembinaan akan lebih optimal," jelasnya. Saat ini, lanjutnya jumlah personil Batalyon Khusus yang terdiri dari dua kompi di Natuna secara bertahap akan dilakukan penambahan hingga berjumlah satu batalyon.
"Tentunya dilakukan secara bertahap," ujarnya sambil menekankan pentingnya dukungan dari Bupati, Forum Kerja Perangkat Daerah (FKPD), tokoh masyarakat dan masyarakat sendiri. Ia mengatakan dengan keberadaan kekuatan militer, salah satunya saling bekerja sama semua unsur termasuk TNI, ancaman kedaulatan dan keutuhan NKRI dari negara asing dapat ditanggal.
"Coba lihat Singapura yang hanya negara kecil, namun memiliki kekuatan militer dan selalu ditunjukkan. Itu menekankan bahwa Singapura adalah negara yang kuat," sebutnya.
Menurut dia pengalaman Bangsa Indonesia pada kasus Sempadan dan Ligitan juga Ambalat menjadi pelajaran sangat penting bagaimana NKRI dilecehkan. "Sehingga kita perlu memperkuat kekuatan ini, tentunya tidak hanya TNI AD saja. Tetapi secara gabungan seluruh TNI," ucapnya yang sudah lima kali ke Natuna, kawasan perbatasan ini. Jika sistem ini sudah tercipta dengan baik, lanjutnya apapun ancaman akan dapat ditangkal. "Tentunya kolaborasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah," ujarnya.
Faktor lain, saat ini pemerintah melakukan peningkatan anggaran sebesar 34 persen untuk alat utama sistem senjata (alusista). "Peningkatan ini cukup besar," tambahnya.
Batalyon Khusus TNI AD Ditempatkan di Pulau
Bupati Natuna, Ilyas Sabli mengungkapkan, terkait penempatan satu Batalyon Khusus (Yonsus) TNI AD akan terlaksana jika penempatan personil difokuskan di pulau-pulau selain Pulau Bunguran.
"Jadi tidak terfokus di Ranai atau Pulau Bunguran ini," tegas Ilyas Sabli usai kunjungan Panglima Daerah Militer I/Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Lodewijk Freidrich Paulus, di Ranai, Kamis.
Dia mengatakan, penempatan satu batalyon yang berjumlah 630 personel yang terdiri dari lima kompi tersebut sebaiknya berada di pulau-pulau. Hal ini, menurutnya menjawab kekhawatiran sebagian masyarakat Natuna yang keberatan akan penempatan satu Batalyon khusus TNI AD tersebut.
Diketahui, penempatan satu Batalyon Khusus TNI AD ini sempat terjadi penolakan dari sebagian masyarakat Kabupaten Natuna. Keberadaan Batalyon khusus ini juga tak terlepas dari ketahanan keamanan seluruh wilayah NKRI.
"Selain itu, menjawab kekhawatiran masyarakat akan dampak terhadap masyarakat terkait keberadaan satu Batalyon Khusus TNI AD ini sudah dijamin oleh Pangdam," jelasnya. "Cukup satu kompi saja di Bunguran," ujarnya sambil menyebutkan akan bermarkas di Desa Sepempang dengan luas markas 10 Ha.
Menurutnya, semua tindakan di luar kedisplinan akan ditindak di Natuna. "Tidak seperti selama ini, penanganan secara hukum dilakukan di luar Natuna," sebutnya.
Sumber: ANTARA News Kepri
Wednesday, February 15, 2012
Busi Vespa Jadi Penggerak Utama Tank
Kasdam IV/Diponegoro Brigjen TNI Dedi Kusnadi (depan, dua dari kanan) mengendarai tank APC (armored personel carrier) buatan Prancis dari Batalyon Kavaleri 2/Tank bersama sejumlah anggota TNI, di Lapangan Parade Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jateng, Rabu (15/2). Batalyon Kavaleri 2/Tank saat ini memiliki puluhan tank berbagai jenis, seperti APC dan AMX buatan tahun 1950-an yang suku cadangnya sudah tidak tersedia lagi sehingga jika terjadi kerusakan para teknisinya terpaksa memodifikasi berbagai komponennya. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/pd/12)16 Februari 2012, Semarang: Keterbatasan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki TNI tidak menyurutkan langkah para prajurit itu untuk tetap semangat berjuang.Salah satu jajaran TNI yang berhasil berinovasi adalah Batalion Kavaleri 2/Tank.
Batalion yang selalu berurusan dengan alat tempur berat tank ini cukup direpotkan dengan puluhan tank yang sudah berusia tua. Onderdil mesin tank yang dimiliki batalion ini sudah tidak dijual di pasaran umum. Alhasil jika mesin tank rusak, akan susah untuk memperbaikinya. Namun,para prajurit Yon Kav 2/Tank tidak kehilangan akal.Mereka pun mencoba berinovasi dengan onderdil lain untuk menggantikan fungsi onderdil tank yang sudah rusak dan uzur atau istilahnya “dikanibal”. Hasilnya sungguh di luar dugaan.
Busi tank jenis AMX 13 pun mampu digantikan hanya dengan busi vespa. Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro Brigjen TNI Dedi Kusnadi Thamim mengaku bangga atas kreasi dan inovasi prajurit Yon Kav 2/Tank tersebut.“Kita akan melakukan penelitian lebih mendalam dan akan mengikutkan inovasi tersebut dalam lomba cipta karya teknologi militer,yang kemudian akan dipatenkan,” ungkap Dedi seusai mencoba Tank AMX 13 yang sudah dikanibal dengan busi vespa di Lapangan Parade Makodam IV/Diponegoro,Semarang, kemarin.
Kasdam mengaku,setelah melakukan uji coba,tidak bisa merasakan mana tank yang kanibal dengan tank asli.Dari segi manuver kemampuan dan kecepatan,tidak berbeda. “Sepuluh tahun yang lalu saya pernah mengendarai tank jenis yang sama dan masih asli, rasanya tidak ada yang beda,” ungkapnya. Dengan inovasi yang dilakukan,“kuda besi”jenis AMX 13 buatan Prancis yang sudah berusia setengah abad itu masih tetap bisa difungsikan secara maksimal. Kasdam mengatakan,inovasi yang dilakukan Yon Kav 2/Tank ini perlu ditiru kesatuan lain dalam rangka kemajuan satuan dan efisiensi peralatan di tengah minimnya anggaran belanja alutsista.
KomandanYon Kav 2/Tank Letkol Kav Dicky Armunanto Mulkan mengaku, inovasi tersebut berupa kanibalisme suku cadang itu terpaksa dilakukan karena suku cadang untuk tank jenis AMX 13 sudah tidak diproduksi lagi. ”Seperti businya,sekarang ini sudah tidak ada.Karena itu, kita ganti dengan busi vespa yang modifikasi dengan cara dibuatkan konventer (sambungan),maka jadilah busi motor menjadi busi tank,” ungkapnya.
Dicky mengaku,Yon Kav 2/Tank memiliki 2 jenis AMX 13,yakni AMX 13 tipe tempur yang mengusung persenjataan berat Cannon 105 mm, senapan mesin berat (SMR) Browning 50 atau kaliber 12,7 mm,senapan mesin ringan (SMR) kaliber 7,62 mm,dan AMX 13 tipe Angkut Personel Carrier (APC). Selain busi,inovasi lain yang dilakukan prajurit Yon Kav 2/Tank adalah memodifikasi senjata SMB. Modifikasi ini mengadopsi senjata air soft gun.“Pada senjata yang asli,rangkaian penggeraknya diganti dengan peranti kuningan yang berfungsi sebagai pelontar amunisi dengan memanfaatkan tekanan gas sehingga tidak merusak yang asli,”paparnya.
Rangkaian yang dibuat dalam waktu hanya satu bulan oleh Koptu Hadi Mulyono itu merupakan rakitan dari bahan kuningan blok diameter 3,88 mm,pipa kuningan diameter 16mm, serta as kuningan diameter 16 dan 28 mm. Inovasi lainnya adalah pengembangan sistem CCTV pada tank.Kamera tersembunyi yang dipasang dalam tank itu dapat langsung online sehingga bisa langsung diakses pimpinan.
“Dengan kamera yang dipasang di ranpur,akan memudahkan pemberian instruksi kepada pengemudi tank karena komando atas bisa langsung memantau,”ungkapnya.
Sumber: SINDO
Monday, February 13, 2012
Modernisasi Alutsista Batalyon Kavaleri Mendapatkan MBT
Leopard 2A6 AD Kanada. (Foto: Dutch Defence Press)13 Februari 2012, Medan: Acara Syukuran dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kavaleri ke 62 dilaksanakan pemotongan tumpeng oleh sesepuh Yonkav 6/Serbu Kolonel Kav (Pur) Soekarno didampingi Danyonkav 6/Serbu Letnan Kolonel Kav Sutrisno Wibowo, di Makoyon Kavaleri 6/Serbu Jln. Asam Kumbang Medan, Minggu (12/2).
Danyon Kavaleri 6/Serbu Letnan Kolonel Kav Sutrisno Wibowo membacakan amanat Danpusenkav Brigadir Jendral TNI Purwadi Mukson, S.IP pada acara Syukuran merayakan Hari Ulang Tahun Kavaleri ke 62 di Makoyon Kavaleri 6/Serbu jalan Asam Kumbang Medan, Minggu (12/2).
Danyonkav 6/Serbu membacakan amanat Danpusenkav mengatakan syukuran ini merupakan tradisi sekaligus menjadi wahana untuk intropeksi diri terhadap kegiatan yang telah dilakukan dalam kurun waktu 62 tahun masa pengabdian Korps Baret Hitam di lingkungan TNI AD, dalam membangkitkan motifasi dan berbuat yang lebih baik pada pelaksana tugas kedepan dengan berbagai perkembangan yang akan dihadapi, guna mewujudkan Korps Kavaleri yang selalu “jaya dimasa perang dan berguna dimasa damai” dengan mempedomani arah kebijakan yang telah ditetapkan pimpinan TNI AD. Dengan kesenjataan Kavaleri yang merupakan salah satu kesenjataan utama TNI AD, dan mempunyai tugas pokok dalam menyelenggarakan pertempuran darat dengan menggunakan peralatan utama dengan ciri mobilitas tinggi dan lindung lapis baja, harus mampu menampilkan “Tri Daya Caktinya” untuk memberikan daya gerak, daya tembak dan daya kejut yang tinggi dalam setiap pelaksanaan tugas yang diberikan.
Lebih lanjut Danyonkav menyampaikan berkaitan dengan modernisasi Alutsista, untuk mencapai pembangunan kekuatan pokok minimum atau Minimum Essential Force (MEF) salah satunya adalah dengan pengadaan Alutsista yang baru, dalam hal ini, Kavaleri akan mendapatkan Alutsista Ranpur kelas MBT, sehingga Kavaleri TNI AD memiliki teknologi Alutsista Ranpur setara dengan negara-negara lain, serta akan memiliki kapabilitas yang lebih besar dan dapat mengembangkan taktik dan strategi baru, baik dalam OMP (Operasi Militer Perang) maupun OMSP (Operasi Militer Selain Perang), serta meningkatkan mobilitas dan daya tembak atau daya gempur satuan Kavaleri TNI AD yang sejalan dengan kemajuan zaman. Hal ini selaras dengan tema yang di usung yaitu : ” Melalui modernisasi Alutsista, Kavaleri TNI AD siap mewujudkan satuan yang dapat dibanggakan jaya dimasa perang berguna dimasa damai “.
Sumber: Kodam I/BB
Monday, February 6, 2012
Kodal Pasukan Reaksi Cepat TNI Beralih

7 Februari 2012, Depok: Komando pengendalian Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI kembali beralih dari Divisi-2/Kostrad ke Divisi-1/Kostrad.
Upacara alih kodal dilaksanakan di Markas Komando Divisi-1/Kostrad di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Selasa, dipimpin Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono.
Panglima TNI mengatakan PPRC adalah komando tugas gabungan TNI yang dibentuk khusus dan langsung bertanggung jawab kepada Panglima TNI.
Komando pengendalian PPRC selama dua tahun sekali beralih dari wilayah barat (Divisi-1 Kostrad) ke wilayah timur (Divisi-2/Kostrad), dan sebaliknya secara rutin, guna memberikan pengalaman tugas PPRC secara luas dan komprehensif.
"PPRC bertugas melaksananan tindakan reaksi cepat terhadap berbagai ancaman yang terjadi, yakni menangkal, menyanggah awal dan menghancurkan musuh yang mengganggu kedaulatan Republik Indonesia," katanya.
Agus menegaskan perkembangan lingkungan strategis global kini tengah dihadapkan pada ancaman pemanasan global, bencana alam, perkembangan teknologi yang tidak merata di negara berkembang, perdagangan dan investasi.
"Sedangkan pada tingkatan regional kita dihadapkan pada isu-isu perbatasan negara, separatisme, kejahatan lintas nasional yang berujung pada permasalahan di tingkat nasional," ujarnya.
PPRC sebagai bagian dari TNI selaku komponen pertahanan negara dituntut mampu mempersiapkan diri sebaik-baiknya guna menghadapi berbagai ancaman dan gangguan keamanan yang terkait dengan kedaulatan negara serta keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa Indonesia, tukas Agus.
Panglima TNI mengatakan dalam mengemban tugas itu PPRC TNI harus mampu meningkatkan kecepatannya dalam melaksanakan manuver, tepat dalam menuju sasaran dan wilayah tertentu dan singkat dalam proses dan waktu yang dibutuhkan.
Terkait itu, lanjut dia, TNI telah melakukan beberapa tahapan pendidikan dan latihan untuk mewujudkan personel PPRC yang profesional, tangguh dan memiliki mental juang yang tinggi menghadapi berbagai situasi dan kondisi, dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai.
Usai memimpin upacara alih kodal, Panglima TNI meninjau sejumlah persenjataan dan perlengkapan PPRC seperti SS2 V4, senjata FN Minimi, perlengkapan Lintas Udara, dan senapan mesin berat M2HB Browning.
Tak hanya itu, Panglima TNI juga meresmikan gedung pusat PPRC TNI dan melakukan telewicara dengan sejumlah komando satuan tugas PPRC di beberapa titik.
Sumber: ANTARA Jatim
Thursday, February 2, 2012
Modernisasi Alutsista TNI AD Bertahap

2 Februari 2012, Yogyakarta: Masyarakat sudah mahfum bahwa persenjataan TNI-AD banyak yang sudah lama. "Pembaruan persenjataan itu untuk menggantikan yang telah tua," kata Letnan Jenderal TNI Azmyn Y Nasution, di Yogyakarta, Kamis.
Dia menjadi salah satu pembicara dalam seminar "Membangun Karakter bangsa Melalui Pendidikan Wawasan Kebangsaan" di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, sebagian besar persenjataan TNI-AD telah berusia tua, sehingga perlu diganti. Pergantian akan dilakukan secara bertahap.
"Pemerintah telah menyediakan anggaran yang cukup memadai. Anggaran itu bukan untuk menambah tetapi mengganti persenjataan yang telah tua," katanya.
Ia mengatakan, alutsista yang akan diperbarui antara lain senjata, panser, dan tank. Jika pengadaan Tank Leopard nanti disetujui, maka TNI-AD akan menggunakan tank jenis itu.
"Pengadaan Leopard akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan satu batalyon, yakni Batalion Kavaleri 8 Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur," katanya.
Sumber: ANTARA News
Tuesday, January 24, 2012
KSAD: TNI AD Akan Tingkatkan Kemampuan Intelijen
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kelima kanan bawah) berfoto bersama dengan sejumlah menteri KIB II, Panglima TNI, Kapolri dan peserta Rapim TNI dan Polri tahun 2012 di halaman komplek PTIK, Jakarta, Jumat (20/1). Rapim yang diikuti oleh 402 peserta terdiri atas 173 perwira tinggi TNI dan 229 perwira tinggi Polri itu digelar untuk menyampaikan informasi arah kebijakan TNI dan Polri kepada seluruh jajaran dalam mendukung program pemerintah untuk menyejahterakan rakyat. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/pd/12)25 Januari 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan TNI AD akan meningkatkan kemampuan intelijennya guna mengantisipasi ancaman terorisme.
"Kita berkeinginan meningkatkan kemampuan satuan intelijen dalam rangka pemantauan, khususnya terorisme di daerah," kata Pramono Edhie di sela Rapat Pimpinan TNI Angkatan Darat Tahun 2012, di Jakarta, Rabu.
KSAD mengatakan rencana peningkatan kemampuan personel TNI AD itu juga meliputi komando kewilayahan yang dimulai dari tingkat babinsa hingga Komando Daerah Militer (Kodam).
"Akan ada latihan khusus tingkat brigade, yang diikuti tiga batalyon beserta satuan pendukung dan latihan antar kecabangan Angkatan Darat," kata Pramono Edhie.
Terkait potensi ancaman yang seringkali muncul di wilayah perbatasan Indonesia, Pramono Edhie mengatakan penggelaran operasi satuan Angkatan Darat sudah menjangkau berbagai titik rawan perbatasan.
"Kalau di Papua kita ada empat batalyon, Kalimantan dua batalyon, juga satu batalyon masing-masing dekat perbatasan Timor Leste dan wilayah rawan konflik di Ambon," katanya lagi.
Menurut Pramono Edhie semua itu dilakukan dalam rangka menjaga kedaulatan sambil meningkatkan kewaspadaan semua rakyat Indonesia yang ada di perbatasan.
"Saya bisa pastikan nasionalisme rakyat yang tinggal di perbatasan itu sangat tinggi, kedaulatan tetap milik kita," kata Pramono Edhie.
"Kalau soal ancaman, pada prinsipnya kita masih berprinsip bahwa negara tetangga itu masih kawan, sehingga upaya penyelesaian konflik secara damai tetap diutamakan," tegasnya.
Wilayah komando TNI Angkatan Darat saat ini terbagi menjadi 19 Komando Deaerah Militer (Kodam) yang tersebar mulai wilayah paling Barat, Kodam Iskandar Muda, hingga Kodam XVII/Cendrawasih di Papua.
Sumber: ANTARA News
Friday, January 13, 2012
Anggaran Rp 14 Trilyun untuk Modernisasi TNI AD
TNI AD berencana membeli MBT Leopard eks-Belanda untuk menyetarakan kekuatan dengan negara di kawasan. Rencana ini ditentang oleh kalangan di DPR dan LSM. (Foto: Bundeswehr)13 Januari 2011, Jakarta: TNI Angkatan Darat mengalokasikan dana untuk modernisasi alutsista sebesar Rp14 Triliun. Modernisasi ini dilakukan karena alat utama sistem senjata (alutsista) milik TNI AD sudah banyak yang tua.
“Kita tidak pernah beli alutsista yang cukup besar. Kondisinya saat ini sudah tua, karenanya perlu modernisasi,”kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dalam peringatan HUT Dinas Penerangan TNI AD (Dispenad) di Jakarta, Jumat (13/1).
Pramono mencontohkan, tank-tank yang dimiliki TNI AD saat ini sudah berumur 40 tahun dan masih digunakan.
Pramono menuturkan, kekuatan persenjataan TNI AD sudah tertinggal jika dibandingkan negara tetangga. Namun begitu, dia menegaskan pembelian itu tidak dimaksudkan untuk bersaing dengan negara tetangga. “Bukan berarti mau lawan tetangga. Kalau mau latihan bersama, kelasnya sudah beda, kami keteteran,”tuturnya.
Lalu kenapa baru dilakukan modernisasi? “Sekarang baru punya uangnya, ya baru dilakukan sekarang,”jelasnya.
Sumber: Jurnas
Sunday, December 18, 2011
KSAD Seriusi Pembelian 100 Tank Leopard
Leopard 2. (Foto: KMW)18 Desember 2011, Jakarta (JPPN): Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, menyatakan bahwa pihaknya tengah berusaha merealisasikan pembelian 100 unit tank Leopard 2A6. Ia menegaskan pembelian tank buatan Jerman dengan total harga Rp 14 triliun itu sebagai wujud modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista).
"Setelah 20 tahun tidak melakukan modernisasi (Alutista), yang kami butuhkan tank besar, tidak ada perubahan," kata Pramono di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Minggu (18/12).
Dikatakannya, pemilihan tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard 2A6 sudah melalui berbagai kajian dari beberapa aspek. Di antaranya aspek strategi militer, yakni susunan kekuatan militer yang dibangun dan dipersiapkan sejak dini dengan asumsi adanya ancaman yang paling mungkin.
Adik ipar Presiden SBY itu menambahkan, setiap negara dalam strategi militernya pasti fokus kepada disain kapabilitas objektif, berupa susunan satuan-satuan tempur, bantuan tempur (banpur), dan unsur pendukung secara terintegratif dan komprehensif. Jika dilihat dari taktik bertempur matra darat, kata Pramono, tank Leopard adalah pilihan yang tepat untuk menghadapi kekuatan darat lawan yang memiliki tank MBT sekelasnya.
Dalam taktik bertempur kekuatan tank tempur harus dihadapi dengan tank tempur pula. "Ditinjau aspek itu, keunggulan MBT Leopard bisa digunakan untuk kemampuan daya gerak, tembak, daya kejut dan penghancuran," tegasnya.
Belum lagi, kata Pramono, keunggulan disain teknologinya adalah besaran kaliber meriam Leopard sebesar 130 milimeter, jarak capai, kemampuan penetrasi dan penghancurannya, stabilizer system, serta dan armor protection. Leopard juga punya keunggulan yang sangat menentukan yaitu, kemampuan firing control system dan automatic target tracking system yang sangat akurat, serta auto ammo loader guna mempercepat daya tembaknya, thermal imaging sight, laser range finder, dan balistic computer.
Aspek geografi Indonesia juga menjadi pertimbangan untuk menentukan pemilihan MBT Leopard yang beratnya 63 ton. Leopard, kata dia, dapat bergerak dan bermanuver dengan leluasa di wilayah Indonesia, kecuali di wilayah tertentu yang tidak memungkinkan bagi manuver tank tempur berat.
Selain itu aspek training of trainer (TOT) Rheimetal yang merupakan pabrik Tank Leopard di Jerman memberikan dukungan sepenuhnya berupa trasfer teknologi baik berupa pemeliharaan, operasional dan pengadaan amunisinya bersama PT Pindad, Bandung. "Ini alasan kami memilih MBT Leopard. Sisi transfer of technology juga menjadi pertimbangan," tandas Pramono.
Rencana TNI Beli Tank Bekas Patut Dicurigai
Rencana TNI AD membeli 100 unit Tank Leopard 2A6 buatan Jerman ternyata mengundang kecurigaan. Anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan, Tjahjo Kumolo, menilai tank jenis Leopard secara geografis hanya tepat ditempatkan di Jawa. Padahal, ancaman sesunggunya terhadap kedaulatan NKRI justru di wilayah perbatasan.
Menurutnya, Komisi I DPR sudah mempertanyakan rencana pembelian Leopard bekas itu terlebih lagi jika nantinya hanya ditempatkan di Jawa. Tahjo mengatakan, untuk kondisi medan di Indonesia seharusnya dicari jenis tank yang lebih dinamis untuk ditempatkan di perbatasan.
Politisi senior di DPR yang juga Sekjen PDI Perjuangan itu menegaskan, semestinya tank yang akan dibeli juga lebih canggih dan sesuai medan geografis di wilayah perbatasan guna mempertahankan NKRI. "Kok malah direncanakan tank ukuran besar yang akan ditempatkan di sekitar Jakarta. Apa ada musuh negara lain yang mengancam di Jawa dan sekitar Jakarta? Apa tidak hanya untuk mempertahankan Jakarta saja dara demonstran rakyat Indonesia yang diantisipasi semakin bertambah ngamuk di th 2012? Ini yang harus diperhatikan agar jangan terkesan main beli barang bekas lagi," kata Tjahjo saat dihubungi JPNN, Minggu (18/12) sore.
Ditambahkannya, jika hanya untuk antisipasi demonstrans maka aparat keamanan cukup meningkatkan kemampuan riot control (kendali kerusuhan). Pengunjuk rasa yang rusuh, sebut Tjahjo, juga cukup dihadapi dengan tameng, pentungan, gas air, atau maksimal peluru karet yang penggunannya tergantung situasi dan kondisi di lapangan.
Karenanya Tjahjo justru curiga dengan rencana pembelian 100 unit tank Leopard bekas itu. "Tank berat seharusnya untuk medan tempur di perbatasan, bukan untuk riot control menghadapi sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah seperti Syria, Mesir, dan Yaman. Penguasa otoriter yang gelap mata membantai rakyat sendiri. Mereka satu per satu tumbang berjamaah. "Apa ini akan ditiru Indonesia?" ucap Sekjen PDI Perjuangan itu.
Tjahjo pun mengingatkan soal rencana Amerika Serikat menempatkan kekuatan tempurnya di negara-negara tetangga Indonesia. Antara lain penempatan 2500 marinir AS di di Darwin, Australia, disusul rencana penempatan kapal-kapal tempur pantai (littoral combat ships/LCS ) dan pesawat patroli P-8A di Singapura dan Philipina. Menurutnya, gelar kekuatan tempur AS di wilayah Asea Tenggara dan Australia itu hanya akan menimbulkan ketegangan-ketegangan baru di wilayah Asean dan sangat berpengaruh terhadap kedaulatan NKRI.
"Harusnya ini yang diantisipasi oleh pemeirntah Indonesia dalam pengadaan alutsista. Arahnya untuk memperkuat pertahanan di perbatasan yang sudah terkepung oleh pangkalan-pangkalan militer kekuatan besar," pungkasnya.
Sumber: JPNN
Thursday, December 15, 2011
Kasdam : 20 Tahun Alutsila TNI tidak Dimoderisasi

15 Desember, Mamuju (ANTARA News): Kepala Staf Kodam VII Wirabuana Makassar, Brigjend Hary Mulyono menyampaikan, sudah 20 tahun alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI tidak pernah dimodernisasi sehingga tertinggal dari negara lain.
Saat menjadi pemimpin upacara pada peringatan Hari Juang Kartika yang dilaksanakan di anjungan pantai Manakarra, Mamuju, Sulbar, Kamis, ia menegaskan TNI akan melaksanakan modernisasi alutsista untuk tiga tahun kedepan.
"Perkembangan ekonomi Indonesia dewasa ini semakin baik, sehingga negara telah mengalokasikan dana cukup besar bagi TNI angkatan darat untuk melaksanakan modernisasi," ujarnya.
Upacara peringatan Hari Juang Kartika ini juga dihadiri langsung, gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, Wakil Gubernur Sulbar, Aladin S Mengga, Bupati Mamuju, Suhardi Duka, Wakil Bupati Majene, Fahmi Massiara dan para Dandim se-Sulbar.
Selain itu, turut hadir ketua DPD partai Demokrat Sulbar, H Aras Tammauni, para kepala SKPD lingkup Pemprov Sulbar dan para kepala SKPD lingkup pemkab Mamuju.
Dalam kesempatan itu, Kasdam menyampaikan, panglima Kodam VII Wirabuana tidak sempat hadir dalam acara ini karena harus menghadiri pelaksananaan yang sama di luar Sulawesi.
"Wajarlah jika negara telah memberikan alokasi anggaran yang besar untuk modernisasi alutsista untuk tiga tahun kedepan. Sebab, sudah 20 tahun alutsita tidak pernah dimodernisasi,"ucapnya.
Ia mengatakan, pemberian anggaran untuk alutsista tersebut dituujukan agar TNI angkatan darat dalam penguasaan alutsista mempunyai kesamaan teknologi dengan negara-negara tetangga.
"Jika kita memiliki kesamaan teknologi maka TNI pun bisa mengikuti latihan bersama yang selama ini dilakukan para negara sahabat,"jelasnya.
Kasdam juga menyampaikan jika di internal TNI telah melaksanakan reformasi. Keberhasilan itu ditandai dengan kehadiran TNI yang bisa diterima semua lapisan masyarakat.
"TNI adalah angkatan perang yang menjadi kebanggaan rakyat karena mampu melindungi kemerdekaan negara Indonesia dan menjamin keamanan rakyat," ucapnya.
Ia juga menambahkan, sejarah telah membuktikan bahwa efektivitas dan sinergitas TNI-AD dan rakyat merupakan satu kekuatan yang tak terpisahkan.
Itu dibuktikan kata dia, dengan keberhasilan mengatasi berbagai gangguan dan ancaman dalam perjalanan sebagai bangsa yang merdeka.
"Hendaknya kita pahami bersama bahwa persatuan bangsa ini merupakan syarat utama dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi saat ini. Tanpa kesatuan dengan rakyat, mustahil tercipta TNI menjalankan perannya sebagai kekuatan penangkah, penindak, dan pemulih," paparnya.
Menurut Kasdam, integritas dan eksistensi NKRI harus dijaga oleh semua komponen bangsa. Maksudnya, setiap prajurit TNI harus mencerminkan tekad kuat, profesional, sekaligus memancarkan semangat untuk terus mengokohkan kerjasama dengan semua komponen.
"Saya berharap Hari Juang Kartika ini tidak sekadar menjadi penghias. Momen ini harus diimplementasikan dalam pola pikir, sikap, dan tindakan, sesuai tugas dan peran kita sebagai alat pertahanan negara," pesan Kasdam.
Sumber: ANTARA News
Atraksi "Pembebasan Sandera Teroris" Diperagakan TNI

15 Desember 2011, Mamuju (ANTARA News): Pasukan anti teror Kodam VII Wirabuana Makassar memperagakan aksi pembebesan sandera yang disekap teroris dalam rangkaian peringatan Hari Juang Kartika yang dipusatkan di anjungan pantai Manakarra, Mamuju, Sulbar.
Kegiatan atraksi ini dilakukan oleh pasukan anti teror setelah pelaksanaan upacara peringatan Hari Juang Kartika yang dipimpin langsung, Kasdam VII Wirabuan, Hari Mulyono.
Dalam aksinya, sebuah bus yang mengantar "Gubernur Sulbar" tiba-tiba dihadang dan dibajak teroris.
Mobil milik Dinas Perhubungan Pemprov Sulbar yang digunakan teroris ini menyekap "Gubernur" sehingga pasukan anti teror melakukan upaya pembebesan sandra.
Aksi yang dipertontonkan prajurit TNI ini sempat menyita perhatian ribuan masyarakat karena baru pertama kalinya menyaksikan atraksi yang dilakukan oleh prajurit TNI.
Bahkan, ribuan masyarakat yang ada di tenda pun sempat terkejut mendengarkan suara tembakan berkali-kali dalam atraksi itu.
Aksi penyenderaan itu sangat menegangkan, sebab para teroris juga menggunakan senjata berlaras panjang.
Namun dengan kemampuan khusus serta pengaturan strategi yang matang, pasukan khusus anti teror Kodam VII mampu melumpuhkan para teroris dan memebaskan "gubernur" dari sekapan teriris.
Sangat menegangkan ketika aksi pembebasan dimulai. Puluhan prajurit TNI yang menggunakan roda dua dan menggunakan mobil menghalau laju bus.
Saat bus berhenti, dua regu menggunakan dua kendaraan roda empat datang dari arah belakang dan mengepung teroris.
Sungguh luar biasa, aksi yang dipertontonkan prajurit TNI yang tangguh menyita perhatian semua orang. Betapa tidak, bus yang dibajak teroris dihacurkan kaca sampingnya.
Aksi tersebut seperti adegan sungguhan, apalagi beberapa kali senjata ditembakkan ke udara.
"Semua terkejut karena tiba-tiba suara tembakan berasal dari dalam tenda tamu undangan. Ternyata, itu hanya atraksi TNI yang diperagakan dalam membebaskan sandera yang dilakukan oleh teroris,"kata Irwan, salah seoranbg warga Mamuju yang ikut menyaksikan atraksi TNI.
Ia mengatakan, dirinya baru pertama kali menyaksikan atraksi yang dilakukan prajurit antiteror.
"Tegang juga karena suara tembakan tiba-tiba meledak disamping saya. Tetapi saya sadar ini hanya atraksi saja,"pungkasnya.
Sumber: ANTARA News
Persenjataan TNI AD Dimodernisasi
Sejumlah prajurit TNI AD berbaris pada upacara peringatan Hari Juang Kartika, di lapangan parade Kodam IV/Diponegoro, di Semarang, Jateng, Kamis (15/12). TNI AD akan melaksanakan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam tiga tahun kedepan, karena selama ini lebih dari 20 tahun TNI AD tidak melakukan modernisasi alutsistanya yang sudah cukup tua. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/Koz/mes/11)15 Desember 2011, Cimahi (ANTARA Jawa Barat): Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan, dengan berbekal alokasi anggaran sebesar Rp14 triliun, TNI Angkatan Darat akan memodernisasi alat utama sistem persenjataannya (Alutsista) dalam tiga tahun ke depan.
"Negara telah mengalokasikan anggaran cukup besar bagi TNI Angkatan Darat (AD) untuk melaksanakan modernisasi alutsista setelah 20 tahun lebih TNI AD tidak melakukan modernisasi alutsista sudah cukup tua usianya," kata Pramono Edhie Wibowo kepada wartawan setelah memimpin upacara peringatan Hari Juang Kartika ke-66 di Lapangan Mako Brigif 15 Kujang Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis.
Menurutnya, pembangunan TNI AD saat ini dan kedepan diarahkan pada terwujudnya kekuatan minimum atau Minimum Essential Force (MEF) yang dilakukan dengan meningkatkan kesiapan operasional satuan, kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan prajurit dan PNS beserta keluarganya serta tertib administrasi.
Ini semua ditujukan agar TNI AD dalam penguasaan alutsista mempunyai kesamaan teknologi dengan AD negara tetangga. Sehingga latihan bersama yang selama ini dilakukan dengan negara-negara sahabat dapat terus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya tidak terbatas pada kecabangan tertentu saja.
"Kesepakatan kita bersama negara-negara sahabat untuk menjaga keamanan kawasan serta melindungi negara. Hal ini sesuai dengan amanat Panglima Besar Jenderal Soedirman," ujarnya.
Terkait dengan itu, TNI AD telah melaksanakan reformasi internalnya dengan baik. Keberhasilan ini ditandai dengan keberadaan TNI AD di berbagai daerah yang senantiasa dapat diterima segenap lapisan masyarakat serta banyaknya permintaan pemerintah daerah untuk melaksanakan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) skala besar.
"Saya ucapkan terima kasih atas perubahan sikap yang telah dilakukan sehingga membawa manfaat untuk kenpentingan bangsa dan negara. Namun demikian, hendaknya kita harus melanjutkan upaya reformasi internal guna menuju TNI AD yang profesional tanpa tergeser dari jati dirinya," ujarnya.
Lebih lanjut KSAD mengatakan, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia merupalan prasyarat utama dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Tanpa kesatuan dengan rakyat, mustahil tercipta TNI AD yang mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan penangkal, penindak dan pemulih.
"Sejarah telah membuktikan bahwa efektifitas sinergitas TNI dan rakyat sebagai satu kekuatan telah berhasil mengatasi berbagai ancaman, gangguan dan hambatan," ujarnya.
Sumber: ANTARA Jawa Barat
Perbatasan Cukup Dijaga Setingkat Batalyon

15 Desember 2011, Ngabang, Kalimantan Barat (ANTARA News): Garis perbatasan Indonesia dengan Negara Bagian Sarawak di Malaysia Timur itu sekitar 1.000 kilometer panjangnya. Walau sempat beberapa kali gejolak terjadi di sana, namun penjagaan perbatasan negara itu cukup dilakukan satuan setingkat batalion saja.
"Sampai saat ini belum ada kebijakan pimpinan menambah personil di perbatasan meskipun sempat terjadi ketegangan mengenai batas dua negara," kata Kepala Staf Kodam XII/Tanjungpura, Brigadir Jenderal TNI Robby Win Kadir, usai upacara Hari Juang Kartika 2011 di Mandor, Landak, Kamis.
Jika ada yang menganggap jumlah itu kurang --satu batalion sekitar 700 personel-- dia katakan, "Juga bahu-membahu dengan unsur lain. Dengan kerjasama seperti itu akan memudahkan koordinasi dalam menjaga secara bersama-sama tapal batas negara."
Seluruh perbatasan darat Indonesia dijaga batalion-batalion infantri dan pendukung lain dari TNI-AD melalui komando kewilayahan setempat. Di antaranya yang terjadi di perbatasan Indonesia dengan negara Timor Timur di Pulau Timor.
378 kilometer garis perbatasan negara di sana itu dijaga secara bergantian oleh tiga batalion infantri dari lingkungan Komando Daerah Militer IX/Udayana dalam periode penugasan tertentu. Kabarnya, rotasi penugasan itu akan dipercepat menjadi enam bulan saja setelah selama ini 12 bulan.
Sumber: ANTARA News
Monday, December 12, 2011
Wakasad: Setiap Tahun Alutsista Ditambah
AH-64D RSAF melepaskan tembakan saat latihan. TNI AD berencana mengakuisisi helikopter AH-64. (Foto: Mindef)12 Desember 2011, Bandung (Antara Jawa Barat): Setiap tahun anggaran baru, TNI Angkatan Darat akan terus melakukan penambahan alutsista (alat utama sistem persenjataan) guna menuju minimum esensial (essential force), kata Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Budiman.
"Untuk tahun 2012 kita akan mendatangkan 100 tank Leopard 2A6 buatan Jerman. Kita sengaja membeli tank jenis itu, karena saat ini jenis itu merupakan tank terbaik yang ada di dunia. Dan kemampuan alat tempur kita harus terus dibenahi," katanya kepada wartawan usai menghadiri gladi kotor upacara Hari Juang Kartika 2011 di Lapangan Mako Brigif 15 Kujang Cimahi, Jawa Barat, Senin.
Menurutnya, salah satu alasan TNI AD membeli alutsista dari luar negeri karena sejumlah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang ada seperti PT Pindad, LEN, PAL dan Kojabahari belum mampu menciptakan sistem persenjataan serupa.
Meskipun terpaksa melakukan pembelian alutsista produk asing, pihaknya selalu menerapkan persyaratan "tranfer of technology."
"Kalau pun kita terpaksa harus membeli persenjataan dari luar, kita syarakatkan kepada produsennya untuk mau transfer ilmu pengetahuan kepada kita. Makanya, saat melakukan pembelian kita sengaja bawa tenaga ahli dari Pindad dan BUMN lainnya agar bisa mengadopsi teknologi yang telah negara lain gunakan," ujarnya.
Ditargetkannya, hingga 2014 mendatang sejumlah alutsista penting yang dibutuhkan TNI AD sudah bisa terpenuhi secara bertahap tiap tahun.
Menurutnya, pemenuhan alutsista merupakan tahap terakhir yang dilakukan TNI AD setelah fase pembangunan dan peningkatan SDM (sumber daya manusia) dilakukan dan kesejahteraan prajurit terpenuhi.
"Dalam rangka meningkatkan SDM kita benahi dengan peningkatan lembaga pendidikan yang ada. Latihan tempur dan anggaran pendidikan untuk hal ini sudah kita tambah. Meski demikian mengenai anggaran detail untuk pendidikannya tidak bisa saya sebutkan," ujarnya.
Begitu juga dengan kesejahteraan sudah dipenuhi oleh pemerintah. Prajurit telah diberi remunerasi yang cukup termasuk memperhitungkan bagi mereka yang telah berkeluarga dan biaya pendidikan anaknya.
Sedangkan mengenai peringatan Hari Juang Kartika 2011 yang digelar di Cimahi, menurutnya akan melibatkan sedikitnya 4.000 prajurit termasuk dari kalangan sipil seperti FKPPI dan Angkatan Muda Siliwangi.
Dijelaskannya, Hari Juang Kartika merupakan peringatan Hari Jadi Angkatan Darat.
"Meskipun hari jadi, dalam pelaksanaannya kita akan lakukan secara sederhana diberbagai bidang. Apa yang ada dan miliki akan kita tampilkan tanpa harus melebih-lebihkan," ujarnya
Sumber: ANTARA Jawa Barat
Sunday, December 11, 2011
KASAD: Indonesia Beli 100 Leopard Eks-Belanda
Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo membaca sumpah jabatan saat pelantikannya sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat di Jakarta, Kamis (30/6). (Foto: Biro Pers Istana Presiden/ Abror Rizki)12 Desember 2011, Jakarta (TEMPO.CO): Tentara umumnya menyenangkan bila bikin janji: selalu tepat waktu. Persis pukul sebelas siang—seperti yang dijadwalkan— Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo menerima Tempo di kantornya, Markas Besar AD, Jalan Veteran, Jakarta. Tempat itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor abang iparnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara.
Tidak seperti SBY yang jangkung dan besar, tinggi Pramono Edhie layaknya kebanyakan pria Indonesia, sekitar 165 sentimeter. Tubuh masih selangsing ketika dia lulus Akademi Angkatan Bersenjata RI pada 1980. Wajahnya, terutama mata, amat mirip ayahnya, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.
Sebelum pertanyaan pertama terlontar, dia mengajukan dua syarat. Pertama, dia tak mau fotonya ada di halaman wawancara. “Saya tidak mau dianggap lagi jualan,” kata dia. Syarat kedua: “Saya tidak mau ditanya soal politik.” Soal politik yang dimaksud adalah tentang isu bahwa dia akan dicalonkan dalam pemilihan presiden 2014.
Syarat ini juga berat, karena inilah salah satu hal penting yang ingin kami tanyakan sejak saat dia dilantik menjadi Kepala Staf, enam bulan lalu. Maklum, sebagai adik Ani Yudhoyono, banyak yang menganggapnya sebagai “putra mahkota” Cikeas.
Hal lain yang juga ingin kami tanyakan saat ini, yaitu soal pembelian senjata dan peralatan militer TNI Angkatan Darat secara besar-besaran tahun ini. Anggaran yang sudah disetujui parlemen untuk pembelian senjata selama tiga tahun ke depan Rp 14 triliun. Sebagian uang itu—US$ 280 juta (Rp 2,5 triliun) akan dibelikan seratus tank tempur (main battle tank) Leopard 2A6 buatan Jerman. Berbeda dengan para tetangga—Singapura, Malaysia, dan Thailand—yang telah memiliki puluhan bahkan ratusan tank besar sekelas itu, Indonesia hanya memiliki tank ringan.
Pembelian alat militer dalam jumlah besar seperti itu adalah gula yang terlalu menggiurkan untuk dilewatkan para makelar senjata. Bagi penghubung antara produsen senjata di luar negeri dengan TNI, rencana pembelian senjata besar-besaran ini adalah proyek yang bisa menjamin kesejahteraan tujuh turunan mereka. Bayaran untuk mereka cukup besar. Kalau 5 persen saja mereka bisa peroleh, maka Rp 700 miliar sudah pasti bisa dikantongi. Siapa tak ngiler? Soal fee untuk para perwira dan pejabat tinggi yang meloloskan, juga bukan rahasia lagi.
Untuk hal ini sang jenderal bersedia menjawab. Ia bahkan memilih topik ini sebagai “medan pertempuran” pagi itu. Selain meminta para perwira tinggi yang terlibat pembelian senjata menemani, di belakang kepalanya tersusun rapi dua buku—The Military Balance 2011 dan Leopard 2. Kacamata baca dan secarik kertas catatan tergeletak di atasnya, tanda dia baru saja mempelajari kedua buku itu.
Maka, proses pembelian senjata yang biasanya ditutup rapat-rapat, pagi itu ia beberkan.Perbincangan 89 menit yang amat menarik hingga kami—Tomy Aryanto, Setri Yasra, Fanny Febiana, Yogita Lal, Qaris Tajudin, dan juru foto Jacky Rachmansyah—lupa meminum teh hangat yang disediakan.
Leopard 2. (Foto: KMW)Apa alasan TNI AD membeli sejumlah peralatan militer baru, termasuk tank Leopard?
Pertama, alhamdulillah kami mendapat anggaran yang cukup besar dari negara, sesuai dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang baik. Tapi, kalau dibandingkan dengan pembelian peralatan dan senjata Angkatan Laut atau Udara, anggaran kami yang terkecil. Ini karena peralatan militer yang mereka butuhkan memang membutuhkan teknologi tinggi. Pesawat tempur, kapal laut, kapal selam, itu cukup mahal.
Kedua, untuk menentukan apa yang harus dibeli, saya harus melihat imbangannya pada kawan-kawan kami dari negara sahabat. Jangan diartikan, saya membeli untuk menyaingi mereka. Bukan. Saya membeli, untuk menyamakan kemampuan.
Malaysia, sudah punya puluhan main battle tank, demikian juga dengan Singapura. Thailand, sudah memiliki lebih dari 200 tank besar—meski sebagian adalah hadiah Amerika dari perang Vietnam. Kita, cuma punya light tank, tank ringan. Enggak imbang. Akibatnya, kita tidak pernah latihan bersama dengan teknologi yang sama.
Kapan terakhir kali membeli tank?
Cukup lama kita tidak membeli peralatan militer besar, karena keadaan ekonomi. Kalau dihitung, terakhir kita membeli peralatan militer dalam volume besar untuk Angkatan Darat itu 20 tahunan. Kalau hanya senjata dan alat infantri, ya tiap tahun kita perbarui. Kapan terakhir kali kita membeli tank? Scorpion, itu zaman Pak Harto, jauh sebelum dia turun.
Apakah tank itu memang kita butuhkan?
Membangun tentara itu, pertama adalah memilih personel. Saya di Angkatan Darat, tidak ada kendala memilih personel. Kalau ingin mendapatkan 200 tantama, yang mendaftar 4.000. Setelah personel dipilih, mereka dilatih, lalu dilengkapi. Nah, di situ masalahnya.
Seperti apa sih kondisi persenjataan kita saat ini dan idealnya itu seperti apa?
Pembangunan persenjataan itu sangat tergantung pada anggaran dari pemerintah. Ada kebijakan TNI untuk memberlakukan minimum essential force . Kelas kita memang masih minimal, bukan idealnya. Batalion kavileri Angkatan Darat itu ada lebih dari 10, yang baru saya mau belikan baru dua batalion. Itu minimum. Tapi kita kan harus mulai.
Tank yang Anda pilih besar sekali?
Ada beberapa orang yang memang menyampaikan kepada saya: "Tankmu kebesaran." Kok kita mau beli dibilang kebesaran, wong semua orang di kawasan ini sudah lama menggunakannya. Perang tank itu ya tank lawan tank. Kalau tank kita 76 (ton) dan di sana 105 atau 120, kita belum lihat tank mereka, sudah ketembak dulu he-he-he. Ya enggak imbang dong.
Tank kan macam-macam, ada Abrams dari Amerika, ada Leclerc dari Prancis, ada dari Rusia. Kenapa Angtan Darat memilih yang dari Jerman?
Leopard adalah tank yang dipakai 15 negara di dunia. Kalau orang pakai (mobil) Mercy, kita tidak perlu lagi uji-uji lagi. Mercy punya kelas tersendiri. Kalau Leclerc, memang besar, tapi yang pakai berapa negara? Tidak banyak.
Wakil Kasad Letjen Budiman: "Sebenarnya Leopard adalah tank terbaik di dunia, Abrams kalah. Saya pernah bawa Abrams waktu sekolah di Amerika. Leopard dari segi efisiensi bahan bakar, kelincahan manuver, ini terbaik. Saya kemarin pakai Leopard A5 saja, direktur Pindad geleng-geleng. Itu lebih sip dari mobil sedan, padahal dibawa ke medan yang luar biasa."
Bagaimana dengan Abrams?
Itu juga hanya sekutunya—seperti Israel atau Australia—yang diberi. Kita kan tidak dianggap bagian dari “sekutu” mereka. Kalau mereka membolehkan kita beli dan harga bersaing, ya saya mau.
Soal harga?
Untuk harga beliau (Wakil Kasad Letjen Budiman) yang menjawab.
Budiman menjelaskan bahwa harga Leopard 2 yang baru amat mahal, "Kita tidak mampu membelinya." Indonesia lalu membeli tank Leopard 2A6 bekas milik Belanda. Mereka akan melepas 150 Leopard buatan tahun 2003 itu. "Tank ini tidak pernah dipakai perang, tidak pernah dipakai latihan besar-besaran. Itu dalam garasi yang sangat terpelihara. Permintaan mereka: bersedia G to G (antar pemerintah, tanpa perantara)? Saya bilang ya. Bersedia tidak ada fee dan uang apa-apa? Saya bilang ya. Oke, kalau you bersedia, ini harga yang saya tawarkan."
Berarti ada anggaran yang tak terpakai?
Jadi awalnya itu kami mengajukan anggaran untuk 44 unit dengan harga US$ 280 juta. Kami laporkan kepada pemerintah, dialokasikan. Ternyata, setelah tim ini kembali, kami dapat 100. Wah, kita kayak ketiban rejeki, bukan ketiban duren. Kenapa tidak? Ya kan enggak salah toh kami. Saya tidak bisa bilang ini kelebihan, wong ini masih belum memenuhi untuk minimun essential force.
Bisa bayangkan, kalau dengan US$ 280 juta saya bisa membeli tank yang jumlahnya dua kali lipat, berarti kan keuntungan US$ 140 juta, Rp 1,3 triliun. Wah, saya beli apa saja bisa. Tapi kan saya jadinya durhaka. Enggak, enggak, enggak boleh begitu.
Jadi ini betul betul bebas broker?
Bebas sama sekali. Antar pemerintah.
Kenapa Wakasad yang memimpin tim pembelian?
Bukan saya tidak percaya orang lain, seperti Asisten Perencanaan dan Asisten Logistik. Ini karena kebijakannya bersifat sangat strategis. Sehingga harus wakasad yang memimpin. Saya yang menentukan kebijakan di belakang, supaya tidak terkontaminasi.
Tapi sebenarnya semua itu ada hitungannya. Jadi begini, kami semua di Angkatan Darat sepakat, untuk membangun TNI itu tidak murah, karena dana negara juga tidak banyak. Kami sepakat, ketika kita sudah diberi pangkat, remunerasi (penambahan gaji), semua penyimpangan itu harus dihilangkan. Sekarang yang ada hanyalah pengabdian. Tidak boleh lagi mengambil dari negara, karena negara sudah memberi.
Untuk peralatan lain juga begitu?
Saat saya di Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), pernah membeli alat bidik untuk senjata Pindad. Karena alat bidiknya canggih, kita belum bisa buat, ya kita beli dari luar. Harganya, awalnya ditawarkan Rp 24 juta per unit. Saya merasa harga ini kemahalan, karena saya bisa buka di internet, harganya enggak segitu. Saya tidak mau, saya perintahkan staf saya telepon ke Amerika. Mereka bilang: "Kami sudah punya agen di Indonesia dan Singapura." Saya bilang, "Saya tidak mau, karena harganya kemahalan." Saat saya bilang harganya Rp 24 juta, dia bilang, "Waduh ya memang terlalu mahal." Allah memberi jalan. Saya jadi Kepala Staf AD, asisten logistik saya diundang ke Amerika. Saya tugaskan, cari pabrik alat bidik itu, ternyata harganya US$ 900 (Rp 8,2 juta). Bisa dibayangkan, kalau dinaikkan tiga kali lipat, saya hanya bisa membeli peralatan untuk 1 batalion, padahal seharusnya bisa untuk 3 batalion.
Artinya, seluruh kegiatan pengadaan alutista tanpa broker?
Kita usahakan.
Bagaimana dengan perawatannya? Kalau nanti kita butuh spare part, kan harus berhubungan dengan broker lagi?
Nah, ini kebijakan saya juga. Niatkan, 30 persen belikan spare part. Tiga tahun, empat tahun, lima tahun, ndak mikir aku. Sebenarnya sudah ada aturan kalau membeli barang, 30 persen sisakan untuk suku cadang. Tapi, selama ini belum dilakukan. Saya hanya mengembalikan aturan yang lama. Karena saya menganggap itu yang benar.
Sekarang, kalau membeli barang harus sekalian sama pelurunya dan suku cadangnya. Jadi, anak-anak enggak boleh berpikir lagi, baru sekian bulan dipakai sudah rusak, enggak bisa diperbaiki. Pelatihan driver, gunner, pemimpin kendaraan, sampai teknik bertempur, manuver, dan montir. Itu masuk dalam perjanjian.
Setelah tiga tahun bagaimana?
Saya pensiun ha-ha-ha.
Kapan tank Leopard datang dari Belanda?
Kalau didukung, proses pembayarn cepat, tahun depan sudah ada. Wong itu tank sudah ada di dalam gudang kok.
Akan ditaruh di mana saja?
Semuanya di Jawa, karena cukup besar.
Tidak di perbatasan?
Kalau di perbatasan kurang bijak, karena kok kayaknya mancing-mancing kekeruhan ha-ha-ha. Kita tidak pernah melihat kawan-kawan kita sebagai mush.
Dengan pembelian ini kita sudah bisa mengimbangi?
Alhamdulillah sudah. Malaysia punya 64 main battle tank dari Rusia T-91.
MLRS ASTROS produksi Avibras Brasil. (Foto: DID)Selain tank, sisa anggaran akan diapakai untuk membeli apa?
Ada sejumlah peralatan yang juga akan diganti, yaitu arhanud, pertahanan serangan udara. Pesawat tempur sekarang sudah supersonic, senjata yang kita miliki masih peluru. Harusnya peluru kendali (rudal). Kami juga beli ini dari Prancis, mereknya Mistral. Mistral itu 95-99 persen pas di sasaran. Tapi cukup mahal.
Kami juga mengganti armed, meriam. Sampai saat ini kita belum punya kaliber 155 yang masuk kategori heavy caliber. Alhamdulillah, kami awalnya alokasikan untuk 1 batalion, tapi dapatnya 2 batalion. Jarak tembaknya akurat, produknya Prancis, combat proven, sudah dibawa ke Afganistan. Kita juga membeli MLRS, multi louncher rocket system. Ada dua negara yang kita dekati, Brazil dan Amerika Serikat. Rusia itu memang bagus, tapi harus lewat mafia yang harganya enggak tetap.
Wah, kayaknya siap perang. Kenapa beli meriam juga?
Meriam 76 itu adalah meriam Yugoslavia. Itu dari zaman Pak Karno. Ada seorang letnan, begitu lulus akademi militer menembakkan meriam 76. Ketika dia pensiun, meriamnya belum pensiun. Tiga puluh tahun! Kita enggak boleh dong begitu terus.
Dengan banyak merek, apa perawatan tidak repot?
Kita sudah terbiasa dengan perawatan produk yang bermacam-macam, karena teknologi berkembang.
Tidak ada penolakan dari parlemen negara produsen?
Dari Prancis tidak ada penolakan, Inggris tidak, Belanda segera menindaklanjuti, Jerman juga tidak masalah. Masalah hanya ada saat membeli helikopter Apache. Sebenarnya produsen Apache sudah memberi harga fix kepada kita, tapi parlemen Amerika Serikat masih mempertimbangkan soal keseimbangan kawasan. Singapura yang sekutu mereka baru punya dua, kita mau beli delapan.
Biasanya Amerika kan agak bawel soal aturan penggunaan senjata. Bagaimana mengatasinya?
Ya memang, seperti Amerika dulu ada aturan salah satu senjata berat mereka tidak boleh dipakai di Papua. Lah, buat apa juga kita menembak rakyat sendiri pakai roket? Jadi, aturan dari mereka sebenarnya juga tidak terlalu membatasi kita.
Tentang Papua, apakah ada perubahan kebijakan?
Yang signifikan tidak ada. Ada penambahan pasukan? Tidak ada, kami merasa cukup yang ada di sana. Kami merasa hal ini harus diselesaikan bersama-sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat. TNI tidak bisa sendiri. Dengan adanya dialog, Anda maunya apa sih? Kita cari jalan keluar.
Bagaimana dengan penembakan yang dianggap melibatkan Kopasus?
Sampai saat ini kalau ada kejadian, saya bertanya, "Anggota saya atau tidak di sana?" Kalau bukan, saya ambil kesimpulan, ada satu tindakan yang dilakukan kelompok lawan kita. Tapi penanganannya kan tidak bisa langsung diserang. Kita juga tentara yang dilatih dengan benar, tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak benar. Saya juga kemarin agak kaget manakala banyak yang jadi korban dalam pengibaran bendera bintang kejora. Dicek pelurunya bukan peluru organik kita. Kalau tuduhannya TNI merekayasa, silahkan cek.
Anda menganggap operasi militer akan bisa menyelesaikan Papua?
Tidak. Penanganannya harus menyeluruh. Coba, berapa dana yang sudah diberikan ke sana, ke putra daerah, lewat otonomi khusus? Ke mana saja dana itu? Sekian triliun rupiah tidak ada bentuknya. Kalau dulu, bukan sekarang, dana pemerataan uangnya dibawa bupati dan dibagi-bagi. Rakyat yang terima kan tidak dididik untuk menggunakannya dengan benar. Kalau saya kok ngeri ya korupsi seperti itu.
Kembali ke soal senjata. Bagaimana kami bisa yakin Anda tidak diuntungkan dalam pembelian senjata?
Saya mencoba untuk terbuka, siap diaudit setiap saat. Kalau sekarang saya berusaha terbuka, semua bisa terlihat. Boleh ditanya saya dapat berapa persen dari pembelian ini. Saya tidak punya beban untuk menyerahkan pembelian tank itu kepada orang lain jika mereka bisa mendapatkan jumlah yang lebih banyak dengan spesifikasi yang sama.
Empat tahun lalu, kami mebeli truk harganya Rp 600 juta. Sekarang saya beli truk dengan spesifikasi yang sama, pasti lebih mahal dong. Tapi, saya bisa dapatkan dengan harga yang sama, Rp 600 juta. Jumlah yang seharusnya disiapkan 79 truk, setelah mendapatkan harga yang lebih murah, menjadi 113 unit. Ini berarti waktu empat tahun lalu kita beli itu keuntungan mereka luar biasa.
Tapi jujur saya katakan, ini tidak mudah. Tapi kami sudah bertekad.
Wakasad: "Sekarang kami bertekad untuk menegakkan aturan. Kalau (pelaku penggelapan) harus dicopot ya dicopot, tidak peduli siapa, bahkan jika itu orang dekat beliau (Kasad)."
Selama enam bulan menjabat, berapa orang yang dicopot?
Belum ada, karena kan saya untuk sementara ini kalau ada yang tidak beres, saya bilang: "Cek ulang, kamu melakukan perhitungan yang salah." Saya tidak tuduh dia kongkalilkong dengan broker. Saya beri kesempatan lah. Tetapi kalau sudah saya ingatkan, tetap kau lakukan, oh tidak ada alasan, tak ada maaf. Saya tidak menunggu waktu, karena ini harus dilakukan. Ternyata saya beri aturan seperti ini, mereka jelas, ketemu kok. Saya sudah enggak utak-utik lagi, oh berarti kamu sudah mengerti kan? Tidak bijak juga kalau langsung dihantam. Saya juga harus keras kepada diri saya.
Maksudnya keras?
Saya tidak boleh macam-macam. Kalau saya dikasih duit, saya tanya ini dari mana? "Ya pak, sisa yang dulu." Tidak boleh. Tapi kesenangan saya juga enggak macam-macam kok, jarang karaoke, tidak main golf.
Hobi?
Naik sepeda. Sepeda saya cuma berapa perak. Saya tidak mau pakai sepeda mahal, kuatir hilang, malah stres, sakit jantung ha-ha-ha. Saya juga tidak hobi motor besar, karena tidak ahli naik motor. Kedua, saya kan tidak enak kalau naik motor sendiri. Harus ada istri saya. Kalau dia naik, enggak mampu dia, kerokan nanti, masuk angin ha-ha-ha. Tidak lah, saya yang biasa-biasa saja. Kalau sepeda kan enggak mungkin bonceng orang lain, berat. Sepeda juga mountain bike yang biasa, bukan downhill. Saya kan sudah tua (56 tahun, lahir 5 Mei 1955), sudah mulai ngukur kuburan berapa meter. Kalau enggak ingat begitu, pasti pengen-nya macam-macam.
Itu kan kata bapak, sudah tua, orang lain mungkin menganggap bapak 2014 masih bisa jadi presiden....
Oh, no-no-no. Saya sangat senang jadi jenderal. Saya hanya ingin menutup pengabdian ini dengan kehormatan. Sehingga anak cucu saya melihat saya bangga. Saya tidak mau bicara politik karena saya tentara.
Dulu tahun 2003 SBY juga ngomong gitu
Mungkin dulu jadi presiden enak, tapi sekarang enggak enak. Kalau tentara itu jelas pegangannya. Sapta marga enggak dijalanin, plak (tampar). Sumpah Prajurit enggak dijalanin, plak. Tapi, tuntutan rakyat, waaah bisa bikin kita sakit. Pernah enggak ada yang menanyakan bagaimana perasan SBY menahan itu semua?
Jadi, SBY sering curhat nih?
Lah, enggak boleh diceritain dong ha-ha-ha.
Sumber: Tempo
Tuesday, December 6, 2011
Kemhan RI gelar Uji Coba Roket R-Han dan Mortir 81 Pindad di Puslatpur Kodiklat TNI AD.
(Foto: Puslatpur)5 Desember 2011, Baturaja (Puslatpur): Kemhan RI menggelar uji coba penembakan Roket R-Han, Bodem dan Base Plate Mortir 81 Pindad yang dilaksanakan pada tanggal 24 s.d 26 Nopember 2011 di Daerah Latihan Puslatpur Kodiklat TNI AD.
Kegiatan uji coba ini melibatkan beberapa Kementrian, Instansi Militer maupun Sipil antara lain dari Kemhan RI, Kemristek, Kemperind, Pindad, LAPAN, PT DI, PT KS, PT Dahana, BMKG, Marinir TNI AL, Puslatpur Kodiklat TNI AD dan personel dari satuan Dam II/Swj.
Hadir dalam acara tersebut pejabat dari Kemhan RI, Laksamana Muda TNI Dwi Ujianto, Mayjen TNI Zainal Fahri Tamzis yang didampingi oleh Danpuslatpur Kodiklat TNI AD Kolonel Inf Moch. Fachrudin.
Adapun senjata dan roket yang diuji coba antara lain Modem dan Base Plate Mo 81 Pindad, Roket R-Han 122 mm, Roket D 1220, RWX 200, RKX 200 dan RTX 100. Senjata tersebut merupakan hasil dari penelitian Kemristek, PT Pindad, LAPAN, PT DI, PT KS, PT Dahana yang dikoordinir oleh Kemhan RI.
Pelaksanaan kegiatan uji coba ini dapat berjalan dengan aman dan lancar.
Sumber: Puslatpur
Monday, December 5, 2011
Satuan Armed Akan Menerima Meriam 155 mm dan MRLS
Danpussenarmed beserta rombongan melakukan studi banding ke Bumar Polandia pada Oktober 2010. Studi banding bertujuan meninjau pembuatan roket MLRS WR-40 Langusta hingga mempelajari bagaimana kinerja alutsista tersebut dalam melayani permintaan bantuan tembakan. (Foto: pusdikarmed)5 Desember 2011, Cimahi (PRLM): Satuan Artileri Medan (Armed) TNI AD segera memodernisasi Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) dengan mendatangkan meriam-meriam baru pada 2012 nanti. Seluruh prajurit Armed dituntut segera menguasai kecakapan penguasaan peralatan tempur baru tersebut.
Komandan Pusat Kesenjataan (Pussen) Armed Brigjen TNI Ariyadi Padmanegara mengungkapkan, modernisasi alutsista berupa penggantian meriam kaliber 76 milimeter (mm)/Gun menjadi meriam 105 mm. Juga direncanakan penyiapan Batalyon Armed untuk meriam kaliber 155 mm dan Batalyon Armed roket MLRS (multiple launcher rocket system).
“Sebagai konsekuensi logis modernisasi tersebut, seluruh prajurit Armed dituntut memiliki penguasaan kemampuan teknis kecabangan yang dipadukan dengan adaptasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Juga dibutuhkan tingkat kesiapan fisik memadai,” ucapnya saat memberikan sambutan dalam “Syukuran Hari Ulang Tahun ke-66 Armed TNI AD”, Senin (5/12), di Pusat Diklat Armed, Kota Cimahi.
Meriam baru kaliber 105 mm memiliki jangkauan hingga 18 kilometer. Spesifikasi ini jauh lebih canggih dibandingan alutsista lawas berupa meriam kaliber 76 mm yang hanya mampu menjangkau sasaran terjauh 8 kilometer. Meriam kaliber 155 mm bahkan lebih efektif lagi dalam medan perang karena mampu menjangkau sasaran hingga 40 kilometer.
Selain peremajaan alutsista, Ariyadi juga menyinggung kebijakan pembinaan personel yang tengah digodok oleh Mabes TNI AD, yakni sistem ‘career by design’. Dalam sistem ini, personel berkualitas akan terus dipantau dan diberi arahan dengan penugasan, jabatan, serta lingkungan kerja. “Tujuannya untuk mendorong perwira-perwira terpilih mencapai puncak karier tertinggi,” tuturnya.
Sumber: PRLM
Sunday, December 4, 2011
Denkav 5/BLC Menerima Empat Ranpur Anoa
Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Suharsono (kanan) menyerahkan empat unit kendaraan tempur (ranpur) APS-2 Anoa kepada Komandan Detasemen Kavaleri (Denkav) 5/Birgus Latro Cakti (BLC) Mayor Kav Rendra Siagian (kiri) saat upacara penyerahan yang dipusatkan di Makodam XVI Pattimura, Ambon, Senin (5/12). Ranpur tersebut digunakan untuk tugas operasional Kodam XVI Pattimura dalam rangka mendukung terciptanya stabilitas keamanan di wilayah Provinsi Maluku dan Maluku Utara. (Foto: ANTARA/Izaac Mulyawan/Koz/Spt/11)5 Desember 2011, Ambon (ANTARA News): Kodam XVI/Pattimura mendapat tambahan empat unit kendaraan tempur (Ranpur) lapis baja jenis APS-2 "Anoa" (6x6) yang diproduksi PT Pindad (Persero) Indonesia.
Empat ranpur APS-2 Anoa tersebut diserahkan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Suharsono kepada Detasemen Kavaleri (Denkav) 5/BLC dalam sebuah upacara di Makorem 151/Binaya, Ambon, Senin.
Suharsono mengatakan, pemberian ranpur sebagai bentuk apresiasi dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Letjen Pramono Edhie Wibowo atas keberhasilan Kodam XVI/Pattimura dalam penanganan konflik antarwarga 11 September 2011 sehingga tidak berkembang menjadi besar dan melebar.
Kodam XVI/Pattimura juga mendapat penghargaan dari Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono atas keberhasilannya dalam bidang operasi intelijen dan pembinaan teritorial.

Sejumlah personil Detasemen Kavaleri (Denkav) 5/Birgus Latro Cakti (BLC) menunjukkan kemampuan mereka melakukan operasi dengan menggunakan kendaraan tempur (ranpur) APS-2 Anoa. (Foto: ANTARA/Izaac Mulyawan/Koz/Spt/11)"Atas keberhasilan tersebut, KSAD telah menghadiahkan empat Ranpur APS-2 Anoa Pindad kepada Detasemen Kavaleri 5/BLC. Selaku pribadi dan atas nama seluruh prajurit Kodam XVI/Pattimura dan masyarakat Maluku patut berterima kasih kepada KSAD yang telah memberikan perhatian cukup besar terhadap pemeliharaan situasi keamanan di wilayah Maluku khusunya Kota Ambon," kata Suharso.
Ia mengakui, pemberian empat ranpur kepada Denkav 5/BLC dalam rangka meningkatkan kemampuan Detasemen melaksanakan tugas oprasional Kodam XVI/Pattimura guna mendukung terciptanya stabilitas keamanan di wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Pangdam berpesan kepada Satuan Denkav 5/BLC bertanggung jawab penuh dan selalu merawat dan memelihara semua alat utama sistem senjata (Alutsista) dengan sebaik-baiknya.
"Hal itu dimaksudkan agar Alutsista memiliki masa pakai yang panjang dan terhindar dari kerusakan yang tidak diharapkan," kata Suharsono.
Selain menyerahkan ranpur, Pangdam Suharsono juga meyerahkan penghargaan kepada Sertu Kowad Yanthie Veronika yang menjuarai berbagai nomor dalam lomba menembak militer AARM (Asean Rifle Match) tingkat Asean.
Sumber: ANTARA News
Saturday, December 3, 2011
Gultor Yonif 400 Sukses Bebaskan “Sandera”
4 Desember 2011, Kendal (SINDO): Tim Gultor Yonif 400/Rider Kodam IV /Diponegoro, kemarin melakukan simulasi anti teror. Simulasi ini digelar di komples kantor Kejaksaan Negeri Kendal Jalan Soekarno- Hatta.Dalamsimulasi itu tim Gultor sukses membebaskan sandera.
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Muhlim Asyrof mengatakan,Batalyon 400/Rider sebagai pasukan pemukul Kodam yang langsung berada dibawah komando Pangdam harus siap dalam situasi apapun. “Latihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengasah kemampuan Yonif 400/- Rider, supaya siap setia saat menerima tugas,”katanya.
Pangdam meyakini, meski Tim Gultor belum pernah diterjunkan untuk menagani terorisme yang terjadi di Jawa Jengah, namun kemampuannya dipastikan mampu melumpuhkan teroris. Komandan Yonif 400/Rider Letkol Inf Hery Setiono menambahkan, latihan pemantapan dilaksanakan di beberapa tempat.
“Yang dilatih adalah kemampuan tempur, penyergapan, penyelamatan sandra dan beberapa latihan kemampuan yang harus dimiliki personel Yonif 400/Rider,”katanya. Bupati Kendal Widya Kandi menambahkan, untuk mencegah timbulnya terorisme sudah memberikan instruksi kembali mengaktifkan Pos Kampling.
Sumber: SINDO
Subscribe to:
Comments (Atom)


