Tuesday, November 23, 2010

Kapal Selam Serang Kelas Scorpene

Kapal Selam Serang Kelas Scorpene

Jika ditelisik asal usulnya, maka kapal selam serang kelas Scorpene terbilang unik. Betapa tidak. Leluhurnya saja ada tiga, yakni kapal selam kelas Agosta, Daphne dan Le Triomphant. Jika Agosta dan Daphne merupakan kapal selam konvensional bertenaga disel maka Le Triomphant kapal selam bertenaga nuklir yang mengusung rudal balistik.
Perancangnya mengklaim Scorpene merupakan bentuk pengejawantahan langkah aplikasi teknologi terkini kapal selam bertenaga nuklir kepada kapal selam bertenaga disel. Berkat rancang bangunnya yang menganut sistem modular maka Scorpene mudah dibangun dalam aneka varian. Pola rancang bangun macam ini telah lebih dulu diadopsi kapal selam tipe U-209 karya Howaldtswerke Deutsche Werft AG (HDW), Jerman. Sebagai catatan salah satu varian kapal selam kelas 209 juga dimiliki TNI AL.
Sebagaimana halnya kapal selam modern pada umumnya Scorpene juga mengadopsi bentuk konstruksi rangka badan model ‘tetes air mata’ berlunas tunggal (single teardrop hull form). Model rangka badan ini pertama kali dipakai kapal selam riset AL AS USS Albacore dan kemudian jadi acuan bentuk konstruksi rangka badan kapal selam masa kini. Bentuk konstruksi ini dianut semua varian Scorpene.
Namun dalam perkara ukuran dimensional dan bobot operasional mereka berbeda. Untuk varian baku (basic) panjang 66,4 meter, lebar 6,2 meter, dan tinggi garis air (draft) 5,8 meter. Sementara varian basic-AIP yang diklaim kedap sonar (stealth) panjang badan mencapai 76,2 meter, lebar 7,1 meter, dan draft 6,65 meter. Tetapi untuk varian compact yang sekilas tampilannya lebih kecil, ukuran panjang, lebar, dan draftnya memang sedikit lebih pendek, yakni 59,4, 5,6, dan 5,2 meter.
Itu baru soal panjang badan total. Dalam hal bobot kapal baik di saat terapung di permukaan laut maupun kala melayang di bawah permukaan laut kondisinya pun setali tiga uang. Ketiga varian Scorpene ini tetap saja tak bisa akur. Bobot apung varian babisa akur. Bobot apung varian basic 1.700 ton, basic-AIP 2.000 ton, dan varian compact 1.450 ton. Sedangkan bobot layangnya 1.790 hingga 2.010 ton tergantung kepada tipe varian dan modifikasi peralatan operasionalnya. Yang unik justru adalah meski bobot layang ketiganya berbeda, tapi kecepatan maksimum berlayar di permukaan lautnya identik, yakni 12 knot.
Hanya saja dalam soal kecepatan maksimum di bawah permukaan laut yang bisa akur hanya varian basic dan basic-AIP yakni sama-sama 21 knot. Sedangkan varian compact hanya 15 knot.
Badan Scorpene generasi awal terbuat dari lapisan baja yang tahan tekanan tinggi (high yield stress steel) tipe 80HLES. Berkat bahan baja yang juga dipakai kebanyakan kapal selam bertenaga nuklir AL Perancis ini semua varian Scorpene sanggup menyelam hingga kedalaman 300 meter. Khusus untuk varian compact, mengingat struktur rangka badannya agak beda dari kedua saudara tuanya, maka kemampuan selamnya terbatas hanya mencapai 200 meter.

Pada Scorpene generasi terkini kabarnya sudah mengadopsi lapisan baja tahan tekanan tinggi tipe 100HLES. Daya tahannya sekitar 25 persen di atas 80HLES. Dengan begitu diperkirakan Scorpene generasi terkini sanggup me-nyelam pada kedalaman lebih dari 350 meter.
Guna mendukung kinerja seperti ini Scorpene butuh tenaga listrik dan tenaga propulsi yang cukup besar. Hingga kini pabrikannya masih merahasiakan jenis mesin disel penghasil tenaga listrik yang dipakai. Tapi diduga ada dua mesin disel besar atau empat mesin disel kecil tipe turbocharged bersemayam di ruang mesinnya. Tiap tipe kumpulan mesin diyakini sanggup menghasilkan tenaga hingga 2.500 kilo Watt. Tenaga listrik ini akan menyusut jika Scorpene bergerak pada kecepat-an lambat atau bahkan sangat lambat.
Saat kecepatan jelajahnya delapan knot penyusutan tenaga gerak Scorpene 25 persen sedangkan jika kecepatannya empat knot penyusutan 10 persen. Jika sampai terjadi kondisi darurat maka ada generator tenaga listrik yang bisa memasok tenaga listrik 2.900 kilo Watt selama dua hari. Sedangkan untuk sistem propulsinya Scorpene mengandalkan satu motor magnet permanen berdaya 3,5 Mega Watt lansiran Leumont Industries.
Berkat berbagai mesin peng-hasil tenaga gerak ini Scorpene diklaim bisa beroperasi di lautan selama 45 hari tanpa henti dan menempuh jarak jelajah hingga 6.400 mil laut tanpa harus kembali ke pangkalan barang seharipun.
Dalam setahun Scorpene bisa berlayar selama 240 hari. Jika perlu Scorpene bisa berkeliaran di bawah permukaan laut tanpa terdeteksi suaranya oleh perangkat sonar musuh (non snorting endurance) selama hampir lima hari dengan kecepatan jelajah empat knot berkat keberadaan satu jenis baterai berkerapatan tinggi (high density battery).
Agar lebih sulit terdeteksi seluruh dinding bagian dalam Scorpene dilapisi bahan khusus yang bisa meredam kebisingan suara yang dihasilkan mesin disel penghasil tenaga gerak dan mesin penggerak tuas pemutar baling-baling tunggal berbilah tujuh.
Agar bisa bekerja maksimal, Scorpene varian basic dan basic-AIP butuh 31 personil untuk mengoperasikannya selama 24 jam. Sedangkan varian compact cuma butuh 22 orang. Selain personil pengawak, Scorpene varian basic masih sanggup menampung tambahan muatan sebanyak enam orang.
Jumlah total ini jauh lebih sedikit ketimbang jumlah awak kapal selam bertenaga nuklir yang butuh 45-50 awak. Sementara teknologi kapal selam negara berkembang umumnya berbasis pada teknologi kapal selam dari era 1960 dan 1970-an. Konsorsium DCNS-Izar mengintegrasikan teknologi kapal selam bertenaga nuklir produk dekade 1990-an kepada kapal selam bertenaga disel yang terkenal mudah dan murah pengoperasiannya.

Disesaki peralatan canggih
Guna memantau kondisi perairan di sekelilingnya Scorpene dibekali perusahaan elektronik Perancis, Sagem, dengan periskop serang yang dapat keluar dari dan masuk ke dalam menara kapal selam (hull penetrating attack periscope) tipe CKO-48/CHO-98 plus perangkat pengamat berbasis teknologi elektronik-optik ber-ujud tiang statis pada menara kapal selam (non penetrating optronics surveillance mast) dari Thales Optronic Systems.
Semua kegiatan operasi kapal dikendalikan IPMS (Integrated Platform Management System - Sistem Manajemen Landasan Terpadu) yang dilengkapi perangkat lunak komputer kedap usikan elektronik dan layar tayang nan lebar. Alat ini buatan CAE Shipmaster. Dengan memadukan aneka peralatan kendali operasi di bawah IPMS maka perancang Scorpene mengklaim barang ciptaannya dapat dikendalikan oleh hanya satu awak.
Hidung pengendus Scorpene banyak ragamnya. Secara garis besar terdiri dari seperangkat sensor bawah permukaan laut (subsurface sensors) dan sensor atas permukaan laut (above water sensors). Perangkat sensor bawah permukaan laut dilansir Thales, tersusun dari sejumlah sistem array. Meliputi array silindris jarak jauh (long range cylindrical array), array penyergap aktif (active intercept array), array penje-jak pasif yang sinyalnya dapat ter-distribusi (distributed passive ranging array), array pendeteksi keberadaan ranjau (mine detection array), dan flank and towed arrays. Sementara perangkat sensor atas permukaan laut mencakup radar tipe 1007 buatan Kelvin-Hughes yang bekerja pada pita gelombang I dan peralatan penghimpun data intelijen secara elektronik (ESM) tipe AR900 lansiran Condor Systems.
Seluruh sistem senjata yang bermukim dalam perut Scorpene sepenuhnya dikendalikan oleh sistem pengendali tempur terpadu taktis SUBTICS. Merupakan kependekan dari SUBmarine Tactical Integrated Combat System, perangkat kendali dijital buatan Underwater Defence Systems International ini sudah dipantek di semua kapal AL Perancis. Oleh perancangnya SUBTICS diklaim mampu mengolah semua data hasil deteksi sekaligus melakukan melacak dan menentukan lokasi sasaran seraya menentukan plus mengendalikan senjata yang dianggap cocok untuk menghancurkan sasaran itu. Basis SUBTICS adalah sistem perhitungan algoritma tingkat lanjut yang dikembangkan guna menganalisa gerakan setiap obyek di sekitar kapal yang dianggap berbahaya sembari memadu semua data hasil kegiatan deteksi dan pelacakan.

AIP-MESMA
Dari ketiga varian Scorpene maka basic-AIP terbilang unik. Pasalnya, varian ini mengadopsi teknologi AIP (Air Independent Propulsion – Propulsi Bebas Uda-ra) yang membuat Scorpene tetap bisa mengisi ulang baterai motor penghasil tenaga listrik tanpa harus muncul ke permukaan laut. Selama ini dengan mengandalkan bahan kedap suara selaku bahan pelapis bagian interior serta baling-baling berderajat kebisingan rendah kapal selam bertenaga disel bisa aman berlayar di bawah permukaan laut karena sukar terdeteksi peralatan sonar musuh. Meski begitu tetap saja ia rentan dipergoki kehadirannya saat harus mengisi ulang baterai generator listrik. Hal itu karena kapal selam harus muncul ke permukaan laut (kehadirannya dapat terdeteksi pesawat patroli bahari) dan tingkat kebisingan yang dihasilkan mesin disel saat mengisi ulang baterai lebih tinggi ketimbang takaran normal.
Untuk mengatasi masalah tersebut kini kapal selam dilengkapi sistem propulsi bebas udara (AIP). Ada banyak ragam sistem AIP. Mulai dari mesin Stirling, sel bahan bakar, hingga mesin disel sirkuit tertutup dan mesin sirkuit MES-MA. Sistem AIP yang disebutkan terakhir ini diadopsi Scorpene sehingga lahir varian basic-AIP. Kata MESMA merupakan kependekan dari Module d’Energie Sous-Marine Autonome. Sistem sirkuit tertutup ini memanfaatkan uap bahan bakar (hasil pemanasan campuran minyak solar dan oksigen cair) untuk menggerakkan turbin. Pada gilirannya turbin menghasilkan tenaga listrik 200 kilo Watt. Produk samping berupa gas karbon dioksida akan dikeluarkan dari badan kapal ke perairan di sekitarnya. Berkat sistem AIP tipe MESMA Scorpene dapat berkeliaran di bawah permukaan laut tanpa henti selama 18 hari.
Sekilas tampilan Scorpene varian basic dan basic-AIP yang mengadopsi MESMA tak begitu jauh berbeda. Perbedaan hanya terletak pada ukuran panjang badan kapal dan bobot saat menyelam varian basic-AIP yang sedikit di atas varian basic. Selain kedua faktor tersebut, boleh dikata kinerja keduanya nyaris identik. Sistem Senjata Pamungkas Ganda
Layaknya kapal selam bertenaga nuklir Scorpene juga mengadopsi sistem kendali senjata mutakhir. Maka selain torpedo sebagai sista utama, Scorpene bisa menembakkan rudal balistik. Demi pertimbangan kepraktisan dan tentu juga faktor harga jual, perancang Scorpene memasang jenis rudal balistik berbasis di kapal selam yang dapat ditembakkan melalui tabung peluncur torpedo. Dengan begitu selain tidak perlu ada ruang khusus untuk menyimpan rudal dengan posisi berjajar vertikal (guna memudahkan penembakan) di dalam badan kapal juga jumlah rudal yang dibawa bisa lebih banyak bila disimpan dalam posisi berjajar horisontal.
Perancang Scorpene masih mempercayakan tabung peluncur torpedo tipe konvensional yang bekerja dengan mekanisme pompa turbin udara (air turbine pump) sebagai sarana peluncur torpedo. Pada haluan Scorpene ada enam tabung peluncur berdiameter 533 milimeter yang bisa dipakai menembakkan torpedo, rudal balistik, atau pun ranjau laut. Tidak jauh dari posisi tabung peluncur torpedo terdapat rak tempat 12 torpedo cadangan atau 30 ranjau laut.
Jenis torpedo andalan Scorpene adalah tipe F17 Black Shark berbobot 1,5 ton lansiran kon-sorsium DCNS-Whitehead Alenia Sistemi Subacquei (WASS). Sebelum Scorpene, Black Shark telah dipakai pada kapal selam bertenaga nuklir kelas Barracuda. Black Shark hasil pengembangan torpedo kelas ringan MU-90/IMPACT produksi Eurotorp. Semula dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan AL Italia mempersenjatai kapal selam baru kelas U-212A. Awalnya dinamai torpedo A-184 Advanced (1997). Pertama kali muncul pada 20 November 2004 dan segera dipesan AL Italia, Perancis dan ketiga negara operator Scorpene. Jangkauan jelajah Black Shark 50 kilometer yang dapat dicapai dalam tempo 15 menit dengan kecepatan jelajah maksimum 52 knot. Khusus Scorpene milik Malaysia, dipakai Black Shark varian baru yang lebih ringan, jangkauan jelajahnya 30 kilometer, kecepatan jelajah maksimum 35 knot, dan bisa beraksi di kedalaman 600 meter.
Motor penghasil tenaga gerak Black Shark tipe brushless axial flux tipe PB50. Tenaganya dipasok baterai alumunium-perak ok-sida (Al-AgO) buatan SAFT Batteries, Perancis. Baterai tipe ini dua kali lebih kuat ketimbang baterai perak-seng (Ag-Zn) yang saat ini dipakai kebanyakan torpedo. Masa pakai baterai Al-AgO mencapai 12 tahun berkat adanya sistem manajemen elektrolit. Sedangkan agar handal menyasar semua jenis sasaran Black Shark mengadopsi pemandu arah gerak akustik pasif / aktif tipe ASTRA (Advanced Sonar Transmitting & Receiving Architecture), sensor penjejak multi sasaran, sistem jaringan pemandu berbasis teknologi serat optik, dan alat penetralir peralatan gelar perang elektronik musuh. ASTRA beroperasi pada gelombang suara frekuensi pasif 15 kHz dan frekuensi aktif/pasif 30 kHz. Berkat kemampuan operasi ganda ini, Black Shark mampu membedakan sinyal elektromagnetik dari sasaran dengan sinyal elektromagnetik dari peralatan akustik pengecoh.
Sebagai alternatif Black Shark, tersedia torpedo Mk.48 ADCAP (ADvanced CAPabilities) yang berbobot 1,68 ton dan keluaran tahun 1989. Torpedo ini hasil pengembangan Mk.48. Sista bawah permukaan air sepanjang 5,8 meter dan berdiamater 533 milimeter ini dapat beraksi dengan atau tanpa bantuan kawat pemandu serta mengandalkan sistem pemandu arah gerak pasif/aktif (active/passive homing device). Meski terbilang sista konvensional tapi karena mampu beraksi pada kedalaman 900 meter dengan kecepatan jelajah hingga 55 knot serta sanggup menjangkau sasaran hingga sejauh 38 kilometer torpedo Mk.48 ADCAP dipercaya AL AS memperkuat kapal selam bertenaga nuklir kelas Los Angeles, Ohio, dan Sea Wolf. Di luar AS, Australia banyak mengakuisisi torpedo berhulu ledak seberat 295 kilogram ini.
Selain torpedo kelas berat, Scorpene juga dimodali rudal balistik untuk melumat sasaran kapal perang permukaan laut. Yang terpilih rudal Exocet varian SM39 Blok 2 buatan MBDA, Perancis. Rudal sepanjang 4,7 meter, ber-diameter 350 milimeter, dan dengan lebar rentang sirip 1,1 meter ini mulai dikembangkan Aerospatiale pada tahun 1975. Sistem pemandu arah gerak rudal subsonik berhulu ledak seberat 165 kilogram ini terdiri atas alat navigasi inersial dan radar pencari sasaran aktif berfasa terminal (active radar seeker for the terminal phase). Untuk meluncurkan SM39 yang berbobot mati 0,66 ton ke permukaan laut dengan kecepatan jelajah Mach 0,93 dapat dipakai tabung peluncur torpedo konvensional. Jangkauan jelajah SM39 ka-barnya bisa mencapai hingga 50 kilometer

No comments:

Post a Comment