Showing posts with label Kapal Patroli. Show all posts
Showing posts with label Kapal Patroli. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

14 KCR-40 dan KCR-60 akan Dibangun Hingga 2014

17 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-60 (image : Palindo Marine Shipyard)

Batam (ANTARA Kepri) - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menargetkan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal di berbagai daerah untuk menunjang pengamanan perairan Indonesia yang akan selesai pada 2014.

"Hingga 2014 kami merencanakan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 40-60 meter untuk penunjang pengamanan perairan Indonesia," kata Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro setelah meresmikan KRC Kujang di Batam, Kamis.

Menteri mengatakan upaya tersebut sebagai langkah pembangunan strategis yang nantinya tidak terbatas pada pengembangan KCR saja, namun juga pada industri strategis lainnya.

"Pembangunan kapal merupakan langkah awal, nanti pembangunan strategis di daerah juga akan mengembangkan industri untuk kekuatan udara dan darat," kata dia.

Pada dasarnya, kata Menteri, selain membangun industri dalam negeri hal tersebut juga membangun kekuatan TNI.

"Pembangunan 14 kapal tersebut baru tahap awal. Kami telah menyiapkan rencana strategis pertahanan hingga tahun 2024 dengan target 44 kapal cepat," kata Menteri.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan Indonesia setidaknya membutuhkan 44 KCR hingga 2024 untuk mengamankan seluruh wilayah laut NKRI dari gangguan-gangguan.

"Setidaknya dibutuhkan 44 kapal hingga tahun 2024 mendatang untuk keperluan penegakan hukum di laut, termasuk pengamanan terhadap pencurian terhadap kekayaan alam Indonesia, dan mencegah penyelundupan," kata dia.

Secara umum, kata dia, seluruh satuan TNI telah memiliki rencana pengembangan pertahanan masing-masing sebagai upaya peningkatan kekuatan.

"Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara telah memiliki blueprint pertahanan untuk membangun kekuatan. Pembangunan akan dilakukan bertahap," kata dia.

Ia mengatakan, salah satu rencana tersebut ialah penggantian utama sistem persenjataan (alustsista) yang sudah uzur dengan alat-alat baru yang akan dibangun, sementara alutsista yang masih bisa digunakan akan terus ditingkatkan kemampuannya.

Wednesday, February 15, 2012

TNI AL Dapat Kapal Baru

16 Februari 2012

Kapal Cepat Rudal KCR-40 KRI Kujang 642 (photo : Audrey)

BATAM, KOMPAS.com- TNI AL Armada Barat mendapat tambahan kapal baru, KRI Kujang-642. Kapal itu diserahkan pada Kamis (16/2/2012) pagi ini, di Dermaga Selatan Pelabuhan Batu Ampar, Batam.

Komandan Satuan Kapal Patroli Armada Barat Kolonel Pelaut Denih Hendrata mengatakan, KRI Kujang merupakan kapal kelima di satuannya. KRI Kujang termasuk jenis KCR- 40. "Sekarang kami punya dua KCR-40 dan tiga FPB (Fast Patrol Boat)," ujarnya.

KRI Kujang dibuat PT Palindo Marine Shipyard, Batam. Seluruh komponen kapal itu buatan Indonesia. KCR-40 merupakan kapal patroli kedua yang diserahkan Palindo pada TNI AL. Tahun lalu, Palindo menyerahkan KRI Clurit yang sejenis dengan KRI Kujang.

KRI Kujang 642 merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang berfungsi menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu cepat pula. Kapal ini berukuran panjang 44 meter, lebar 7,4 meter, dengan kecepatan maksimal 30 knot. Kapal ini memiliki daya tembak dan daya hancur karena dilengkapi Rudal C-705.

Kapal KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar 50 ton dan air tawar 15 ton. Kapal cepat ini terbuat dari baja khusus High Tensile Steel pada bagian hulu dan lambung kapal, yang merupakan produk PT Krakatau Steel, Cilegon. Sedangkan untuk bangunan atas menggunakan Aluminium Marine Grade, yang menggunakan tiga mesin penggerak.

Monday, January 16, 2012

HQ272 Warship Handed Over to Vietnam Navy

17 Januari 2012

TT400TP project ship -HQ-272 (all photos : QDND/BaoDatViet)

HQ 272 ships cannon military HQ from Hong Ha Shipbuilding Company (General Department of Defense Industry) shall be delivered to the Navy to put to use. This is the first warship production by Vietnam.


The ship is very modern design, more features, when Vietnam combat at sea, equipped with weapons, modern weapons such as AK 630 guns, combination of low altitude air defense missiles, radar systems, system identify the enemy, electro optic systems, cannon ammunitions, rockets. It is able to continuously operate offshore for 30 days and nights at sustained winds of force 9-10 and waves of force 8. The ship has an operating range of 2,500 miles.



After two years of implementation, the ship HQ 272 was tested and fired live ammunition test, all parameters are guaranteed by design. Navy ships are, the design agency and the Council accepted the Ministry of Defence appreciated the technical quality, fine art, gain full technical features, strategy as approved by the General Chief of Staff of Vietnam People's Army.


Admiral Pham Ngoc Minh, Deputy Commander Chief of Navy, said the ship HQ 272 will contribute to increased combat power for Vietnam Navy, and most importantly, Vietnam is gradually mastering shipbuilding technology, created the initiative in ensuring the technical, equipment, facilities, weapons for national defense and security tasks.

According to Minh, the ship will make the trip patrols to protect sovereign waters, islands and continental shelf of the country.


Thursday, January 5, 2012

Wamenhan Tinjau Potensi Sejumlah Perusahaan Galangan Kapal di Batam

06 Januari 2012

Kapal cepat rudal KCR-40 produksi PT. Palindo Marine Shipyard, Batam (all photos : DMC)

Batam, DMC - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin selaku Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan dan Mabes TNI Angkatan Laut serta Tim Verifikasi KKIP, Rabu (4/1) melakukan kunjungan kerja ke sejumlah perusahaan galangan kapal di Batam, Kepulauan Riau.

Kunjungan Wamenhan beserta rombongan kali ini untuk meninjau secara langsung proses pembuatan kapal serta melihat sejauh mana potensi, kemampuan dan kesanggupan perusahaan galangan kapal nasional khususnya di Batam dalam memenuhi kebutuhan pengadaan Alutsista TNI.

Kemhan dan TNI baik sebagai penentu kebijakan ataupun sebagai pengguna berkepentingan melihat secara langsung mekanisme dan kapasitas produksi yang disediakan dalam memenuhi berbagai peluang yang diberikan oleh Pemerintah.

Selain itu, peninjauan kali ini juga berkaitan dengan kepentingan dari Tim Verifikasi KKIP dalam
memonitor atau mengaudit industri pertahanan baik milik negara maupun swasta yang mencakup manajemen SDM, teknologi, infrastruktur, keuangan dan manajemen secara keseluruhan. Audit yang dilakukan Tim Verikasi KKIP tersebut berperan untuk memberikan jawaban apakah industri pertahanan memiliki kesanggupan dalam memenuhi kebutuhan Alutsista yang dibutuhkan TNI.

Kunjungan Wamenhan dan rombongan ke sejumlah perusahaan galangan kapal di Batam, diawali dengan peninjauan ke PT. Bandar Abadi Shipyard dilanjutkan peninjauan ke PT. Citra Shipyard, PT. Palindo Marine Shipyard dan Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Mentigi. Diakhir kunjungan kerjanya ke Batam, Wamenhan juga menyempatkan diri meninjauan Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) di Lantamal Batam.


Dalam peninjauan di Fasharkan Mentigi, Wamenhan dan rombongan meninjau fasilitas pemeliharaan dan perbaikan kapal-kapal perang TNI-AL. Sementara itu, saat meninjau PT.Palindo Marine Shipyard, Wamenhan dan rombongan melihat fasilitas produksi dan proses pembuatan kapal perang jenis Fast Missile Boat (Kapal Cepat Rudal/KCR 40) yang merupakan kapal pesanan TNI AL. Dalam kesempatan tersebut Wamenhan juga sempat menguji coba dengan menaiki kapal KCR dengan nama KRI Kujang-642. Kapal tersebut merupakan kapal pesanan TNI AL yang kedua, saat ini masih dalam proses uji coba dan dalam waktu dekat akan diserahterimakan.

PT. Palindo Marine Shipyard mendapat pesanan dari TNI sebanyak dua kapal perang jenis Fast Missile Boat(Kapal Cepat Rudal/KCR 40). Kapal pertama telah diresmikan oleh Menhan pada bulan April 2011 dan sudah memperkuat Armada Perang TNI AL dengan nama KRI Clurit-641.
KCR 40 sepenuhnya dikerjakan oleh putra-putri bangsa dan sebagian besar material kapal perang tersebut diproduksi di dalam negeri. Proyek pembangunan dua unit KCR 40 juga merupakan proyek perdana dalam pengadaan alutsista dengan skema pembiayaan dalam negeri sehingga lebih efisien.

KCR 40 dibuat dari bahan high tensile steel & aluminium alloy dan mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot. Kapal dengan teknologi tinggi itu memiliki spesifikasi panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan sistem propulasi fixed propeller 5 daun.

Kapal yang sepenuhnya di buat di PT. Palindo tersebut dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), diantaranya meriam caliber 30mm enam laras sebagai sistem pertempuran jarak dekat (CIWS) dan rudal anti kapal buatan China C-705.

PT. Palindo Marine Shipyard merupakan salah satu perusahaan galangan kapal di Batam yang memiliki pengalaman selama 20 tahun dan telah memproduksi kurang lebih dua ratus kapal dengan berbagai tipe dan ukuran serta bermacam–macam tipe kapal, antara lain Crew Boat, Passenger Ferry, Patrol Boat, Rescue Boat dan jenis kapal lainnya.

Turut serta mendampingi Wamenhan sejumlah pejabat Kemhan antara lain Irjen Kemhan Laksdya TNI Gunadi, M.D.A., Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Dirjen Renhan Kemhan Marsda TNI BS. Silaen, S.IP, Dirjen Kuathan Kemhan Laksda TNI Bambang Suwarto, Dirtekind Ditjen Pothan Brigjen TNI Agus Suyarso, dan Kapuskom Publik Kemhan Brigjen TNI Hartind Asrin.
Sedangkan dari Mabes TNI AL antara lain Asrena Kasal Laksamana Muda TNI Sumartono dan Aslog Kasal Laksda TNI Sru Handayanto. Sementara itu, Tim Verifikasi KKIP antara lain Said Didu, Prof Dr. Ir. Lilik Hedra, Sumardjono, Silmy Karim dan Dr. Timbul Siahaan. Turut pula pejabat dari Kementerian Keuangan dalam hal ini diwakili Direktur Anggaran III Ditjen Anggaran Kemkeu Sambas Muliana.(BDI/SR)


(DMC)

Tuesday, January 3, 2012

RI AKan Punya 24 Kapal Cepat Berpeluru Kendali

04 Januari 2012

KRI Kujang-642 (photo : Silep-04 Kaskus Militer)

Batam (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia menargetkan pembuatan 24 unit kapal cepat berpeluru kendali hingga 2024.

Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Sumartono di Batam, Rabu mengatakan kedua puluh empat unit Kapal Cepat Rudal (KCR) itu akan disebar ke wilayah Barat Indonesia dan Sulawesi Utara.

Saat mendampingi kunjungan kerja Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, ia menambahkan,"Kapal Cepat Rudal sangat diperlukan untuk wilayah perairan yang memiliki ombak rendah atau kepulauan,".

TNI Angkatan Laut kini telah mengoperasikan Kapal Cepat Rudal (KCR) KRI Clurit-641, sedangkan satu unit lainnya yakni KRI Kujang-642 dalam tahap melengkapi peralatan dan persenjataan.

Kedua kapal buatan PT Palindo Marine memiliki panjang 43 m, lebar ,40 m, berat 250 ton, kecepatan cepat 27 knots dan akan dipersenjatai rudal C-705 dan meriam kal 30 mm enam laras dan meriam anjungan dua unit kal 20 mm.

Pada kesempatan itu, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menyaksikan langsung sailing pass KRI Kujang dari Batam ke Bintan dengan kecepatan 20 Knots.

PT Palindo kini sedang melakukan penyelesaian KCR ketiga dan pada 2014 diharapkan telah berhasil menyelesaikan enam KCR.(R018)

Tuesday, December 20, 2011

Indonesia Segera Miliki Kapal Perang Canggih "Trimaran"

20 Desember 2011

Kapal cepat trimaran buatan Lundyn Northe Sea Boats (photo : Audrey)

Banyuwangi (ANTARA News) - Indonesia segera memiliki satu kapal perang canggih berpeluru kendali "Trimaran" yang merupakan produk dalam negeri.

"Kapal ini terbuat dari serat karbon, dengan kecepatan 35 knot dan dipersenjatai peluru kendali yang memiliki jarak tembak 120 kilometer," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai meninjau industri kapal dalam negeri PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa.

Ia mengatakan, dalam lima bulan mendatang kapal perang canggih yang merupakan prototipe itu langsung bisa dioperasionalkan memperkuat jajaran armada tempur TNI Angkatan Laut.

"TNI Angkatan Laut memesan empat unit kapal, dan dalam lima bulan mendatang sudah jadi satu kapal perang `Trimaran`, sedangkan tiga unit lainnya akan segera dibangun secara bertahap hingga 2014," kata Sjafrie menambahkan.

Satu unit kapal "Trimaran" dihargai sekitar Rp114 miliar yang diambil dari APBN 2011.

"Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri," kata Sjafrie.

Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, mengatakan pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap kapal dengan panjang sekitar 62,52meter tersebut.

"Ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja.

Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat airbus Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja.

Kapal cepat berpeluru kendali itu memiliki panjang keseluruhan 62,53 meter, panjang "water line", 50,77 meter panjang "water draft" 1,17 meter, bobot mati 53,1 GT, kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, dengan mesin utama 4X marine engines MAN nominal 1.800 PK.

Monday, December 5, 2011

MMEA has Taken Delivery of Four Fast Interceptor Boats

06 Desember 2011


With 2 x 895 kW MTU 8V2000 M93 diesels engine can boost the boat for 60+ knots (up to 70 knots available depending on engine and configuration selection), the boat endurance : 2 days without replenishment, and max range 300+ nautical miles (all photos : Defencetalk, Militaryphotos)

LANGKAWI: The Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA) has so far taken delivery of four of the 10 ONUK MRTP16 fast interceptor craft constructed by BYO Marine Sdn Bhd under contract.

The official handing over and launch of the vessels, named PENGGALANG 10, 11, 12 and 13, yesterday was witnessed by Deputy Prime Minister Tan Sri Muhyiddin Yassin at the BYO Marine dockyard here.


The Malaysian government signed a contract with BYO Marine on Feb 18 this year for the delivery of 10 ONUK MRTP16 fast interceptor craft. Three of the boats were handed over in June, August and November, respectively, and one was handed over yesterday.

MMEA director-general Admiral (Maritime) Datuk Mohd Amdan Kurish said two of the delivered boats were constructed in Turkey and the other two, here.


“The remaining six are expected to be delivered in June next year. Of the six, two will be built in Turkey and four here. The fast interceptor boats will enhance our capability in undertaking operations,” he told reporters after the official launch and delivery ceremony.

The three boats delivered earlier have been put into operation in the northern and southern maritime regions to patrol the country’s maritime zones in the Strait of Melaka.

Each of the fast interceptor boats can reach a speed of more than 60 knots and can accommodate up to 10 crew at any one time. It takes only 15 minutes to reach the Kuala Perlis jetty from Langkawi compared to the one hour taken by passenger boats.

Besides anti-smuggling and anti-piracy operations, these boats can be used in search-and-rescue operations and pollution control.

BYO Marine Sdn Bhd is a joint-venture company of Boustead Heavy Industries Defence Technology of Malaysia and Yonca-Onuk JV of Turkey.

(Bernama)

Thursday, November 17, 2011

KRI Clurit-641 Pertama Kali Perkuat Latihan Armada Jaya ke 30

18 November 2011

KRI Clurit 641, kapal cepat rudal (photo : Kaskus Militer)

Jakarta, Kapal Republik Indonesia (KRI) Clurit-641 salah satu unsur Jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yang dilibatkan dalam Manuver Lapangan (Manlap) Latihan Puncak TNI AL Armada Jaya ke-30 di Perairan Sangatta Kalimantan Timur, saat ini berlayar lintas laut di sekitar perairan Pulau Bawean.

Kapal yang memiliki persenjataan Sensor Weapon Control (Sewaco), meriam caliber 30 mm 6 laras sebagai Close in Weapon System (CIWS), dan meriam anjungan 2 unit caliber 20 mm sehari-hari di bawah pembinaan Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Barat dengan Markas di Mentigi Tanjung Uban Riau.

KRI Clurit-641, dengan Komandan Mayor Laut (P) Gulkariansyah salah satu unsur kapal pemukul reaksi cepat di jajaran Koarmabar memiliki kemampuan pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat .

Kapal perang produksi dalam negeri tersebut memiliki spesifikasi berukuran panjang 43 meter, lebar 7,40 meter, dan berat 250 ton ini memiliki sistem pendorong yang handal mampu berlayar dan bermanuver dengan kecepatan 27 knot, serta memiliki daya tembak/hancur yang besar karena dilengkapi persenjataan Rudal C-705.

Kapal KCR-40 ini mampu menampung bahan bakar 50 ton, air tawar 15 ton, 35 orang anak buah kapal (ABK) dan masih mampu memuat 13 personel Pasukan Khusus. Selain itu memiliki peralatan navigasi akurat dan dilengkapi peralatan komunikasi yang mampu digunakan untuk melaksanakan komunikasi antar kapal permukaan dan pesawat udara dalam satu kesisteman.

KCR-40 yang terbuat dari baja khusus High Tensile Steel dilibatkan bersama dengan tiga KRI jajaran Koarmabar lainnya diantaranya KRI Sutan Taha Syaifudin-376, KRI Cut Nyak Dien-375 dan KRI Teluk Celukan Bawang untuk memperkuat Latihan Puncak TNI AL Armada Jaya.

Sejak diresmikan masuk memperkuat jajaran TNI AL, keterlibatan KRI Clurit-641 yang baru pertama dalam manuvra Latihan Puncak Armada Jaya ke-30 mampu mengikuti kegiatan manuvra lapangan sejak dari pangkalan Jakarta menuju Pangkalan Utama TNI AL di Surabaya dan selanjutnya lintas laut di Alur Perairan Barat Surabaya (APBS), Laut Jawa, Selat Makassar, perairan Pulau Laut Kaltim, perairan Sangatta Kaltim, dan Laut Sulawesi, hingga puncaknya dilaksanakan operasi amfibi berupa pendaratan pasukan pendarat Marinir di Sangatta, Kalimantan Timur.

Saturday, November 12, 2011

RBAF Accepts New Fast Interceptor Boat

12 November 2011

KDB MUSTAED, a new Fast Interceptor Boat (FIB25-012) for Royal Brunei Navy (all photos : Mindef Brunei)

The Acceptance Ceremony and Flag Raising of the Fast Interceptor Boat (FIB-25)

REPUBLIC OF SINGAPORE, - The Royal Brunei Armed Forces reached another significant milestone with the official acceptance of a Fast Interceptor Boat (FIB25-012), named KDB MUSTAED.

On 26th March 2010, the Government of His Majesty Sultan and Yang Di-Pertuan of Negara Brunei Darussalam, represented by the Ministry of Defence, Negara Brunei Darussalam signed an agreement with Luerssen Asia Pte.Ltd., whereby Brunei Darussalam Ministry of Defence will be supplied with one (1) unit of Fast Interceptor Boat Type FIB25-012. The start of Steel Cutting for KDB MUSTAED was initiated on 23rd December 2010 and the Launching Ceremony of the boat was inaugurated on 29th September 2011.


The acceptance of KDB MUSTAED by the Ministry of Defence, Negara Brunei Darussalam was held today, where the handing over and flag raising ceremony took place at Marinteknik Shipyard in Tuas, Republic of Singapore.

Accepting on behalf of the government of His Majesty the Sultan and Yang Di-Pertuan of Brunei Darussalam was Dayang Hajah Suriyah binti Haji Umar, Permanent Secretary (Administration and Finance) of the Ministry of Defence.

The boat has successfully carried out its Harbour and Sea Acceptance Trials and the crews are at their final stage of training before KDB MUSTAED is scheduled to begin her voyage back and expected to arrive in Brunei Darussalam later this month. The boat will be fully manned by officers and men of the Royal Brunei Navy.

Monday, October 24, 2011

Almaz Shipyard Delivered Two Patrol Ships To Vietnam

25 Oktober 2011

Svetlyak hull number 044 (photo : RusNavy)

Acceptance certificates of two Project 10412 patrol ships (serial numbers 044 and 045) built for Vietnamese Navy were signed on Oct 20 at Almaz Shipbuilding Firm. These are third and fourth hulls of Project 10410 Svetlyak export version. First two ships were delivered to Vietnam in 2002.

Both ships were laid down on one day – June 26, 2009. The first hull was launched on Nov 12, 2010, and the second one on Apr 22, 2011. Trials were delayed a bit because of protractions with arms and equipment supplies. In particular, Arsenal Machinery Plant delivered gun mounts AK-176M for both ships several months behind schedule.

Having completed trial program by mid-Oct, both patrol ships were docked in the shipyard's floating dock PD-423 and prepared for marine freight. In the nearest days, the ships will be moved to St. Petersburg's sea port and embarked on a transport ship for further shipping to Vietnam.

Svetlyak hull number 045 (photo : fleetphoto)

Other two similar ships are being completed at JSC Vostochnaya Verf (Vladivostok). Both hulls (serial numbers 420 and 421) were also keel-laid on one day – July 22, 2009. According to plan, they were to be delivered till the end of 2011. Delivery dates were repeatedly postponed due to same reasons, i.e. supplies protraction of equipment including gun mounts made by Arsenal plant. Finally, the delivery deadline is set in 2012.

Project 10412 was designed on the basis of Project 10410 Svetlyak patrol ship developed by Almaz Design Bureau in late 80's for Soviet KGB Coast Guard. Since the beginning of the Svetlyak program, Almaz Shipbuilding Firm has built 16 ships for domestic and foreign customers including hulls No. 044 and 045. In total, 36 such ships have been built. Comparing to basic project, Vietnamese ships are not armed with antisubmarine weapons so can be classified as patrol crafts or gun boats.

The ships built in Russia under Vietnamese government's order will substantially enhance its national navy in potential conflicts with China and other neighbors regarding disputable areas in the South China Sea, particularly, near Spratly Archipelago and Paracel Islands. For Vietnam, those regions are of great importance from the viewpoint of oil and gas reserves and bioresources.

Wednesday, October 5, 2011

Made-in-Vietnam Battleship Unveiled

05 Oktober 2011

The artillery ship TT400TP was unveiled on September 27 (all photos : tuoitrenews)

Vietnam’s first locally-made artillery ship TT400TP was formally unveiled last week at the wharf of Hong Ha ship-building plant or state factory Z173 in the northern city of Hai Phong, marking a new step in the country’s defense industry.

On the morning of September 27, Colonel Nguyen Van Dac, political commissar of the Hong Ha ship-building plant, received a phone call saying: “Dear political commissar, all weapons and equipment on the battleship successfully shot their targets.”

He immediately informed the good news to others in happy tears.


Thousands of staff, engineers, and workers in the factory have long waited for this historical moment.

“To their surprise, foreign experts said it usually took several times for a newly-made battleship in their countries to successfully hit a target. But this made-in-Vietnam ship opened fire accurately on its first time,” Dac proudly said.

After being appointed as director of factory Z173 seven years ago, the only concern of Nguyen Van Cuong was whether to manufacture a battleship or buy one from foreign countries.


Save up to 90%

Two years later, the factory’s management board decided to build a modern battleship by themselves from preliminary design and weapons bought abroad.

“This ship just costs us around US$1 million while a similar battleship on the global market costs up to US$10 million. So we save up to 90 percent,” Cuong said.

Hundreds of the best engineers in the factory had been trained abroad for three years to learn technologies needed to build the ship, Cuong added.


The TT400TP was created to undertake four missions: wipe out all enemy battleships, protect army bases of landing crafts, protect civilian vessels, and for patrolling purposes.

The ship, which is 54.16m long and 9.16m wide, has a maximum speed of 32 nautical miles per hour. It is able to continuously operate offshore for 30 days and nights at sustained winds of force 9 and waves of force 8. The ship has an operating range of 2,500 miles.

This will contribute to strengthening the naval force and mark a new step in Vietnam’s technology of warship building to contribute to the protection of national sovereignty, said Colonel Cao Hoa Binh, chairman of the Naval Technology Department.

Tuesday, September 27, 2011

East Timor Naval Force Receives Three Patrol Vessels from South Korea

28 September 2011

S. Korea hands over decommissioned three patrol boats to Timor Leste (photo : Timor Leste Goverment)

Dili, (AP) - The naval component of the Armed Forces of Timor-Leste on 26 Sept welcomed the government's three South Korean patrol ships, baptized with the names of Kamenassa, Dili and Hera, which will enable us to strengthen the sovereignty in the waters Timorese.

"With these new naval units there is an increase, this strengthens the independence and sovereignty of Timor-Leste in national waters," he told Lusa news agency the captain of the sea-and-war Donaciano Gomes, commander of the Naval component of the Defence Forces Timor-Leste.

According to the captain of the sea-and-war, "armed forces through its navy need to be in the water for reasons of national sovereignty and independence."

The three units will be three squadrons, two coastal patrol and one of Intercession.

The ceremony was attended by several representatives of countries that have military cooperation with East Timor, including Portugal, Australia and Indonesia, as well as elements of the government and the Timorese President Jose Ramos-Horta.

In his speech, Ramos-Horta thanked the "generous offer" of South Korea, as well as for all the help that has been granted to East Timor over the past 10 years.

"Our two countries are involved excecionais due to some common events in our history," he said.

Ramos-Horta thanked the other partners who have contributed to the development of the naval Timorese waters and prevented the country from being used for illicit activities.

During the ceremony, the boats were also baptized and blessed by your bridesmaids.

The Attorney General's Office, Ana Pessoa, was one of the women chosen to be the godmother of one of the new patrol vessels.