Showing posts with label Rudal. Show all posts
Showing posts with label Rudal. Show all posts

Tuesday, March 6, 2012

Disokong China, Indonesia Akan Bangun Pabrik Rudal

06 Maret 2012

Rudal anti kapal permukaan C-705 (photo : Tiexue)

Jurnas.com INDONESIA direncanakan akan memiliki pabrik peluru kendali (rudal) dalam waktu dekat. Rencana ini merupakan tindak lanjut kerja sama Indonesia-China saat kunjungan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu.

"Sekarang sedang dibicarakan untuk membangun pabrik peluru kendali di Indonesia yaitu C-705," kata Purnomo di kantor Kemhan di Jakarta, Selasa (6/2). Kerja sama akan memberi keuntungan bagi Indonesia dalam penguatan pertahanan. Peluru kendali ini punya jarak tembak sampai 140 km.

Selain punya industri pertahanan baru yang akan memberi masukan finansial bagi negara, Indonesia dapat memperkuat benteng pertahanannya dengan rudal yang diproduksi di dalam negeri. "Kalau bisa produksi dalam negeri, kami akan memasang rudal-rudal itu di daerah perbatasan untuk pengamanan," ujarnya.

Kerja sama dengan China ini tidak akan mempengaruhi hubungan dengan Amerika. Saat ini, hubungan China-AS sedang memanas terkait Laut China Selatan. "Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif. Indonesia tak mau tergantung kepada salah satu negara atau kepentingan, termasuk masalah alutsista," kata Purnomo.

Muhibah Kemhan RI ke China berlangsung 19-21 Februari lalu, memenuhi undangan Menhan China Jenderal Liang Guanglie. Purnomo sempat meninjau dua kompleks industri pertahanan China yang terkait dengan produksi peluru kendali dalam kunjungan tersebut.

Monday, March 5, 2012

Hawk 200 Latihan Penembakan Rudal Maverick

05 Maret 2012

Rudal AGM-65 maverick adalah rudal udara ke darat dengan jangkauan 13 hingga 27 km (photo : TNI AU)

Black Panther Latihan Maverick di Lanud Palembang

Satu Flight Black Panther Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru bertolak ke Lanud Palembang dalam rangka melaksanakan latihan penembakan dari udara ke darat (Air To Ground) jarak menengah dengan menggunakan rudal Maverick. Keberangkatan para penerbang tempur yang memiliki motto “Temukan dan Hancurkan” tersebut dilepas langsung oleh Komandan Lanud Pekanbaru, Kolonel Pnb Bowo Budiarto, SE di Shelter Skadron Udara 12, Minggu (4/3).

Pada latihan yang direncanakan berlangsung selama satu minggu tersebut melibatkan seluruh penerbang dan beberapa teknisi pesawat yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Lanud Pekanbaru, Letkol Pnb Prasetya Halim. Selain sebagai latihan rutin, latihan Maverick ini bertujuan untuk terus membina dan meningkatkan kemampuan para penerbang dalam melaksanakan misi-misi penerbangan maupun melaksanakan penembakan dari udara ke sasaran yang ada di darat dengan menggunakan rudal Maverick.

(TNI AU)

Monday, February 20, 2012

Indonesia dan China Sepakati Alih Teknologi Rudal

21 Februari 2012

Menurut siaran pers resmi, kerja sama industri pertahanan tersebut terkait dengan produksi peluru kendali darat ke darat (ground to ground), darat ke udara (ground to air), serta udara ke darat (air to ground) untuk melengkapi arsenal persenjataan Indonesia (photo : Kaskus Militer)

RI China Produksi Bersama Peluru Kendali

JAKARTA - Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705. Proses alih teknologi menjadi syarat utama dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari mancanegara, termasuk peluru kendali dari China.

"Selain itu, kita juga telah menjajaki kerja sama produksi bersama rudal tersebut sebagai produk nasional," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI Hartind Asrin, di Jakarta, Senin (20/2).

Rangkaian proses alih teknologi itu, antara lain ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro ke China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI AL disertai proses alih teknologi.

Sebelumnya, kedua pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan Industri Nasional Pertahanan China, Chen Qiufa.

Lima Poin

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin. Pertama, pengadaan alutsista tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka G to G. Kedua, alih teknologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifi kasi, up grade, dan pelatihan. Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu, serta pemasaran bersama di dalam dan di luar negara masing-masing. Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

Menhan bersama pejabat lainnya berkunjung ke China pada 19-21 Februari dalam rangka memenuhi undangan Menteri Pertahanan China Jenderal Liang Guanglie. "Segera setelah mendarat di Beijing, pada hari pertama, Menhan melakukan kunjungan, menggelar diskusi, serta meninjau dua kompleks industri pertahanan China yang terkait dengan produksi peluru kendali yaitu China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMIEC) dan Aerospace Long March International Trade & co., Ltd. (ALIT)," tulis siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing.

Di akhir pertemuan tersebut dicapai kesepakatan untuk kerja sama industri pertahanan yang meliputi alih teknologi yang diharapkan menguntungkan kedua negara.

Delegasi Kemhan hari ini dijadwalkan melakukan pertemuan dan perundingan dengan Menhan China Jenderal Liang Guanglie, kemudian bertukar pikiran dengan salah satu lembaga riset/produksi industri pertahanan terkemuka lainnya di China yaitu State Administration for Science, technology and Industry for National Defence (SASTIND). Pertemuan lain yang merupakan bagian dari kunjungan itu adalah pertemuan dengan Wakil Kepala Komite Sentral Militer China Jenderal Guo Boxiong yang merupakan orang pertama di Angkatan Perang China (PLA).

Wednesday, February 15, 2012

Russia, Vietnam to Jointly Manufacture Anti-Ship Missiles

15 Februari 2012


The Uran SS-N-25 Switchblade/Kh-35E subsonic anti-ship missile has a range of up to 250 kilometers /135 nautical miles (photo/image : ausairpower/warfare.ru)

Russia and Vietnam are planning to start in 2012 joint production of a modified anti-ship missile, head of the Federal Service for Military-Technical Cooperation Mikhail Dmitriyev said on Wednesday.

“We are planning to build facilities in Vietnam for the production of a version of the Russian Uran [SS-N-25 Switchblade] missile in a project that is similar to joint Russian-Indian production of the BrahMos missile,” Dmitriyev said.

The Uran subsonic anti-ship missile can be launched from helicopters, surface ships and coastal defense batteries. It has a range of up to 250 kilometers (135 nautical miles) and carries a 145-kilogram high explosive warhead.




Russian-Indian joint venture BrahMos Aerospace Ltd, set up in 1998, manufactures supersonic cruise missiles based on the Russian-designed NPO Mashinostroyenie 3M55 Yakhont (SS-N-26).

Sea- and ground-launched versions have been successfully tested and put into service with the Indian Army and Navy.

(RIA Novosti)

Airbus Military Signs Contract with Indonesia for Nine C295 Aircraft

15 Februari 2012

Airbus Military C-295 military transport (photo : mamboccv)

Airbus Military has signed today a firm contract with PT Dirgantara Indonesia (PT DI) to supply nine C295 military transport aircraft for delivery to the Indonesian Ministry of Defense.

The contract between PT DI and the Ministry of Defense of Indonesia was signed simultaneously, witnessed by Minister of Defense, Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, and the Chief of Armed Forces, Admiral Agus Suhartono, at a ceremony at the Singapore Airshow. The Indonesian designation of the aircraft will be CN295.

The aircraft will be operated by the Indonesian Air Force throughout the vast territory of Indonesia, which includes around 17.000 islands. The aircraft will perform a variety of roles including military, logistical, humanitarian and medical evacuation missions. The first delivery is foreseen in 2012 and by summer 2014 all aircraft will have been delivered.

Additionally, the industrial plan covers a substantial collaboration between PT DI and Airbus Military for the C295 programme, including the manufacturing of the tail empennage, rear fuselage and fuselage panels, as well as workpackages for the development of Computer Based Training systems and the creation of a service and delivery centre and a final assembly line (FAL) in Indonesia.

“This is a proud moment for our country as well as for the Indonesian aerospace industry. The C295 provides the ideal capacity to respond to Indonesia´s current and future military and humanitarian transport needs and does so very cost-efficiently, with full participation of the Indonesian aerospace industry, creating high skilled jobs and technology transfer,” said His Excellency Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, Minister of Defense of the Republic of Indonesia.

“This contract builds on the long and excellent partnership that exists between Airbus Military and the Indonesian aerospace industry. It will provide our country with the right capability for the years to come and allows PT DI to grow its aerospace business as a tier 1 supplier. This will position PTDI on the global aerospace scene and allow us to enhance our skills and workforce,” said Dr. Budi Santoso, President and CEO of PT DI.

“Airbus Military is honored that the Indonesian Ministry of Defense has chosen the C295 for its fleet and we look forward to continue our successful partnership with PT DI. We will ensure that we live up to this mark of confidence, which demonstrates the value that the C295 provides to the armed forces around the world”, said Domingo Urena-Raso, President and CEO of Airbus Military.

Over 85 C295s are in service today with 14 different operators.

(
Airbus Military)

Raytheon Engages Malaysian Industry for Missile Work

15 Februari 2012

Evolved Sea Sparrow Missile - ESSM (photo : USNavy)

First Malaysian company joins global team of ESSM suppliers

SINGAPORE /PRNewswire/ -- Raytheon Company (NYSE: RTN) awarded an initial contract to Malaysian-based Contraves Advanced Devices Sdn. Bhd. for the production and supply of components for the Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM). This is the first contract of its type awarded to a Malaysian company and is aligned with U.S. and Malaysian strategic initiatives as well as the Malaysian Economic Transformation Program.

"Raytheon is a global company with strategic partnerships worldwide," said Rick Nelson, vice president of Naval Weapon Systems for Raytheon Missile Systems. "We welcome Contraves to the ESSM global supply chain and look forward to expanding our relationship on ESSM and other programs."

Raytheon recently qualified Contraves Advanced Devices Sdn. Bhd. as a participant in the Strategic Enterprise Aligned Commodities provider program and as a Raytheon preferred supplier. The SEAC program is designed to focus Raytheon's global supply chain base on a more limited number of companies and qualifies Contraves as a provider for the majority of Raytheon production programs.

Raytheon has proposed ESSM to Malaysia for its upcoming Second Generation Patrol Vessel program for the Royal Malaysian Navy. Selection of ESSM for the SGPV program would significantly enhance the capabilities of the Royal Malaysian Navy and provide for interoperability with the U.S. Navy and with the Australian, Japanese and Canadian navies in the Pacific theatre.

"Through this partnership with Contraves, we are extending our global supply chain network and enhancing our presence and expertise in Malaysia," said Kevin Peppe, vice president of Seapower Capability Systems for Raytheon's Integrated Defense Systems business. "Our shared commitment to quality and performance will allow us to deliver exceptional capabilities to our customer and industry, now and into the future."

Raytheon has also issued requests for quotation to Malaysian industry for additional components for the ESSM, the MK56 ESSM vertical launching system, MK73 illuminator, and test equipment in support of the Malaysian SGPV program as well as other international production programs.

About ESSM

ESSM is the world's most advanced ship self-defense and local area defense surface-to-air missile system. The missile is employed by the U.S. Navy and 11 allied nations. More than 1,800 ESSMs have been delivered, and 400 more are under contract. The U.S. Navy employs ESSM as its primary surface-to-air missile system to defend its fleet of aircraft carriers and large deck amphibious ships, and as the secondary battery on its fleet of Aegis cruisers and destroyers. The U.S. Navy and the NATO SeaSparrow Consortium navies have conducted more than 250 live firings against real and surrogate targets that emulate the capabilities of the most demanding modern naval threats.

Wednesday, February 1, 2012

Russia to Hand Over Full Gepard Missile to Vietnam

01 Februari 2012

Launcher anti-ship missiles Kh-35E aboard the battleship Gepard 3.9 of Vietnam. (photo ; DSTO)

In an interview with RIA Novosti on Tuesday 31 / 1, the directors of the Corporation tactical missile system (KTRV), Mr.Boris Obonosov revealed the company had handed over fully theanti-ship missiles Kh-35E for 2009-2010 in Vietnam since the contract was signed before that.

According to KTRV contract in 2009, including 17 anti-ship missiles worth 767 million rubles 3M24E, and in 2010 has continued to transfer additional 16 missiles of this type (656million rubles), with eight training missiles 3M24EMB worth 72million rubles.

Kh-35E also known as Uran-E is the main anti-ship missiles on surface ships of the Navy in Vietnam, two typical warship HQ-011 Gepard 3.9 Dinh Tien Hoang and HQ-012 Ly Thai.

3M24 or Kh-35 (with variations exports respectively 3M24E orKh-35E) is subsonic anti-ship missiles, fly close to the sea by KTRV development, manufacturing variations in aircraftequipment, direct promoted, surface ships (the system Uran /Uran-E) and the system name, flame coast Bal / Bal-E.

Subsonic anti-ship missiles Kh-35E tactical has a range of 130km used to destroy the missile boats, torpedo boats, ships,artillery, surface ships with 5000 tons of water to stretch andshipping vessels. Russia has developed variations Kh35-UE improved features greater than 2 to 2.5 times the Kh-35E and a range of 260 km, twice the Kh-35E.

Thursday, January 5, 2012

Kosekhanudnas Medan Tinjau Rudal Perkuat Pertahanan Udara

06 Januari 2012

HQ-16 atau LY-80/KY-80 adalah rudal permukaan ke udara jarak sedang buatan China dengan sistem peluncuran vertikal, yang dapat menjangkau target hingga 40 km (photo : Chinese Military Review)

Medan, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) III Medan meninjau peluru kendali (rudal) di luar negeri untuk memperkuat pertahanan udara di daerah itu.

"Jenis rudalnya (yang ditinjau) KY-80," kata Panglima Kosekhanudnas III Medan Marsma TNI Bonar Hutagaol di Medan, Rabu malam.

Ia mengatakan, sebagai unit yang bertugas di wilayah barat, pihaknya membutuhkan rudal yang mampu menghancurkan pesawat dan rudal yang ditembak musuh.

Saat ini, jumlah rudal yang dimiliki Kosekhanudnas III Medan masih cukup banyak seperti yang digunakan sejumlah Batalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang (Arhanudse).

Meski demikian, pihaknya masih tetap memerlukan penambahan persediaan rudal untuk menjaga berbagai kemungkinan.

Karena itu, pihaknya meninjau rudal tersebut di Gurun Gobi, China yang dinilai sangat bagus dan cocok untuk memperkuat pertahanan udara di Indonesia.

Hasil peninjauan jenis rudal tersebut akan disampaikan ke pimpinan TNI untuk menetapkan keputusan yang dianggap perlu.

Kemudian, hasil peninjauan tersebut akan dikaji secara mendalam, baik dari segi kemampuan rudal maupun anggaran yang tersedia.

"Nanti baru ditentukan pilihan mana yang terbaik," katanya.

Ada pun untuk pesawat tempur, persediaannya sudah mulai ditambah sesuai rencana KSAU Marsekal TNI Imam Sufaat yang menargetkan "essential force" pada tahun 2025.

"Nanti akan digelar kalau banyak pelanggaran," katanya.

Sedangkan untuk radar hanya dibeli untuk landasan udara yang masih kosong seperti di Tanjung Pinang.

"Seluruh wilayah Sektor III sudah tertutupi (radar). Di Medan, radarnya bagus," kata perwira tinggi TNI AU berbintang satu itu.

(Antara)

Sunday, January 1, 2012

DND Orders Military to Look Into Possible Acquisition of Anti-Ship Weapons

02 Januari 2012

Philipinnes will acquire shore-based mobile anti-ship missiles (photo : Mylitaryphotos)

MANILA, Philippines - The Department of National Defense (DND) has ordered the military to look into the possibility of acquiring anti-ship weapons and beef up its maritime surveillance capability.

In its planning guidance for 2013 to 2018, the DND said maritime security is challenged by traditional concerns like safeguarding the Kalayaan Island Group and non-traditional concerns like terrorism, smuggling, piracy and human and drug trafficking.

DND, however, lamented the military’s maritime surveillance capability is “low” due to the unavailability of platforms and aging equipment.

“The Program 1 Resource Manager shall study the possibility and merits of acquiring a capability for delivering anti-ship weapons up to a range of about 100 miles through shore-based mobile missile batteries in the long term,” DND said, referring to military managers.

“The Program 2 Resource Manager shall gradually develop the capability for long-range maritime air patrol and surveillance,” it added.

Developing the maritime air surveillance would entail acquiring assets for long-range maritime air patrol, accompanying base support systems and other platforms to maintain and sustain deployable and deployed assets.

Military resource managers were also ordered to “gradually develop the capability for air surface and sub-surface surveillance detection and interdiction within maritime domain.”

The DND said such endeavor would require the acquisition of assets for offshore patrol, strategic sea- lift, and accompanying base support systems and platforms.

“Likewise, the development of the National Coast Watch System shall also be given priority,” the DND guidance read.

Last September, President Aquino issued Executive Order 57, which called for the creation of the national coast watch system. The order seeks to expand the country’s naval security operations and to protect its natural resources.

The DND is also planning to acquire a squadron of surface attack aircraft in the next few years to enhance the military’s capability to secure the country’s airspace. DND said enhancing the country’s air assets would address the Philippines’ territorial defense concerns.

The DND also wants to acquire air surveillance radars and to develop the military’s air defense system.

“The Program 2 Resource Manager shall gradually develop the capability of air surveillance and interdiction by reactivating the Philippine Air Defense System and acquiring air surveillance radars and one squadron of surface attack aircraft,” DND said.

A squadron consists of 12 to 24 aircraft units. A surface attack aircraft is capable of interception and maritime patrols.

DND admitted the military’s air defense capability is “insufficient to address territorial defense concerns.” It also admitted the Philippine Air Defense Control Center and other units cannot effectively perform their required duties like air intelligence, aerial patrol and air reconnaissance.

The military, for its part, has re-supplied its forces and deployed fresh troops in Kalayaan Island Group (KIG).

Aside from troop deployment which the Palawan-based Western Command (Wescom) described as routine rotation of forces, all naval units in the region, along with the newly acquired Navy frigate, BRP Gregorio del Pilar, have been placed on standby and for any disaster response and other seaborne operations during the holidays.

(PhilStar)

Friday, December 23, 2011

South Korea Unveils a New Medium-Range SAM

23 Desember 2011

Cheongung medium range SAM, can reach target at 40km range (photo : Defense Update)

South Korea unveils a new medium-range surface-to-air missile the Cheongung M-SAM

In December 2011, South Korea unveils its new new medium-range surface-to-air missile. The Cheongung missile will be deployed from 2013. In the second phase from next year until 2018, the ADD plans to turn the Cheongung into a ballistic interceptor missile, which would lay the groundwork for a Korean version of the Patriot Advanced Capability (PAC)-3.

Staff of the Agency for South Korean Defense Development demonstrate the Cheongung surface-to-air missile at the Daejeon headquarters of the Army.

South Korea Korea is the fifth country after Russia, France, Taiwan and Japan to have developed such a weapon. The U.S. is currently developing a high-tech medium-range surface-to-air missile in cooperation with Italy and Germany, under the name of MEADS (Medium Extended Air Defense Missile Systems).

The new SAM called ‘Cheongung’ (Iron Hawk) can intercept targets at altitude up to 15 km and at a range of about 40 km. LIG Nex1 plans to begin production in 2012 and according to the original schedule, begin replacing the first MIM-23 Hawk batteries beginning 2013.

Following the induction of the new Cheongung Seoul plans to offer the missile for export. Seoul estimates the market potential of such missiles at over US$2.3 billion. Apparently, the Russian Company that developed the system, Almaz Antey, thought the same as they kept the program alive after transferring the prototypes to Korea. The Russian version known as Vityaz could be ready to replace first generation S-300PS (5V55R) missiles, covering a similar intercept envelope, by the end of their service in 2015.

The South Korean Agency for Defense Development began development of the Cheongung in 2006, but started research in 2001 based on Russia's S-400 missile system. In cooperation with Russia, a Korean engineering team replaced a massive Russian radar system with a small device, which can be installed on a truck. The team also began research on a missile propulsion system based on the small Russian-made 9M96 missile. The radar is installed at the head of the missile to let it trace its own target.

Tuesday, November 8, 2011

Malaysia Requests AIM-9X-2 Sidewinder Block II Missiles

09 November 2011

AIM-9X2 air-to-air missile (photo : Raytheon)

WASHINGTON – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress today of a possible Foreign Military Sale to the Government of Malaysia for 20 AIM-9X-2 SIDEWINDER Block II All-Up-Round Missiles and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $52 million.

The Government of Malaysia has requested a possible sale of 20 AIM-9X-2 SIDEWINDER Block II All-Up-Round Missiles, 8 CATM-9X-2 Captive Air Training Missiles, 4 CATM-9X-2 Block II Missile Guidance Units, 2 AIM-9X-2 Block II Tactical Guidance Units, 2 Dummy Air Training Missiles, containers, missile support and test equipment, provisioning, spare and repair parts, personnel training and training equipment, publications and technical data, U.S. Government and contractor technical assistance and other related logistics support. The estimated cost is $52 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a friendly country that has been, and continues to be, an important force for political stability and economic progress in East Asia.

The Royal Malaysian Air Force is modernizing its fighter aircraft to better support its own air defense needs.

The proposed sale of AIM-9X-2 missiles will enhance Malaysia’s interoperability with the U.S. and among other South East Asian nations, making it a more valuable partner in an increasingly important area of the world.The proposed sale of this weapon system will not alter the basic military balance in the region.

The prime contractor will be Raytheon Missile Systems Company in Tucson, Arizona. There are no known offset agreements in connection with this potential sale.

Implementation of this proposed sale will require travel of U.S. Government or contractor representatives to Malaysia on a temporary basis for program technical support and management oversight.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.

This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

Sunday, November 6, 2011

S-125 Missiles to Protect the Vietnam's Airspace

07 November 2011

S-125 Pechora missile launchers system has a range of up to 35km and destroying the target at an altitude of 18,000 m (all photos : Dat Viet)

Missile Regiment 213, Division 363 are always in combat readiness posture to firmly defend the airspace of Vietnam.


As one of the main unit of the Air Defense - Air Force, in recent years Regiment 213, Division 363 are successfully completing the training missions, combat readiness, firmly defend the airspace and sovereignty of the sea and the sacred island of the country.


The readiness of the missile launcher system is supported by an excellent training system and the dedication of the soldiers to the country.

(BaoDatViet)

Thursday, October 20, 2011

Vietnam Received Second Bastion Coastal Defence System

20 Oktober 2011

Bastion P coastal defence system (photo : Militaryphotos)

Russian Missile Defense Allocation for Viet Nam

Reports say Russia has delivered second Bastion coast missile defense system to Vietnam under the investment contract signed in 2005.

Russia's Interfax news agency said a military source 18/10 Tuesday that the transfer of active defense system equipped with supersonic anti-ship missiles were made Yakhont last week.

Two Russia’s giant arms exporter Rosoboronexport and Mashinostroyeniya NPO that Russia have signed contracts with Vietnam in 2005, including two Bastion coastal defense system.

First Bastion system which Vietnam's purchase of Russia has been shipped from mid-year.

Recently, Russian media also announced Vietnam is negotiating with the Russian government to sign more contracts to purchase additional Bastion systems, the number is not published.

With modern equipment, defense of Vietnam's coast will be enhanced significantly, especially in the context of developments on the coast are many complex.

Prestigious defense journal Jane's Defence said negotiations of the contract will be made by state credit of Russia, and can hang will be provided around the year 2013-2014.

Increases defense

Bao said the Russian Bastion system was achievements of the industrial production of Russia's missiles, capable of destroying various types of amphibious warship from transport and support ship, destroyer warships and aircraft carrier, as well as kill targets in a single vessel fleet to 300 km distance.

Bastion is able to protect a coastal area extending to 600 km. State news agency of China, Xinhua, has said Vietnam will put the two systems Bastion in the central coast has to cope with threats on the South China Sea.

The system consists of four vehicles carrying reporters Bastion self K-340P (two tubes each vehicle carrying ammunition missiles TPS); 2 K380P MBU control car (25-ton truck on the chassis MZKT-65273) can be prepared to war within 3 to 4 minutes; 4 rounds K-342P truck TZM (on chassis MZKT-7930) equipped with cranes used to load 5.9 ton K-loader vehicles and equipment 340P technical support and other combat training.

Also mentioned basic configuration, customers can choose the configuration with the number of vehicles, car and truck drivers shot on demand.
Supersonic cruise missiles, K310 Yakhont flying over the sea using a static jet engines.

Missiles Bastion-P has two mode: low-flying cruise with a range of about 120km, and low-flying cruise mixed with a range of about 300km.

(BBC Vietnam)

Monday, October 17, 2011

Korphaskas akan Mendapatkan Meriam Oerlikon 35mm Dilengkapi Chiron

17 Oktober 2011

Meriam anti serangan udara 35mm (photo : Militaryphotos)

Komandan korpaskhas : prajurit jangan terlena dengan prestasi

ANTARAJAWABARAT. - Komandan Korpaskhas TNI Angkatan Udara, Marsma TNI Amarullah meminta seluruh pasukan Korpaskhas tidak terlena dengan sejumlah prestasi gemilang yang telah kesatuan baret jingga tersebut karena tantangan kedepan akan semakin berat.

Komandan Korpaskhas mengatakan itu saat memimpin upacara HUT Korpaskhas ke-64 di Lapangan Markas Komando Korpaskhas Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin. "Terus tingkatkan kemampuan diri dengan berlatih keras dan disiplin. Keberhasilan Korpaskhas dalam penugasan menunjukkan betapa pentingnya sebuah profesionalisme bagi seorang prajurit. Salah satu esensi dari peringatan HUT ini adalah tekad melakukan yang terbaik bagi masyarakat bangsa dan negara," ujarnya.

Penerjunan 13 prajurit TNI AU dalam mengusir penjajah di Sambi Kotawaringin, Kalimantan Tengah pada tahun 1947 merupakan merupakan tonggak sejak yang perlu terus dikobarkan dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam setiap menjalankan tugasnya prajurit Korpaskhas harus selalu mengamalkan prinsip bekerja tanpa memperhitungkan untung dan rugi.

"Korpaskhas sebagian bagian dari TNI AU telah banyak memberikan sumbangsihnya bagi bangsa dan negara. Terlebih pada saat penjajahan Belanda. Korpaskhas telah ikut menyatukan sejumlah wilayah ke dalam NKRI," ujarnya.

Satuan yang dulu dikenal dengan Korp Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) telah ikut aktif dalam pengabdian bangsa dan negara termasuk membantu masyarakat yang menjadi korban bencana alam. Terakhir Korpaskhas berhasil menemukan bangkai pesawat NC 212 di kawasan Bahoro, Sumatra Utara.

LIG Nex1 Chiron rudal pertahanan udara (photo : KDN)

Adapun pengembangan alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang dilakukan Korpaskhas adalah melengkapi diri dengan persenjataan QW-3 yang terus dimantapkan melalui latihan-latihan pengoperasiannya.

Tak hanya itu, untuk kedepannya pun akan mendatangkan penangkis udara kanon Oerlikon Kaliber 35 mm yang dilengkapi dengan radar dan rudal jarak pendek Chiron. Diharapkan pada akhir 2012 alutsista tersebut terus bertambah.

Pada upacara peringatan HUT Korpaskhas itupun digelar pertunjukkan senam balok yang bermakna uji ketahanan, ketangkasan dan kekuatan prajurit Korpaskhas dan atraksi "pasukan terjun payung" sebanyak 64 prajurit dengan membawa berbagai atribut kesatuannya.

Monday, September 19, 2011

India to Sell BrahMos Missile to Vietnam

20 September 2011

Brahmos air launched version (photo : Bharat Rakshak)

The BrahMos Aerospace —the Indo-Russian joint venture that has developed the BrahMos supersonic cruise missile — is keen to sell the missile to Vietnam with which India is developing a strong strategic relationship, sources have confirmed.

However, the Indian government’s approval will have to be taken for any such acquisition. Sources also confirmed that Vietnam is already on a list of about 15 “friendly countries” — that was decided by a joint Indo-Russian supervisory council — to whom the BrahMos missile can be sold.

“Informal talks are on but no concrete proposal has been made as yet,” a source who did not want to be identified, told this newspaper. “Any acquisition of the BrahMos missile will be of immense value to Vietnam and will boost its defence preparedness,” sources said.

So far, the BrahMos missile has not been sold to any third country although a few have already evinced interest in acquiring it.

In a move that signalled the importance of strategic ties between India and Vietnam in the wake of increased Chinese military assertion in Asia, defence secretary Shashi Kant Sharma had also recently begun an official visit to Vietnam. India is set to offer naval facilities for training and capacity building to Vietnam.

Sunday, September 4, 2011

SA – 1 Guild

S (Systema) – 25 Berkut / Kode NATO : SA – 1 Guild

Sishanud SAM pertama Russia/Uni Sovyet ini dibangun pada 9 Agustus 1950. Sishanud SAM S-25 Berkut ( yang berarti Elang Emas dalam bahasa Indonesia ) terdiri dari :

- Radar E/F A-100 “Kama”, yang berfungsi sebagai Radar Peringatan Dini dan Deteksi Target. Jangkauannya antara 25 – 250 km.
- Radar B-200, berfungsi sebagai Radar Pemandu Rudal.
- Rudal V-300, Rudal utama dalam Sistem S-25 ini.

Tidak banyak yang dapat dijelaskan dalam Sishanud SAM Russia pertama ini selain mempunyai kecepatan maksimun 2,5 Mach, membawa hululedak berkisar antara 200 – 300 kg, serta ketinggian minimum 900 meter maksimal 18 km. Sista ini dibangun untuk mengatasi pembom tinggi Amerika B-52 Stratofortress.

Negara yang mengoperasikan Sista Hanud ini hanya ada 2 : Uni Sovyet/Russia dan Korea Utara

Tuesday, August 23, 2011

RSN Conducts Successful Missile Firing

24 Agustus 2011


The upgraded RSN missile corvette RSS Valiant firing against an air drone target simulating a missile attack on the ship. (photos : Mindef)


The Republic of Singapore Navy (RSN) conducted a live-firing of the Barak anti-missile missile in the South China Sea earlier today as part of the annual Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) exercise which the Singapore Armed Forces (SAF) is conducting with the United States Navy (USN). The missile was fired by the upgraded RSN missile corvette (MCV) RSS Valiant against an air drone target simulating a missile attack on the ship. The target was successfully destroyed.




Commanding Officer RSS Valiant, Lieutenant Colonel Goh Kian Ngiap said that the exercise was valuable to both the RSN and USN. "The CARAT exercise is a great opportunity for both the RSN and USN to interact and exercise with each together. Many good ideas were exchanged, and the bonds of friendship strengthened," said LTC Goh. In addition, RSN personnel who took part in the exercise found value in working alongside their USN counterparts. Weapon Systems (Control) Operator Military Expert 1 William Kang, who fired the Barak missile said, "This was a wonderful learning experience for me in exercising with personnel from the USN. It was also excellent to see the entire crew's teamwork in action and executing the successful missile hit."


Barak - short range surface to air missile with operational range 10-12 km (photo : Rafael)



Present at the firing was Minister of State for Defence and Education Lawrence Wong, Senior Parliamentary Secretary for Defence and National Development Dr Mohamad Maliki Bin Osman, Chief of Defence Force Lieutenant-General Neo Kian Hong and Chief of Navy Rear Admiral Ng Chee Peng. Similar missile firings have been conducted in previous CARAT exercises. The exercise is presently ongoing and will conclude on 29 Aug 2011.


Saturday, June 18, 2011

SA – 3 Goa

Isayev S – 125 Pechora / Kode NATO SA – 3 Goa

Kenapa ada Isayev ? Mungkin sebagai bentuk penghargaan kepada Alexei Mikhailovich Isayev, seorang Engineer Roket Russia.

Back to Topic, S-125 Pechora di desain pada tahun 1960 oleh Biro Desain Pusat Almaz. Pertama kali bertugas pada tahun 1963 dan masih digunakan sampai sekarang di beberapa negara yang menjadi operatornya.

Unit Pechora meliputi :

- Radar Pengontrol Tembakan SNR-125 “Low Blow”
- Radar Akuisisi P-15 “Flat Face”
- Baterai V – 600 ( 5V24) atau V – 601 ( 5V27 ), dengan peluncur ganda maupun kwartet.

Belum ada data yang pasti berapa banyak unit Pechora yang diproduksi, yang pasti ada beberapa varian Pechora yaitu : Neva, Neva-M, Neva-M1, Newa SC, Volna, Volna-M, Volna-N, Volna-P, Pechora, Pechora-M, Pechora-2, dan Pechora-2M.

Data-data Teknis Pechora, sebagai berikut :

Panjang : kurang lebih 6,7 meter ( 20 kaki )
Berat : 953 kg.
Hululedak : 60 kg.
Jarak Jangkauan : 3,5 km sampai dengan 35 km
Ketinggian maks : 100 m sampai dengan 18 km
Tenaga Penggerak : Solid Motor Rocket Propellant

Pechora masih digunakan di 24 negara dan pernah dipakai di 12 negara sebelum akhirnya digantikan.

Seperti halnya pendahulunya ( S-75 ), Pechora juga mempunyai pengalaman tempur tidak sedikit, mulai dari Perang 6 hari sampai ke Perang Saudara di Angola. Korbannya pun tidak tanggung-tanggung, dari Mirage F1, A-4 Skyhawk, F-4 Phantom, F-16 sampai F-117 Nighthawk, Stealth Fighter pertama yang ditembak jatuh di Perang Kosovo

Friday, June 17, 2011

Rudal Patriot

Rudal Patriot

Di dalam era perang modern yang sarat teknologi militer canggih saat ini, teknologi peluru kendali (rudal) memainkan peran yang penting dan strategis. Rudal menjadi penting dalam satu peperangan karena mempunyai kemampuan menjangkau posisi pihak lawan yang sangat jauh sekaligus menghancurkannya.

Berbagai jenis rudal dapat dikelompokkan dalam 4 tipe kategori, yaitu:
• permukaan ke udara (surface to air),
• udara ke udara (air to air),
• udara ke permukaan (air to surface)
• permukaan ke permukaan (surface to surface).
Salah satu rudal yang telah memiliki “pamor” adalah rudal Patriot (MIM-104) milik Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang dinilai berhasil melaksanakan tugasnya semasa Perang Teluk (Persian Gulf War) dan Perang Irak (Operation Iraqi Freedom) tahun 2003.

Sebenarnya ide teknologi Patriot sudah dirintis sejak akhir tahun 60-an, dibawah pimpinan Zdzislaw Starostecki, ilmuan AS berdarah Polandia. Rudal Patriot merupakan kombinasi kemampuan sistem radar phased array dan sistem kendali rudal track-via-missile guidance. Namun baru pada tahun 1976 ide tersebut dapat terwujudkan dan tahun 1984 dioperasikan pertama kali oleh Angkatan Bersenjata Amerika dengan fungsi sebagai sistem senjata anti pesawat terbang.

Istilah Patriot sendiri berasal dari singkatan Phased Array TRacking to Intercept Of Target.

Sekilas Rudal Patriot

Rudal Patriot yang mempunyai “call sign” MIM-104, merupakan tipe rudal jarak menengah permukaan ke udara (medium range surface to air missile) yang dapat beroperasi di segala cuaca dan medan. Oleh Angkatan Bersenjata Amerika, Rudal Patriot dijadikan sebagai bagian dari sistem pertahanan udara dengan “tugas pokoknya” menghancurkan rudal lawan (counter tactical ballistic missiles) atau menghancurkan obyek udara lainnya, seperti pesawat terbang dan sebagainya.

Rudal Patriot dibuat oleh dua perusahaan spesialis persenjataan militer yaitu Raytheon di Massachusetts dan Lockheed Martin di Florida, Amerika Serikat. Rudal Patriot merupakan Rudal andalan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (dan sekutunya) serta memainkan peranan penting dalam memenangkan suatu kancah peperangan.

Saat ini Rudal Patriot digelar di beberapa negara di luar Amerika Serikat, seperti Jerman, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Saudi Arabia, Taiwan dan Mesir.

Rudal Patriot mendapat nama harum, ketika digunakan dalam berbagai operasi selama Perang Teluk, saat itu Rudal Patriot (tipe PAC-2) yang digelar di Kuwait berhasil menghancurkan sejumlah Rudal Scud milik Irak di udara, walaupun ada beberapa juga yang meleset dari target.

Sehingga Rudal PAC-2 kemudian di upgrade menjadi rudal PAC-3 dan Rudal GEM+ (Guidence Enhanced Missiles) dengan sistem radar dan kendali Rudal yang lebih akurat dan canggih, berdaya jangkau hingga 300 km. 

Rudal Patriot pertama kali digunakan dalam perang pada tanggal 18 Januari 1991, ketika satu Rudal Patriot sukses mengintersepsi sekaligus menghancurkan satu Rudal Scud milik Irak di atas udara Saudi Arabia. Bisa dikatakan bahwa saat itulah pertama kalinya terjadi perang Rudal melawan Rudal.

Kemampuan Teknis Rudal Patriot

Rudal Patriot dilengkapi sistem pengendalian Rudal TVM (Track-Via-Missiles) memiliki kemampuan mengidentifikasi sekaligus 100 target Rudal atau obyek udara yang berbeda dan siap diluncurkan dalam waktu kurang dari 9 detik.

Satu stasiun sistem Rudal Patriot terdiri dari 4 komponen, yaitu
• sistem radar phase array AN/MPQ-53 (G-band system) berfungsi sebagai “detection to kill” dilengkapi sistem IFF (Identifying Friend or Foe),
• satu kotak peluncur Patriot terdiri dari 4 buah Rudal PAC-2 (kemudian di upgrade menjadi PAC-3) ditarik kendaraan M-860 semi-trailer seberat 5 ton,
• satu ruang pusat pengendalian Engagement Console Station (ECS) AN/MSQ-104 dengan awak operatornya
• sistem komunikasi dengan antena Mast 4 kW UHF yang menyatu dengan kendaraan pengangkut.

Sementara satu stasiun Patriot dapat terdiri dari 8 kotak peluncur, sehingga memiliki total Rudal sebanyak 32 yang siap dioperasikan. Sistem radar Patriot dikenal tercanggih saat ini terutama untuk kemampuan sistem tracking obyek udara yang menjadi targetnya.

Secara teknis, Rudal PAC-2 memiliki panjang 5,31 meter dengan berat 900 kg berbahan bakar solid-fueled, memiliki kecepatan 5 kali kecepatan suara (mach 5) dan dilengkapi dengan hulu ledak seberat 91 kg. Sementara PAC-3 posturnya lebih ramping namun lebih akurat dengan daya jangkau sampai 300 km di ketinggian maksimum 24 km.

Cara Kerja Sistem Rudal Patriot

Seperti terlihat pada gambar 4, cara kerja sistem Rudal Patriot adalah sebagai berikut: Pertama, radar phased array “menyapu langit” untuk mendeteksi adanya obyek udara (target) yang mengancam, sekaligus mengidentifikasi apakah obyek tersebut kawan sendiri atau merupakan rudal, pesawat tempur atau pesawat tanpa awak milik lawan.

Jika teman, di layar radar akan terlihat kode-kode tertentu yang selalu berubah setiap hari. Bila lawan yang tidak memancarkan kode-kode tertentu, maka operator rudal akan mempersiapkan penembakan.

Berikutnya, setelah target terdeteksi dan teridentifikasi maka sistem komputer Patriot membuat data tracking Rudal target seperti data tentang, posisi, trakyektori, speed, altitude & heading. Kemudian sistem radar dan komputer memantau terus menerus pergerakan Rudal target, dan selanjutnya operator akan memilih jenis Rudal apa yang akan diluncurkan, apakah Rudal PAC-3 atau GEM+.

Langkah berikutnya, operator meluncurkan Rudal dari kotak peluncur (missile launcher) dalam waktu kurang dari 9 detik, setelah Rudal meluncur dari tabung peluncur, sepenuhnya akan dipandu oleh sistem radar dan sistem kendali TVM menuju target. Rudal yang diluncurkan tersebut kemudian akan “membaca” sinyal data pergerakan Rudal target dan meneruskan sinyal tersebut ke control station.

Sehingga sistem komputer sekarang tahu secara akurat posisi dari Rudal Pariot maupun Rudal lawan. Terakhir, kalau Rudal yang dipilih operator adalah GEM+ (4 Rudal per launcher) maka warhead Rudal GEM+ akan meledak dekat Rudal target sekaligus menghancurkannya. Apabila Rudal PAC-3 (16 per launcher) yang dipilih operator, maka sifat dari Rudal tersebut adalah direct hit atau langsung menubrukan dirinya ke Rudal target (sasaran). Rudal patriot siap melabrak sasaran dalam jarak 16 sampai 32 km dengan kecepatan menanjak 700 sampai 1400 m/detik.

Jadi, kinerja rudal Patriot sangat ditentukan oleh keberhasilan early warning system atas kedatangan rudal musuh, baik melalui pencitraan radar atau satelit, disamping kemampuan Patriot untuk membentur rudal lawan secara akurat

Spesifikasi Rudal Patriot
• Panjang rudal 5,2 meter
• Diameter rudal 41 cm
• Jangkauan 70 km
• Berat 900 kg
• hulu ledak 91 kg
• 4 sirip berbentuk delta dengan diameter 85 cm
• Pendorong Single-stage solid fuel rocket motor
• Keepatan 5 mach
Varian Patriot, ASOJ / SOJC, PAC-2, PAC-2 GEM, GEM / C, GEM / T (atau GEM +) dan PAC-3

Spesifikasi (PAC-1 )
Bobot 700 kg
Panjang 5.800 mm
Diameter 410 mm

Kisah Sukses & Kegagalan Rudal Patriot

Berbagai kisah sukses diraih Rudal Patriot selama Perang Teluk (Persian Gulf War) tahun 1991 dan Perang Irak (Operation Iraqi Freedom) tahun 2003, di antaranya berhasil mengintersepsi dan menghancurkan 70% Rudal Scud atau Rudal Al Husein milik Irak langsung di udara, di atas udara Saudi Arabia, Kuwait dan Israel. Hal tersebut secara psikologi menaikkan moril pasukan sekaligus meruntuhkan moril pasukan Irak.

Namun di balik kisah suksesnya, Rudal Patriot juga mengalami beberapa kisah kegagalan. Contohnya, pada tanggal 25 Februari 1991 satu Rudal Scud Irak berhasil lolos dari cegatan Rudal Patriot dan langsung menghantam barak militer sekutu di Dahran Saudi Arabia, akibatnya sebanyak 28 tentara Amerika dari US Army 14th Quartermaster Detachment tewas seketika.

Kegagalan berikutnya terjadi pada Perang Irak tahun 2003 (Operation Iraqi Freedom), ketika satu pesawat Tornado Angkatan Udara Inggris dan satu pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika yang notabene merupakan kawan sendiri, “berhasil” diintersepsi dan dihancurkan oleh Rudal Patriot. Hal tersebut terjadi karena kesalahan sistem identifikasi IFF Radar Patriot.

Sedangkan kisah unik lainnya, ketika satu pesawat F-16 Angkatan Udara Amerika juga salah mengidentifikasi satu stasiun Rudal Patriot karena dianggap sebagai baterai Rudal SA-2 milik Irak, selanjutnya dapat diterka pesawat F-16 meluncurkan Rudal AGM-88 HARM yang kontan meluluh lantakkan stasiun Rudal Patriot tersebut.

Namun di balik beberapa kisah kegagalan tersebut, Presiden George W. Bush mengklaim bahwa Rudal Patriot memiliki tingkat kesuksesan hingga 90% selama masa perang.

Sedangkan Israel sebagai sekutu AS yang kecewa tidak diperbolehkan membeli Rudal Patriot malah membuat sendiri Rudal mirip Patriot dengan nama Rudal Arrow.

Tuesday, June 14, 2011

Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL

Styx : Rudal Anti Kapal Pertama TNI AL

Rasanya nyaris terlupakan, jauh-jauh hari sebelum TNI AL mengoperasikan rudal anti kapal modern, macam keluarga Exocet, Harpoon, C-802 dan Yakhont, di masa revolusi awal tahun 60-an, TNI AL nyatanya juga sudah memiliki rudal anti kapal. Sesuai iklim politik pada saat itu, pasokan alutsista modern kala itu dipasok oleh Uni Soviet dan negara-negara pakta Warsawa lainnya. Rudal anti kapal pertama yang dioperasikan TNI AL adalah P-15 Termit, atau dalam kode NATO disebut sebagai Styx (SS-N-2). 

Sytx didatangkan waktu itu guna keperluan kampanye militer dalam operasi Trikora merebut Irian Jaya. Sebagai rudal anti kapal yang lahir di era perang dingin, Styx dirancang dengan kemampuan dan daya hancur tinggi, tak ayal Styx memang punya daya deteren amat tinggi di era tersebut. Indikatornya bisa dilihat dari berat hulu ledaknya yang mencapai 500 kg high explosive, sementara bobot rudal secara keseleruhan 2,340 kg dengan jangkauan efektif mencapai 40 km, meski dalam teorinya bisa mencapai jarak 80 km.

Styx diluncurkan dengan beberapa pilihan sistem pemandu, mulai dari auto pilot, acitive radar, hingga pemandu berdasarkan infra merah. Untuk opsi pemandu radar biasanya didukung perangkat Electronic Support Measures (ESM) dan radar Garpun yang akan menuntun rudal antara jarak 5,5 dan 27 km dari batas target. Sensor pembidik pada rudal akan aktif mulai 11 km dari target sasaran, saat itu posisi rudal akan turun 1-2 derajat dari level target. Rudal maut ini umumnya meluncur sekitar 120 hingga 300 meter dari permukaan laut dengan kecepatan sub sonic 0,9 mach.

Walau saat didengungkannya operasi Trikora TNI AL juga mengoperasikan kapal penjelajah berat, KRI Irian, tapi Styx justru hadir dalam platform kapal cepat berpeluru kendali (fast attack craft missile) kelas Komar. Kapal cepat kelas Komar didatangkan TNI AL dari Uni Soviet pada periode 1961 – 1965. Jumlah yang dimiliki TNI AL pun cukup siginifikan, yakni mencapai 12 kapal yang masuk dalam jajaran armada KCR (Kapal Cepar Roket/Rudal) sebutan populer pada saat itu.

Masing-masing kapal dapat membawa 2 unit rudal, nama-nama kapal kelas Komar TNI AL diambil dari nama senjata dari cerita pewayangan, yakni KRI Kelaplintah (601), KRI Kalmisani (602), KRI Sarpawasesa (603), KRI Sarpamina (604), KRI Pulanggeni (605), KRI Kalanada (606), KRI Hardadedali (607), KRI Sarotama (608), KRI Ratjabala (609), KRI Tristusta (610), KRI Nagapasa (611) dan KRI Gwawidjaja (612). Sebagai kapal cepat berudal, kelas Komar diawaki secara terbatas oleh 10 – 11 personel.
Dengan 4 mesin sub diesel, kelas Komar dapat ngebut hingga kecepatan 30 knot. Tidak ada informasi berapa unit Styx yang dimiliki TNI AL. Tapi dalam hitung-hitungan standar, idealnya dengan 12 kapal setidaknya TNI AL memilliki minimal 24 unit rudal Styx. ”Sayang” hingga akhir masa baktinya Styx di Indonesia belum pernah membuktikan kesaktiannya secara langsung, walau bila dicermati alutisista ini juga berperan dalam kampanye militer “perang urat saraf” yang membuat nyali Belanda ciut. 

Dari beberapa informasi, kapal cepat kelas Komar ternyata masih dioperasikan TNI AL hingga tahun 1978. Sebuah usia yang lumayan panjang untuk kelas kapal dari Uni Soviet, mengingat beberapa alutsista sejawat asal Uni Soviet sudah keburu di grounded akibat embargo suku cadang. Bahkan informasi dari Janes’s Fighting Ship (1983 – 1984) menyebutkan Komar baru dipensiunkan TNI AL pada tahun 1985. Meski Komar bisa digunakan terus sampai 1985, kemungkinan lewat kanibalisasi suku cadang, rasanya masih harus dipertanyakan tentang fungsi dan operasional rudal Styx, mengingat rudal meski hanya dalam kondisi standby tetap memerlukan pemeliharan dan update suku cadang. 

Besar kemungkinan Komar hingga akhir hayatnya tetap digunakan sebagai kapal patroli, pasalnya Komar masih sedikit bergigi dengan kanon kembar anti pesawat kaliber 25mm di dek depan. Sebagai kenang-kenangan kejayaan masa lalu, salah satu Styx kini bisa dijumpai sebagai monumen yang menghiasi halaman depan Markas Komando RI Kawasan Barat di Jakarta. 

Born to Fight
Styx bisa dibilang jenis rudal yang legendaris dan meraih predikat rudal buatan Uni Soviet yang battle proven. Styx masuk dalam sejarah sebagai senjata yang mengubah pola peperangan di laut. Sejak mulai dioperasikan Uni Soviet pada tahun 1959, Styx telah dipasang pada 100 kapal serang cepat kelas Komar, dimana 70 diantaranya dikirimkan ke berbagai sekutu Soviet, termasuk 12 unit yang dijual ke Indonesia.
Pamor Styx mencuat saat digunakan dalam konflik antara Mesir dan Isreal. Saat itu, 21 Oktober 1967, dua kapal Komar milik Angkatan Laut Mesir meluncurkan Styx terhadap kapal berbendera Angkatan Laut Isreal, yakni perusak Eilat. Kedua kapal Mesir itu menembakkan rudalnya dari pangkalan di pelabuhan Alexanderia, dan berhasil mengkaramkan kapal perusak tersebut. Alhasil dunia pun gempar, sebab ini pertama kali sebuah kapal perang dapat ditenggelamkan dengan rudal. 

Kapal serang komar dan Styx kemudian beraksi kembali dalam perang Vietnam. Di bulan April 1972, Komar milik Vietnam Utara berhasil menyerang kapal penjelajah USS Sterett yang sedang membombardir sasaran di pantai Vietnam. Tapi kali ini Styx tak berhasil mengkandaskan kapal sasaran, Styx yang diluncurkan dari kapal Vietnam Utara berhasil disergap oleh rudal darat ke udara RIM-2 Terrier yang dilepeaskan dari USS Sterett. Kejadian ini pun tercatat dalam sejarah sebagai pertama kalinya rudal dapat dihancurkan oleh rudal dalam perang.

Styx dan Osa Class
Selain duet antara Styx dan kapal serang tipe Komar, Styx juga menjalin duet dengan kapal serang kelas Osa yang dioperasikan Uni Soviet oleh keempat armadanya di Laut Utara, Laut Baltik, Laut hitam dan Pasifik. Rudal Styx pada Osa juga sudah mengalami peningkatan dari Styx versi pertama. Prestasi Styx dan Osa sudah tercatat dalam perang India vs Pakistan di tahun 1971. Dalam perang ini, kapal cepat Osa milik AL India dengan Styx-nya berhasil mengkandaskan kapal perusak Khaibar.

Masih ada beragam kisah ‘penugasan’ Styx diberbagai belahan dunia, seperti pada kampanye militer pada krisis rudal Kuba pada tahun 1962. Bahkan varian Styx buatan Cina, yang disebut “Silkworm” juga dilibatkan dalam perang Iran – Irak di tahun 1980 – 1988. Kiprah tempur terakhir keluarga Styx dibuktikan dalam perang Teluk di tahun 1991, saat itu dua rudal Silkworm ditembakkan ke arah kapal penjelajah USS Mussouri, salah satu diantaranya berhasil ditembak jatuh oleh rudal Sea Dart yang diluncurkan dari kapal perusak Inggris, HMS Gloucester.

Pihak lawan Uni Soviet, alias dari AS dan NATO rupanya telah berhasil mengacaukan kendali Styx lewat teknologi electronic countermeasures (jamming). Ini dibuktikan saat Styx digunakan oleh Suriah dan AL Mesir dikala melawan Isreal dalam perang Arab – Isreal.

Hingga kini ribuan Styx dan kloningannya Silkworm dipercaya telah diproduksi ribuan unit. AL Jerman Timur setelah reunifikasi memberikan hampir 200 Styx ke AL Amerika di tahun 1991, terutama dari versi P-15M/P-22. AL Amerika menggunakan Styx untuk tes pertahanan rudal. Untuk Indonesia, Styx memang sudah tinggal kenangan, tapi setidaknya kita boleh berbesar hati sedikit, di Asia Tenggara hanya Indonesia dan Vietnam yang pernah menggunakan rudal sangar ini. 

Spesifikasi Styx/P-15 Termit
Asal : Uni Soviet
Produsen : MKB Raduga
Berat : 2,340 kg
Panjang : 5,8 meter
Diameter : 0,76 meter
Hulu ledak : 500 kg
Penggerak : roket berbahan bakar cair/booster dengan roket berbahan bakar padat
Lebar sayap : 2,4 meter
Jangakaun : 80 km, efektif 40 Km
Kecepatan : 0,9 Mach
Ketinggian Terbang : 100 -300 meter di atas permukaan laut
Pemandu : sistem auto pilot, radar aktif, dan infra merah
Platform peluncuran : kapal perang dan ground launch.